
Beberapa waktu berlalu, Dinda yang pura-pura tidur sudah pulas. Tanpa susu dan tanpa berbaring sambil ditemani, hanya dengan tangan Aldo yang mengusap keningnya. "Bawa ke kamar," ucap Aldo menoleh ke arah Luna.
"Bentar, aku siapin dulu tempatnya." Luna beranjak dari duduk.
Tyo tak heran dengan kelembutan Aldo pada si kembar, bahkan sampai mampu menidurkannya. Bukan hanya kali ini, sering Aldo melakukan hal itu. Walau memang Dinda yang lebih sering, karena jika Rendi yang dipangku lebih dulu, maka Dinda akan menunjukkan sikap cemburu dan menarik adiknya atau terkadang menangis kencang.
Di kamar, ketiga bocah yang tadi bermain pun, rupanya sudah terlelap bersama di atas ranjang. Tak ada tempat bagi Dinda tidur, Olivia menyarankan agar Dinda tidur di kamarnya saja. Tapi itu tak mungkin, karena setiap malam Dinda akan terbangun dan menangis jika tak ada maminya. Diminta tidur bersama, Luna pun tak enak.
Mengambil kasur untuk dirinya tidur bersama Dinda di kamar, tanpa mengusik ketiganya. Luna menggelar kasur itu di bawah tak jauh dari ranjang, lalu ke depan menghampiri Aldo. Mengambil tubuh Dinda perlahan, semakin panas hati dinas melihat kedekatan keduanya. Ia hendak beranjak, tapi Tyo menghentikan agar tak ada keributan. "Cuma ambil Dinda," lirih Tyo berbisik.
Sudah menggendong Dinda dan membawanya ke dalam, Aldo mengikuti untuk berpamitan. Melihat adanya kasur di atas lantai, dia berdiri di luar kamar Luna yang tak jauh dari ruang TV. "Jangan tidur di bawah!" kata Aldo, menoleh perempuan yang sedang meletakkan tubuh putrinya perlahan. Ketiga orang yang tetap di ruangan TV pun memperhatikan tanpa bicara.
"Kasihan, Lun. Tidur di kamar atas aja, kamarku juga kosong kan? nanti biar Rendi aku yang gendong. Atau tidur di kamar Lia kan bisa," tambah Aldo.
Tersenyum Olivia ke arah suaminya, Luna keluar dari kamar usai menyelimuti tubuh Dinda. "Gak apa-apa, lagian juga aku kasih alas selimut tebel kok. Gak bakalan masuk angin," ucap Luna.
"Keras kepala banget!" jengkel Aldo.
"Kakak mau pulang?" tanya Luna mengalihkan pembahasan, tak didapat jawaban dari lelaki yang mencium tangan Olivia dan Dony.
"Nginep sini dong, Nak. Kan udah lama," pinta Olivia.
__ADS_1
"Kapan-kapan aja, Ma." Aldo menjawab.
"Nanti kalau udah nikah juga tidurnya disini terus, Ma. Iya gak, Do, Lun?" sahut Bobby memainkan alis naik turun ke arah keduanya.
"Aamiin," kata Dony dan Olivia serentak. Ketiganya menatap ke arah suami istri yang refleks menanggapi.
"Ih, aamiin loh!" membulat kedua mata Bobby.
"Kan ucapan itu dia, jadi ya di aminin aja. Salahnya dimana?" santai Olivia.
"Iya, aamiin. Doanya aja biar dikasih jalan sama Tuhan," sahut Aldo semakin membulat kedua mata Bobby juga lainnya.
"Barusan Aldo?! yang ngomong Aldo?!" cecar Bobby mengusap telinganya sendiri.
"Kakak sih!" kesal Luna dan pergi.
Olivia dan Dony tersenyum, saling melirik satu sama lain. Jelas saja terkejut, biasanya juga mengelak sekuat tenaga. Kadang juga malas untuk menanggapi, tapi kali ini justru menjawab lain. Bobby mulai bercerita tentang apa yang dipertanyakan pada Aldo di rumahnya, Olivia menyimak dengan dengan wajah tak menyangka. Tapi Dony kembali mengingatkan untuk tak ikut campur lebih dalam atau mendesak, biarkan saja semua mengalir seperti apa jalannya Tuhan.
Luna mengantar sampai teras, menunggu sampai Aldo pergi. Tak lupa ia berucap terima kasih, karena Aldo bersedia mengantarkan untuk mengirim barang tadi dan juga membantu Dinda tertidur. Memang sedikit berbeda dari kebiasaannya, kini juga lelaki itu tersenyum sewaktu diucapkan kata terima kasih. Biasanya, Aldo tak menggubris, karena tak menyukai.
Tak lama, Tyo berpamitan dengan Siska dan Dimas. Brian yang sudah terlelap, dibiarkan oleh Dimas atas keinginan dari Olivia. Kasihan jika harus dibangunkan, besok juga bisa mengantarkan seragam untuk Brian. Lagi pula, rumah pun tak begitu jauh dan Dimas setuju meski tak enak hati.
__ADS_1
Berpamitan pada Luna yang tetap berdiri di teras rumah, pergi ke mobilnya dalam suasana hati yang semakin tak enak. Mungkinkah ia salah untuk datang? mungkinkah salah untuknya kembali berharap? kenapa semakin ia berharap, semakin kedekatan antara Aldo dan Luna menjadi? apa yang harus ia lakukan? Dimas mempertanyakan semua itu dalam hatinya.
Sejenak duduk di teras rumah setelah kedua mobil yang dikemudikan oleh Tyo dan Dimas pergi. Luna terdiam seorang diri, terbesit akan ekspresi dari Dimas sedari tadi. "Maaf," ucapnya lirih.
Benar-benar tak ingin mengacuhkan, tapi harus ia lakukan agar lelaki itu tak lagi berharap pada hubungan yang sudah kandas dan tak ingin untuk dimulai lagi. Tidak mencintai? bohong untuk hal itu! paling tidak masih ada walau sedikit, bagaimanapun juga Dimas adalah cinta pertama untuknya. Banyak hal telah dilalui bersama, tak mudah baginya untuk melupakan.
Namun lubuk hati terdalam, Luna serius akan keputusannya untuk tak lagi menjalani bersama Dimas. Bukan tentang dirinya, tapi juga tentang keluarga dan seseorang yang masih berharap untuk bersatunya kembali sebuah ikatan pernikahan. Tak pernah ingin berjanji, tapi akhirnya ia juga terbelenggu pada janjinya sendiri.
Sudahlah, dia mempercayai jika semua juga atas izin dari Tuhan. Entah tentang sebuah janji atau permintaan dari seseorang yang memang tengah dalam keadaan tidak berdaya juga menyesal. Tak ada satupun yang terjadi tanpa izin dari Tuhan, Luna meyakini hal itu.
Bayangan tentang wajah Dimas, tergeser oleh senyuman dari Aldo dan juga kata-kata yang menghiasi telinga. Nyaman, dia sangat nyaman dengan lelaki itu. Tapi apakah kenyamanan itu juga sudah berubah menjadi hal lain, Luna tak memahami sama sekali. Tapi dia menyukai ucapan Aldo, hatinya merasakan sebuah kebahagiaan tersendiri.
Berangsur untuk berkurang perasaan terhadap Dimas, akankah itu sudah digantikan dengan sosok Aldo? entahlah. Sulit untuk dipahami tentang urusan hati, karena dia sendiri tak pernah ingin memahami hal itu. "Kerja, Luna! kamu sama anak-anak gak makan pakai cinta!" ucapnya menyemangati diri sendiri.
"Tapi cinta bisa bikin enak makan, apalagi kalau cintanya dari dia!' terdengar suara, Luna menoleh ke arahnya. Bobby sudah berdiri dan bersandar pada daun pintu, memperhatikan adiknya.
"Apaan sih, Kak?" mengernyit kedua alis Luna.
"Suka kan? kelihatan banget kalau suka sama Aldo, ngaku aja. Gak bakalan kena pinalti juga," kata Bobby santai.
Luna menunjukkan senyumnya, lalu berdiri dan masuk untuk memulai pekerjaan malam ini. Laptop sudah memanggilnya, siap untuk bersahabat baik malam ini. "Pakai malu lagi," gumam Bobby, memang melihat senyum tipis Luna dari ruang TV tadi juga ekspresi saat ini.
__ADS_1