
Setelah kedatangan Luna ke rumah, melihat langsung bagaimana kedekatannya bersama Aldo, Dimas tidak bisa untuk lebih tenang. Tekad dibulatkan olehnya, mendatangi kediaman Dony untuk kembali meminta putri mereka. Berbekal niat tulus dalam hati, ia pun mempersiapkan tentang jawaban akan diberi.
Malam hari tepat di hari kedua setelah Luna datang, Dimas mendatangi rumah Dony tanpa pemberitahuan di awal. Sudah, dia sudah pernah mengatakan hal sama sebelumnya, tapi Dony menyerahkan pada Luna tanpa mau untuk ikut campur.
Berpakaian rapi, datang bersama putranya yang memang ingin bertemu si kembar dan Aulia, Dimas telah merangkai banyak kata selama perjalanan. Lelaki berlesung pipi itu, memang bingung harus memulai darimana. Tapi jika ia berada dalam kebingungan terus-menerus, maka bukan tak mungkin jika kehilangan akan jauh lebih menyakitkan untuk terjadi sekali lagi.
Dibukakan pagar dan langsung memasuki halaman, Dimas dan Brian turun membawakan beberapa makanan untuk anak-anaknya. Berdiri di teras rumah menunggu pelayan yang sedang memanggilkan majikannya, Dimas merapikan jaket yang ia kenakan untuk melapisi kaos oblong putih.
"Ngapain?!" sinis Bobby, melihat adanya Dimas.
"Mau ketemu sama papa," jawab Dimas.
"Gak ada! Pulang aja!" sahut Bobby lagi, wajahnya berpaling ke arah lain.
Dimas terdiam sejenak, dia merasakan kebencian yang ditujukan padanya semakin jelas. Terlihat pria berkaos sederhana keluar, ia meminta untuk Bobby masuk bersama Brian, tanpa lupa untuk mempersilakan Dimas juga.
Duduk lebih dulu di sofa ruang tamu, lelaki pernah menjadi menantunya itupun ikut duduk. Berulang kali Dimas menelan salivanya, terasa gugup dan mengusap paha dengan telapak tangan. Pelayan membawakan secangkir minuman, ia mempersilakan agar dinikmati oleh dua orang duduk saling berjauhan.
"Luna enggak ada, masih antar barang ke rumah orang. Anak-anak ikut sama neneknya juga tadi," kata Dony. Memang hanya ada dirinya dan Bobby di rumah.
"Dimas ada perlu sama papa aja," jawab Dimas.
"Pa, Dimas gak mau kehilangan Luna sama anak-anak. Dimas minta izin buat dekati Luna lagi, dan berharap kalau papa sama mama bisa kasih restu. Dimas janji akan berubah lebih baik lagi dan gak akan nyakitin Luna," tulus lelaki yang pernah mengatakan hal serupa.
__ADS_1
"Jawaban papa tetap sama, tergantung sama Luna. Dia yang jalani, jadi kalau bisa bicarakan sama Luna aja." Dony menjawab tak jauh berbeda.
"Iya, Pa. Tapi, boleh Dimas tanya sesuatu?" sahutnya.
"Silakan," jawab pria berkacamata di depannya.
"Apa Luna sama Aldo punya rencana buat nikah?" tanya Dimas ragu.
"Papa gak ngerti soal itu, kamu tanya langsung ke Luna atau Aldo. Kalaupun emang ada, papa harap kamu bisa relain. Jalani hidup kamu dengan lebih baik, karena kamu juga tau kalau semua gak bisa di paksa. Kami gak mau ikut campur," jawab Dony.
Terdiam tanpa kata, Dimas harus apa jika memang rencana itu ada. Ya, memang lebih baik untuk bertanya pada yang bersangkutan tanpa lebih dulu menyimpulkan. "Dimas boleh tunggu Luna, Pa?" tanya kembali lelaki dalam perasaan tak karuan.
"Silakan," singkat Dony.
Dony memang tak ingin untuk turut campur lebih dalam, tak ada hak baginya untuk menjawab apa pun. Biarlah Luna yang menjawab, biar mereka berbicara sendiri. Orang tua hanya mendoakan yang terbaik, memberi restu dan bukan mengatur. Tak peduli siapa yang akan menjadi pendamping putrinya, Dony percaya jika Tuhan akan memberikan yang terbaik dari yang paling baik.
Meninggalkan Dimas untuk menantikan kepulangan Luna yang sedang mengirimkan barang pesanan orang, Dony memilih untuk masuk dan menghampiri Brian di ruang TV. Bocah itupun tengah menanti adik juga kakaknya, ditemani Bobby menyaksikan acara kartun.
Dia hanya kesal pada Dimas, tak menyukai Dimas karena sikap dianggap tak tegas. Semua hanya pada Dimas, bukan pada keluarga yang lain ataupun Brian. Walau Bobby tahu, jika Brian adalah anak kandung dari Rena, tapi bocah itu tak sepatutnya mendapat kekesalan yang sama.
Tak harus buta ketika tidak menyukai orang lain, memukul rata semua yang berhubungan dengannya. Anak kecil tak berdosa, mereka tak tahu permasalahan apa yang ada di antara orang tua. Tidak seharusnya untuk menyeret mereka dalam masalah, mencekoki dengan kebencian yang akan mempengaruhi pola pikir serta tumbuh kembangnya.
***
__ADS_1
Lebih dari satu jam Dimas menanti di teras rumah seorang diri. Tampak dua mobil memasuki halaman rumah, Dimas tahu itu milik siapa. Dia berdiri dan menatap ke arah mobil yang perlahan berhenti usai mematikan lampu. Terasa lega dalam hatinya dan ditunjukkan melalui senyuman. Tapi senyum itu pudar, tatkala ia melihat Luna turun dari mobil Aldo.
Tetap perempuan itu berjalan bersama Aulia. Si kembar ada dengan Siska juga Tyo di mobil lain, begitu juga Olivia yang memang ikut bersama. Mengantarkan pesanan orang, lalu pergi sejenak ke swalayan dan bertemu Tyo juga Siska disana. Aulia mencium tangan papinya, lalu masuk ke dalam karena Dimas berkata kalau Brian telah menantikannya.
"Ngapain disini, Mas?" tegur Tyo sembari menuntun si kembar bersama sang istri. Dimas mencium tangan Olivia, dan meletakkan telapak tangan diujung kepala Dinda lalu ditepis olehnya dan berlari masuk.
"Antar Brian, kamu sendiri ngapain?" jawab Dimas berkilah, lalu memberikan pertanyaan sama.
"Emang mau kesini ketemu sama Aldo sama Bobby, tadi ketemu di swalayan pas mau beliin camilan. Brian mana?" sahut Tyo.
"Di dalam," singkat lelaki yang memperhatikan Aldo tengah membawa kantong belanjaan berisi susu.
Memperhatikan kemana sorot mata itu tertuju, Tyo menunjukkan senyum paksa. "Aldo anterin Luna tadi, soalnya anak-anak ikut semua. Gak mungkin kalau bawa motor," kata Tyo walau tanpa ditanya.
Dimas mengangguk, dia tetap saja memperhatikan Aldo. Kantong belanjaan dibawa masuk olehnya, Luna sudah lebih dulu masuk setelah Dinda berlari tadi. Tyo mengajak kakaknya masuk, tapi Dimas tidak mau dan meminta tolong pada Siska agar memanggilkan Luna.
Adik iparnya itu mau, dia berjalan ke dalam rumah bersama Rendi. Tapi Tyo masih di depan, seperti keinginan dari kakaknya. "Mas, saran aku jangan desak Luna. Kita tau kalau dia gak suka di desak kan?" ucap Tyo, sepertinya ia tahu apa tujuan dari kedatangan Dimas.
"Mas gak bisa nunggu lagi," sahut Dimas.
"Kenapa mas gak lanjutin sama mba Rena atau nyari yang lain aja sih? Biarin Luna bahagia," ucap Tyo seperti apa yang ada dalam hatinya.
"Luna udah gak mau jalani lagi, mas lihat sendiri gimana acuhnya dia kan? Percuma kalau mas terus berharap kayak gini, itu cuma nyakitin diri mas sendiri. Mas tau kan gimana watak dia?" kata Tyo lagi.
__ADS_1
"Kenapa sih, Dek? Kenapa kamu kayaknya gak suka kalau mas deketin Luna lagi?" tanya Dimas memasang wajah tak enak.