Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Pecah


__ADS_3

mendengar Esa berpamitan pulang membuat tangan Ola reflek terkepal sehingga mangkuk di tangannya terjatuh. kenapa Esa tega meninggalkan dirinya padahal lelaki itu tahu ketakutannya akan suara guntur? kenapa juga memberinya harapan akan kedatangan lelaki itu jika pada akhirnya akan pergi lagi?


"La, kamu nggak papa?" Esa langsung mendekat ke arahnya


"panas?" gumam Ola begitu Esa menariknya lalu mendudukkannya di kursi meja makan


"mana yang panas, sayang?" Tangan Esa yang tadinya memegang kedua tangan Ola memeriksa sekiranya tubuh sang istri yang terkena panas


tapi panas dari mana? bukankah kuah soto sudah ia habiskan tanpa sisa?


"badan kamu yang panas" ujar Ola membuat pergerakan Esa terhenti lalu kemudian melepaskan tangannya dari Ola


"kamu... demam?" lanjut Ola bertanya sembari menelisik gerak-gerik sang suami


"nggak" dusta Esa, lalu lelaki itu mengambil jarak dengan melangkah mundur dua kali


Esa memang menyadari jika kondisi tubuhnya sedang drop. mulai dari siang saat ia memesan makanan untuk mengisi perutnya yang terlambat sarapan namun makanan terasa pahit di tenggorokan sehingga ia tak berselera, mana kepalanya berdenyut nyeri semakin sering. meski begitu Esa tetap berjuang menemui pak Broto yang seharian penuh memiliki jadwal padat, namun yang ada ia seperti dipermainkan oleh lelaki tua itu. bahkan Esa sampai rela berkunjung ke kediaman pak Broto yang tetap saja berakhir sia-sia.


sepulang dari rumah pak Broto, Esa tak kuat lagi mengemudikan mobilnya akibat pandangan yang mulai berkunang-kunang, jadilah ia menelpon Han untuk menjemputnya. Han sudah menyarankannya ke rumah sakit sebelum kondisinya makin parah namun Esa justru meminta sang sekertaris untuk membeli soto di restoran favorit Ola lalu meminta Han mengantarnya ke kawasan apartment Warhol Residence


* * *


Ola menggigit bibir dalamnya melihat lelaki bertubuh proporsional yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang cukup menggelikan


"La, ini celananya ketat banget. nggak ada yang lebih besar lagi dari ini?" ujar Esa memperlihatkan pahanya yang nyaris tercetak dibalik celana pendek setengah paha berwarna kuning pastel


"nggak ada" jawab Ola berusaha biasa saja padahal sejujurnya tawanya matian-matian ia tahan. takut kalau tawanya pecah laki-laki itu malu dan memilih pulang ke rumah. Ola tidak mau Esa pergi, paling tidak malam ini ada yang menemaninya sehingga ia tak perlu melewati malam dengan ketakutan akan suara gemuruh guntur


"kamu ada sarung nggak? ini sesek banget si adik" Esa memelas sembari mencubit kain tepat pada bagian selang-kangannya "dia nggak bisa napas, Yang" lanjutnya lagi melebih-lebihkan. padahal sebenarnya celana Ola tidak seketat itu di pinggangnya, buktinya masih ada cela dua jari di masing-masing sisi paha si pria. hanya saja ya, pada bagian itu memang sedikit menonjol, apalagi Esa tak memakai dalaman.

__ADS_1


tinggi tubuh mereka memang hanya beda 5 cm, tubuh Ola pun juga cukup berisi, berisi bukan karna lemak, dalam artian tubuh Ola semok sehat sehingga mereka bisa menggunakan pakaian satu sama lainnya.


"nggak ada sarung. buruan pakai bajunya" suruh Ola kemudian


Esa hanya bisa menghela napas lalu memakai kaos overseas warna putih milik Ola yang ketika melekat ditubuhnya cukup pas. hanya saja gambar bibir besar berlipstik merah pada bagian depan baju kaos cukup mengerikan di mata Esa


kenapa kalau Ola yang memakainya, Esa tak merasa terganggu, tapi begitu dirinya, rasanya memalukan melihat ada bibir lain di dadanya. andai saja bibir itu bibir sang istri pasti lebih baik.


"apa demam bisa mengakibatkan si penderita jadi gila?" monolog Ola melihat Esa malah senyum-senyum


"mas lagi bayangin bibir ini bibir kamu, Yang" celetuk Esa sembari mendudukkan diri di samping istrinya


"udah sana istirahat" usir Ola dengan kode kepalanya ke arah ranjang


"sama" ajak Esa


"nggak. aku di sofa aja" Ola lalu mengambil ponsel dan mulai membuka aplikasi sosial medianya


'jangan berpikir aneh-aneh kau Esa. tubuhmu kena air saja kau menggigil' peringatnya dalam hati


Ola mengizinkannya tinggal saja sudah suatu keberuntungan untuknya. rasa lelahnya bahkan sakit kepalanya sedikit terobati begitu bisa menatap sang istri lebih lama


"kamu mau tidur di sofa?"


"iya"


"sempit, La"


"muat"

__ADS_1


"di ranjang ya? temani mas. mas janji nggak akan macam-macam, hanya tidur" Esa tak kehabisan akal membujuk sang istri


"lagian mas nggak ada tenaga untuk bertempur" lanjut Esa berhasil memancing sebelah kening Ola terangkat dengan mata tertuju pada wajah pucatnya.


"hujan-hujan gini, seperti biasanya suasana yang kita sukai ketika bercinta. gimana kalau aku mau main?" celutuk Ola menantang, lalu senyum miring terpatri tipis di sudut bibirnya begitu melihat Esa malah mematung, tampak keberatan


pesan nomor asing di ponsel Esa membayangi pikirannya, membuatnya kesal sendiri


"aku cuma bercanda" sahut Ola sebelum Esa menjawab ajakannya "kekasihmu bisa mengamuk sama aku. bisa di santet aku sama dia karna menggoda pacarnya" sindir Ola terang-terangan.


"La... Dewi bukan lagi ke--"


"kalian berdua itu pasangan kekasih paling serasi--" sela Ola dengan ekspresi muaknya yang kentara "--semoga hubungan kalian langgeng, sebentar lagi kamu akan sangat berbahagia karna bisa menikahi kekasih--"


"sudah mas katakan berulang kali, kalau mas sama Dewi sudah tidak memiliki hubungan apa-apa, bahkan sebelum kamu pergi dari rumah. mas pilih kamu, sayang" Esa memotong ucapan Ola, lelaki itu nyaris putus asa menjelaskan perasaannya yang kini semuanya berlabuh pada sang istri. kepalanya yang berdenyut semakin berdenyut di dera rasa frustasi sekaligus


"apa aku harus percaya? kamu saja menyebut namanya dengan perasaan sedalam itu"


Esa tercengang dibalik rasa kalutnya, dari semua kalimatnya kenapa Ola malah fokus dengan nama Dewi yang menurutnya ia sebut tanpa makna apa-apa. sungguh dirinya hanya ingin meyakinkan sang istri untuk percaya akan kejujurannya semata.


apa Ola benci kalau ia menyebut nama Dewi dengan mulutnya?


"maafkan mas kalau terlambat sadar, tapi percayalah mas sama dia itu udah nggak ada hubungan apa-apa lagi selain masalalu, La" jelas Esa lebih lembut "kamu, hanya kamu tujuan mas saat ini dan juga di masa depan" lanjut Esa


hening mengambil alih, hingga entah menit ke berapa tangis Ola akhirnya pecah, ia tak kuat lagi menahan diri untuk terlihat tegar padahal hatinya tengah sekarat, ia tak mampu lagi menjalankan peran sebagai wanita yang pantang menangisi perbuatan laknat sang suami. malam itu Ola tak kuat lagi berpura-pura di hadapan Esa


Ola bahkan tak melawan ketika Esa memeluknya, menggumamkan ribuan maaf dan ribuan kecupan di pucuk kepala sang istri


"maafkan mas, sayang"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2