Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
kesibukan tiga anak manusia


__ADS_3

Ola melihat itu, walau Esa berusaha menyembunyikannya Ola jelas melihat kekecewaan dalam sorot mata lelaki itu sebelum meninggalkan apartemennya. sejujurnya ia merasa tak tenang, apalagi melihat raut wajah Esa yang kuyu seperti orang sakit atau mungkin kekurangan istirahat. bawah mata yang nampak hitam membuat Ola yakin sang suami tidak memiliki tidur yang cukup. meski begitu hatinya masih saja keras untuk peduli pada kondisi sang pria.


sakit hatinya masih mengudara diatas rasa pedulinya, bahkan ia dengan sengaja berlama-lama bersiap-siap demi menguji kesabaran Esa.


Dan Ola tak tahu bahwa banyak hal yang sudah Esa korbankan demi menunggunya. termasuk mengabaikan klien penting yang cukup berpengaruh dalam kemajuan perusahaan.


Esa mengabaikan rasa pening yang timbul tenggelam menghantam kepalanya, sebab ia harus bertanggung jawab penuh atas kelalaiannya pada tanggung jawab perusahaan demi urusan pribadinya.


"pak Broto tidak hanya menarik sahamnya, tapi juga menuntut ganti rugi. beliau sangat kecewa karna bapak tidak menemui beliau padahal dia sengaja mengosongkan jadwal demi bisa bertemu sesuai janji kesepakatan yang kalian sepakati" jelas Han sembari menyodorkan salinan berkas kerja sama, sebab yang asli sudah di robek oleh pak Broto


"papa sudah tahu masalah ini?" tanya Esa nyaris berbisik


"sepertinya sudah, pak Indra tadi juga sempat hadir, pasti dia sudah menyampaikan berita ini pada pak Barack"


"saya akan mengurus ini" putus Esa "apa ada jadwal penting lagi hari ini?" lanjutnya bertanya


"jam 10 nanti ada rapat evaluasi para karyawan khususnya divisi Operasional. setelahnya bapak ada jadwal berkunjung ke kecamatan Ngaliyan meninjau pematangan tanah"


Esa mengangguk, lalu memberi perintah pada Hansamu untuk mewakili dirinya. memang ada hal-hal yang memang bisa Esa limpahkan tanggung jawabnya pada sang sekertaris jika tidak menyangkut dengan orang-orang penting seperti salah satunya pak Broto. Esa akui ia salah memprediksi, ia pikir pak Broto tidak akan mengambil tindakan besar, bahkan sampai menuntut perusahaan dengan nominal lumayan besar, 5 triliun rupiah hanya karna dirinya telat datang dalam pertemuan sehingga perjanjian kerja sama yang sudah terjalin lama harus berakhir


tapi Esa maklum dengan kemarahan rekan bisnis yang sudah bekerjasama dengan perusahaannya selama 5 tahun lamanya itu. pedoman pengusaha adalah waktu sama halnya dengan uang, siapa sih yang tidak marah kalau harus menunggu lebih dari 30 menit lamanya dari waktu perjanjian yang Esa buat sendiri. apalagi Esa tak ada kabar sama sekali. sebab ia sengaja tidak menerima panggilan Han demi misi pribadinya yang juga gagal pada akhirnya. jadilah Esa kena sial double hari ini.


"pak Esa baik-baik saja?" tanya Han begitu menyadari wajah pucat sang bos


"hm" jawab Esa bergumam. walau ia merasa sedikit linglung tapi ia harus menyelesaikan masalah pak Broto secepat mungkin sebelum masalah perusahaan semakin membesar


lain halnya dengan masalah Esa, lain juga yang tengah Dewi alami. ia sudah diteror oleh mantan suaminya sebab belum juga mentransfer uang pada lelaki itu. wanita itu justru terlihat berjalan keluar dari bank dengan wajah lesu


rekeningnya tidak bisa digunakan lagi. tabungan dari uang bulanan yang Esa kasih juga hasil penjualan butik hilang tanpa jejak. uang 1m-nya raib seketika.


ketika Dewi frustasi atas kehilangan uangnya, Ola malah sibuk meliuk-liukan ujung pensil di atas kertas sehingga membentuk sebuah desain bangunan. pekerjaan sekaligus hobi yang membuatnya lupa akan kesedihan hatinya, termasuk lupa pada kegiatannya yang tadinya menunggu kabar dari sang suami. sejak tadi pagi Esa tak mengabarinya, hingga waktu pulang kantor tak ada satupun pesan dari lelaki itu.


Ola mulai berpikiran kalau Esa mungkin sudah lelah memperjuangkan maafnya.

__ADS_1


"ternyata hanya sebatas ini perjuangannya. dia memang tak pernah menginginkanku sebesar itu" gumamnya memandang keluar jendela kaca ruangannya. hujan masih awet mengguyur kota Semarang


* * *


"lo mau gue temenin, kalau mau gue otw sekarang"


"nggak usah. habis ini gue mau langsung tidur kok"


saat ini Ola dan ketiga sahabatnya tengah melakukan panggilan video, Awalnya mereka menggoda si pengantin baru yang kemarin malam resmi melepas status gadis dan perjaka, lalu merangkak ke obrolan pekerjaan dan lainnya. obrolan demi obrolan terus berlanjut sampai tak terasa panggilan telah berlangsung hampir dua jam. dan sebelum mereka mengakhiri panggilan, Claudia menawarkan diri untuk menemani Ola yang mereka tahu takut dengan suara petir. Ola yang tak enak menolak halus tawaran sang sahabat.


setelah panggilan terputus, Ola yang memang sudah bersiap tidur menaikan selimut hingga membungkus seluruh tubuhnya, hanya sesaat karna merasa panas. begitu menurunkan selimut sebatas leher, gemuruh Guntur disertai kilat yang membias dari celah-celah gorden membuat Ola kembali membungkus dirinya. hal itu berungkali kali ia lakukan dan membuat tangisnya nyaris pecah akibat didera rasa frustasi juga takut.


andai saja Esa ada... Ola segera menggeleng mengusir pikirannya. betapa tak tahu malunya sang otak memikirkan lelaki yang sudah tak peduli padanya


"pa, ma, Ola takut" Ola kini beranjak duduk menyander di kepala ranjang


"telpon Lau aja deh" monolognya sembari meraih ponsel. namun sebelum ia mendial kontak Claudia suara bel apartemen membuat jempol tangannya mengudara


keningnya mengerut, bertanya-tanya siapa gerangan yang bertamu di apartemennya pada waktu yang sebentar lagi berada diangka 9 malam. lagian ia baru menempati apartemen sejak dua hari lalu, tidak ada yang mengetahui... selain...


gegas Ola beranjak. perasaannya berdebar dan tanpa sadar mengharap kehadiran pria itu. entahlah, perasaan rindu kah atau hanya sekedar butuh kehadirannya karna takut


dan begitu pintu terkuak, ada kelegaan dalam hati sang perempuan melihat Esa berdiri dengan senyumannya disana. dalam hitungan detik netra mereka saling mengunci hingga suara Esa memecah keheningan


"boleh mampir?"


tak seperti biasa yang terang-terangan menolak kehadiran sang lelaki, kali ini Ola meminggirkan tubuhnya dan membuka pintu lebih lebar. hal itu sukses membuat sebelah kening Esa terangkat.


tak mau sang istri berubah pikiran, Esa segera beranjak masuk lalu menutup pintu kembali


"kamu udah makan? mas bawain soto. biasanya kamu kalau hujan-hujan gini suka makanan berkuah" ujar Esa menunjukkan tentengan di tangannya


sebenarnya Ola sudah makan, tapi perempuan itu tetap mengambil dua porsi soto dari tangan Esa lalu di bawanya ke dapur untuk disajikan di mangkuk

__ADS_1


lalu keduanya menikmati soto khas Semarang tanpa perbincangan apapun. diam-diam Ola melirik suaminya yang makan dengan lahap dan dalam hitungan menit soto Esa habis tak bersisa.


'apa dia begitu lapar?' batin Ola bertanya


dengan inisiatif, Ola menyodorkan mangkuknya ke hadapan Esa


"aku udah kenyang"


"sotonya nggak enak ya?" Esa malah bertanya dengan perasaan bersalah


"enak kok. aku hanya kenyang aja"


"kalau gitu kamu habisin"


"kamu jijik makan sisaku?" tuduh Ola membuat Esa melongo bingung


"kok nanya gitu sih"


"ya udah makan" suruh Ola tak mau ditolak


"itu buat kamu, La. kamu harus makan banyak. mas takut asam lambung kamu ka..."


"aku udah makan tadi" potong Ola "kalau nggak jijik makan dari pada mubadzir"


Esa yang memang baru bertemu makanan selama seharian penuh itu melahap sisa Ola setelah memastikan kalau perempuan itu sudah tidak kelaparan. sama seperti tadi, Esa menghabiskannya hanya dalam waktu singkat. setelah habis ia beranjak hendak mencuci bekas mangkuk namun tangannya di tahan oleh Ola


"biar aku yang cuci. kamu mandi sana" usir perempuan itu ketika mangkuk bekas soto sudah berpindah di tangannya


"mas mandi di rumah aja. makasih sudah menemani makan malam, mas pam..."


ucapan Esa terhenti begitu Ola tak sengaja menjatuhkan mangkuk sehingga berakhir menjadi beling di lantai


"La, kamu nggak papa?" tanya Esa panik

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2