
Pagi yang sama, namun tempat yang berbeda. Dimas baru kembali mengantar Brian ke sekolah, ada asisten rumah tangga menunggu di depan. Wajahnya tampak cemas, dia pun meletakkan kedua tangan di depan perut layaknya orang takut serta kebingungan.
"Kenapa, Bi?" tegurnya seraya menghentikan langkah.
"Itu, Pak. Maaf, di dalam ada ibu." Jawabnya seperti orang kebingungan.
"Ibu?! Luna?!" berbinar Dimas.
"Bu—bukan, Pak. Tapi ...," pelayan menggantung ucapannya.
Dia tak sampai melanjutkan kalimat, langkah kaki terdengar dari belakang. Dimas pun menatap kesana, itu memang bukan Luna yang sempat membuatnya ingin segera masuk. Berpikir jika perempuan itu yang datang, memberikan penjelasan yang dinantikan.
Akan tetapi, itu adalah Rena dan bukan Luna. Menatapnya terkejut, Dimas terdiam memperhatikan. Asisten rumah tangga berpamitan masuk, ia terlihat ketakutan dari ekspresi wajahnya. Perempuan dengan dress sederhana berwarna tosca itu menghampiri Dimas, kaki berhias heels melangkah perlahan.
"Ngapain kamu kesini?!" tegas Dimas memundurkan langkah.
"Aku mau ketemu kamu sama Brian, Mas." Jawabnya menyunggingkan senyuman.
"Brian lagi sekolah, kamu tunggu aja. Aku mau kerja," sahut Dimas dan berjalan masuk ke dalam.
"Mas!" tegur Rena menahan langkah Dimas, meraih tangan yang langsung dilepaskan.
"Aku tau kalau emang aku banyak salah, dan semua mungkin gak gampang buat kamu maafin. Tapi aku mohon, kasih kesempatan sekali lagi buat aku perbaiki. Aku mau kita jalani semuanya sekali lagi," ucap Rena.
__ADS_1
"Kamu tau kan artinya apa? kamu harus nikah sama orang lain dulu! itu udah jelas aku omongin ke kamu! lagian juga, aku gak mau buat jalani lagi. Aku lagi nyoba perbaiki hubungan aku sama Luna," jawab Dimas menyiratkan kesungguhan.
"Luna udah gak mau jalani lagi sama kamu," kata Rena.
Jelas perkataan itu menyentak Dimas, lagi-lagi semua yang pernah diperingatkan diulangi oleh Rena. "Udah aku bilang, jangan pernah ngomong apa-apa soal Luna! kamu gak ngerti apa pun, Rena! berhenti ambil kesimpulan sendiri!" tegas Dimas.
"Itu bukan kesimpulan aku sendiri, tapi emang Luna yang nyuruh aku datang kesini. Bukannya itu sama aja kalau dia gak mau lagi kamu dekati dia? kenapa kamu gak nyoba nerima kenyataan aja? aku yang peduli sama kamu, aku yang selalu nunggu kamu, bukan Luna. Kenapa kamu—" terpotong Rena.
"Cukup!" tegas Dimas membulatkan kedua mata. Pergi melewati tubuh Rena, urung untuk ke dalam rumah.
"Kamu mau kemana, Mas?!" teriak Rena melihat Dimas pergi ke mobilnya dan membuka pintu.
Jawaban tak diberikan, menoleh pun tak dilakukan oleh Dimas. Ia menyalakan kembali mesin, keluar dari halaman rumah hanya dengan kaos oblong serta celana pendek saja. Tidak, tidak untuk kali ini baginya. Cukup sudah ia dipermainkan oleh kata, ia harus mencari tahu segalanya.
Rena memang datang atas usul dari Luna, semua demi Brian yang pasti membutuhkan ibunya. Bagi Luna, seperti apa pun luka hati seorang anak, traumanya, dan rasa takut pada sang ibu, mereka tetaplah seorang anak yang pasti merindukan belai kasih ibu kandungnya sendiri.
Tak peduli bagaimana cara orang lain menyayangi Brian, mencintainya, pasti dalam hati juga berharap tentang sosok ibunya. Tak akan ada yang bisa menggantikan seorang ibu, tak akan ada yang bisa mengalahkan sosok ibu untuk anaknya. Itulah sebabnya Luna menyarankan Rena untuk datang.
***
Setibanya di rumah Dony, langsung saja Dimas mencari Luna dan harus menunggu sejenak. Perempuan itu pun baru kembali mengantar Aulia dengan motornya, dibawa oleh Dimas ke taman untuk berbicara agar lebih leluasa. "Apa sih, Mas?!" tanya Luna, berusaha melepaskan pergelangan tangan dari cengkeraman Dimas.
"Kamu nyuruh Rena buat balik lagi kesini?! maksud kamu apa?! biar aku gak ganggu kamu sama Aldo lagi?! kenapa?!" tegas Dimas sedikit meninggikan suara, matanya terlihat berapi-api sekarang, emosi mulai turut campur.
__ADS_1
"Aku emang saranin mba buat datang, tapi gak ada hubungannya sama aku apa kak Aldo." Jawab perempuan berjaket kulit pink tersebut.
"Jawab pertanyaan aku, Lun! kamu mau nikah sama Aldo?! dia udah lamar kamu?!" tanya Dimas menatap tajam.
Luna mengalihkan tatapan matanya, berusaha menghindari tatapan tajam yang diberikan oleh Dimas. Sepertinya lelaki itu sudah hapal, jika Luna ingin berkilah atau menyembunyikan sesuatu. "Lihat ke aku!" tegas Dimas.
"Ya!" singkat Luna, begitu mantap dengan binar mata serius.
"Enggak! aku gak akan pernah izinin kamu buat nikah sama siapapun!" tegas Dimas mencengkeram kembali pergelangan tangan Luna.
"Aku gak butuh izin kamu!" tak kalah tegas Luna.
"Oke! tunggu sampai aku mati!" kata Dimas menekan kalimatnya.
"Mau bunuh diri lagi? cuma itu yang kamu bisa? apa lagi yang kamu mau sebenernya?" tatap Luna ke arah mata Dimas.
"Aku cuma mau kamu, mau kita buat rawat anak-anak bareng. Aku salah, dan aku tau kalau aku emang udah sangat bodoh! tapi kamu juga tau kan, kalau aku sendiri juga tersiksa selama ini? sampai kapan kamu mau hukum aku? gak cukup sikap kamu kayak gini? apa masih kurang semuanya?" sahut Dimas.
"Aku juga udah bilang kalau aku gak mau balik lagi sama kamu! keadaannya udah beda, hati aku juga udah beda ke kamu. Apa kamu mau, aku balik tapi gak ada rasa sama kamu? aku balik cuma karena anak-anak aja? tolong, jangan kayak gini!" sahut Luna.
"Aku mau! gak masalah kalau emang itu cuma buat anak-anak, asal kamu ada sama aku! gak masalah kalau kamu emang udah gak ada perasaan sama aku, waktu bakal balikin perasaan kamu! aku terima semuanya, asal itu bisa sama kamu!" jawab Dimas, menggeleng kepala Luna dengan jawaban yang ia dengar.
"Gak masuk akal!" ucap Luna lirih.
__ADS_1