Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Unperfect Marriage 9


__ADS_3

Hari berganti, waktu pun bergulir. Akhir pekan datang lagi, dimana Aulia sudah dihubungi untuk datang ke rumah sang kakek buyut dan menginap. Berbeda dari biasanya yang terkadang dijemput atau diantarkan oleh Aldo, sekarang Aulia ingin ikut pergi dulu ke mall bersama yang lainnya. Ada pula Dony dan Olivia yang ikut bersama, menemani si kembar bermain. Akhir pekan biasanya, hanya ada Luna, Bobby dan Aldo menemani, tapi kini lengkap untuk semuanya ikut.


Berlarian kesana-kemari, tampak keduanya begitu senang dengan tawa terdengar, wajah mereka pun tampak ceria. Ya, meski semuanya harus mengejar dan kadang merayu ketika si kembar memasuki toko dan tak hentinya berbelok kemana saja ketika ada yang menarik bagi keduanya. Aulia yang lebih capek, karena Rendi menyeretnya kemana saja tanpa ingin dilepaskan. 


"Udah, udah! kita pulang aja, kaki mama pegal!" kata Olivia, sudah lelah mengikuti kedua cucunya dari bermain bola dan berkeliling di dalam mall.


"Belum ada dua jam," ucap Dony.


"Papa sih enak, sering lari-lari. Lah mama?" jawab Olivia.


"Makanya olahraga dong, Ma. Biar papa makin lengket," goda Bobby memainkan alis naik turun.


"Gak usah olahraga juga udah lengket." bangga sang mama.


"Hahaha, takut gak dibolehin tidur kamar." Bobby tertawa lebar, dipukul punggungnya oleh Olivia.

__ADS_1


"Ketawanya kayak gitu, mana ada cewek yang mau coba?! ketwa itu biasa aja, gak usah kayak buaya!" protes Olivia, mengukir senyum Dony juga Luna yang mendengar.


"Aku ini banyak yang suka, Ma. Tapi aku gak mau aja," cemberut Bobby, ditangkup bibirnya oleh sang mama.


Berjalan bersama, bercanda dan tertawa meledek Bobby yang tak kunjung memiliki kekasih. Entah perempuan seperti apa yang menjadi idaman, tapi lelaki itu tak pernah terlihat menggandeng siapapun selama ini. Takut jika putranya lebih nyaman dengan kesendiria, terkadang Dony berpikir untuk mengenalkan dengan anak temannya. Tapi, semua diurungkan lebih cepat tanpa berpikir panjang, karena tak mau memaksakan apa pun dan menjadikan itu sebagai urusan pribadi anaknya.


Sama halnya dengan Luna yang tak hanya disinggung tanpa ada ucapan tentang harapan untuk dirinya menikah lagi, Dony tahu jika pernikahan bukanlah sebuah hal yang bisa untuk ditentukan olehnya. Bukan tak mungkin jika anak menuruti tanpa menggunakan hati, hanya nerdasar atas kata berbakti, maka hubungan pernikahan tak akan sepenuh hati dijalani dan bisa kandas di tengah jalan.


Apa yang terjadi pada Luna, cukup dijadikan pelajaran tersendiri. Akan tetapi untuk menyesali izin pernah diberikan pada putrinya untuk menikah muda, Dony tak ingin melakukan hal itu. Tentu ia meyakini jika semua juga atas campur tangan Sang Penguasa, tak ada apa-apa yang terjadi tanpa kehendak dari Sang Pencipta. Siapa yang tak ingin memutar waktu untuk memperbaiki segalanya? semua pasti ingin untuk dapat melakukannya.


Namun semua adalah mustahil, waktu tak bisa untuk diputar kembali. Semua yang telah terjadi, cukup dijadikan pelajaran agar tak mengulanginya lagi. Menjalaninya dengan keikhlasan hati, agar beban serta penyesalan tak ada dalam hati. Layaknya nasi yang telah menjadi bubur, harus diberikan bumbu agar lebih sedap untuk dinikmati dan bukan berusaha mengubahnya menjadi nasi, yang tak mungkin terjadi.


"Menantu idaman," ucap Olivia tanpa sadar, seolah itu adalah isi hati yang keluar tanpa keinginan.


Doni menoleh ke istrinya, mengisyaratkan mata agar melirik ke Luna yang juga sempat menoleh sejenak ke arahnya. Ucapan itu tidak lirih, sehingga bisa di dengarkan oleh yang lain. Tapi Luna, seakan telinganya tersumpal dan tak menghiraukan. Dia buka tidak tahu akan harapan orang tua juga kakaknya, tapi dia tak ingin untuk tahu lebih dalam.

__ADS_1


Menuju ke tempat parkir dimana mobil berada, sopir bergegas membuka pintu dan mempersilakan untuk majikannya masuk ke dalam. Aldo sudah lebih dulu membantu si kembar masuk ke kendaraan miliknya, sengaja membawa dua mobil agar lebih luas dan nyaman. "Aulia diantar kakek aja, ya? mami sama adek biar pulang duluan," ucap Dony sebelum masuk.


"Gak usah, Pa. Biar Luna aja yang antar Aulia," jawab putrinya, saling tatap kedua orang yang berada di dekat mobil berwarna hitam.


"Gak apa-apa, Bobby ikut sama Luna." Bobby mengangguk kearah papanya.


Anggukan kepala diberikan oleh Dony  bersama istrinya, Aulia tampak kebingungan. Luna sendiri tak ingin untuk kedua orangtuanya menempuh perjalanan dengan arah berbeda, karena rumah Derrick tak searah dengan jalan ke rumahnya. Bobby yang tak ingin lagi memasuki rumah Dedrick, harus menemani adiknya mengantar Aulia. Tak mungkin jika Aldo dan Luna mau kalau hanya berdua saja. 


Dony kembali pulang lebih dulu bersama Olivia dan sopir yang mengantar, sedangkan Luna memasuki mobil Aldo bersama Aulia dan duduk di baris kedua. Bobby menemani Aldo untuk mengemudi, tak bertanya lebih dulu dan langsung melajukan kendaraan keluar parkiran. Sekali lelaki berkaos putih oblong itu melirik ke kaca spion tengah, coba memahami akan keputusan dari Luna yang turut mengantarkan Aulia.


Ya, Luna sendiri merasa harus untuk mengantar. Dia berusaha sebisa mungkin untuk menjaga hati putrinya, agar tak merasa diabaikan. Setiap hal-hal kecil selalu ia perhatikan, tanpa membedakan dengan si kembar dan menimbulkan perasaan iri dalam hati. Walau bisa saja ia pulang bersama orang tuanya juga si kembar, tapi Luna tak ingin mengabaikan Aulia.


"Nanti mami gak usah masuk, Aulia turun di depan pagar aja. Kasihan adik nanti kemalaman," ucap seorang gadis yang tak ingin melihat wajah sedih dari maminya.


"Enggak apa-apa, mami juga mau ketemu kakek kok. Udah lama gak datang," senyum Luna, meletakkan telapak tangan kanan pada ujung kepala putrinya.

__ADS_1


Aulia tersenyum paksa, ada sesuatu yang tak nyaman dirasakan. Dia tahu kalau disana ada papinya, entah seperti apa jika keduanya bertemu nanti. Aldo dan Bobby saling tatap usai mendengar jawaban Luna, mereka juga memiliki kekhawatiran sama.


Namun sudahlah, jika memang telah tiba masa untuk keduanya bertemu lagi, dihindari pun tak akan pernah ada gunanya. Hanya berharap, jika semua tak akan pernah menimbulkan pertengkaran dengan hati juga pikiran setelah pertemuan mereka.


__ADS_2