Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Tak seperti ekspetasi


__ADS_3

dua hari di Makassar, bukan hanya mendapatkan pelajaran dalam usahanya memperjuangkan pernikahannya bersama wanita tercinta pemilik hati dan raga, si cantik dan baik hati Andi Tenri Ola, Esa juga mengenang kenangan-kenangan yang dulu tak dinikmatinya sekarang justru ia rindukan ingin mengulang hari itu bersama sang istri


ada penyesalan menggerogoti dada kenapa dulu ia begitu setia pada janjinya pada ~si perempuan gundik~ sejujurnya panggilan itu cukup menggelitik di telinga Esa, hanya saja teman-teman Ola yang menamainya demikian membuat Esa ikut-ikutan mengubah nama wanita yang dulu pernah ia janjikan untuk memberinya bahagia justru sekarang menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya. karna janji yang tak lahir dari hati itu membuat dirinya sekarang jungkir balik berusaha dari cara satu ke cara lainnya demi mempertahankan istrinya agar tetap disisinya.


"salam sama Ola ya, lain kali kalian harus mengunjungi nenek dengan kabar bahagia" nenek Welang melepas pelukannya pada menantu cucunya, mata yang sudah keriput itu menitikkan air mata membuat Esa kembali memeluknya


"Esa janji nek" Ujar Esa penuh tekad. lagi-lagi mengutuk diri, hampir setahun pernikahannya, ini kali pertama ia datang ke Makassar hanya untuk mengunjungi keluarga istrinya, itupun ada maksud lain dari kunjungannya. yakni mendapatkan kembali kepercayaan si mertua dan keluarga mertuanya yang Esa harap sudah melunak padanya


"pa, ma, Esa pamit ya" Esa beralih berpamitan pada orang tua Ola dengan memeluk mereka singkat


"mungkin kali ini kamu beruntung, tapi ingat tidak ada pengampunan lain kali lagi" bisik Andi Baso membalas pelukan Esa seadanya


"Esa akan bawa Ola berkunjung saat jadwal kami tidak padat" ujar Esa seperti sebuah janji pada keluarga istrinya yang mengantarnya ke bandara Sultan Hasanuddin untuk pulang ke pangkuan istri tercinta


Esa berjalan mundur sambil melambai pada puluhan orang sibuk itu yang demi mengantarnya pulang rela meluangkan waktu.


pada detik itu, Esa berharap tuhan lebih baik mencabut nyawanya lebih cepat dari pada membuat mereka kembali kecewa padanya.


begitu tubuh Esa dan asisten pribadinya hilang di pintu keberangkatan, Andi Walang beserta anak menantu dan cucu-cucunya menghela napas kemudian mereka beranjak ke mobil masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan ataupun kegiatan mereka yang sudah tertunda demi menuruti permintaan nenek Welang untuk ikut serta mengantar menantu keluarga mereka pulang ke Semarang.

__ADS_1


Flashback (acara makan keluarga)


setelah Esa meletakan ponsel di meja makan lalu laki-laki itu pergi ke arah toilet, Nenek Welang menatap anak-anaknya, menantu-menantunya, cucu-cucunya juga saudara dari menantunya, alias saudara Andi Baso yang juga ikut hadir di acara makan-makan yang akan di traktir oleh keponakan menantu mereka.


"sudah cukup kalian mengintimidasinya" suara nenek Wellang penuh penegasan "dia mau berjuang mempertahankan pernikahannya dan menebus kesalahannya, harusnya kalian memberinya dukungan bukan malah menatap dirinya hina seolah kalian tak pernah melakukan Dosa" lanjut Welang lalu mengangkat telunjuk agar Andi Sahaja tak menginterupsinya


"iya. mama puang sudah tahu. kalian pikir mama puang bodoh sehingga tidak mengerti kalau kalian punya rahasia besar cucuku? seolah-olah tidak membahas apa-apa begitu mama puang bergabung sama kalian, tapi saat mama puang pergi kalian kembali membahas pernikahan mereka yang nyaris terberai"


*catatatan\= mama puang adalah panggilan nenek Welang dari anak-anak dan menantunya


"maafkan kami ma puang.. kami hanya tidak mau ma puang kepikiran" Andi Baso menyahut


"jadi tugas kita sekarang beri nak Esa kesempatan. manusia itu memang tempatnya khilaf. kalau kesalahannya tidak sampai bercampur dengan wanita lain itu masih bisa di terima" lanjut nenek Wellang membuat semuanya menunduk sembari mengangguk-angguk kecil membenarkan. Mereka sebenarnya juga sudah melunak, apalagi mendengar cerita Ola saat Esa menyusulnya ke Bali beberapa waktu lalu, hanya saja mereka itu masih memiliki kekesalan dalam hati masing-masing sehingga mereka masih ingin mengerjai Esa


Andi Wellang tersenyum haru melihat reaksi mereka. setelah itu mumpung Esa belum balik dari toilet entah apa yang lelaki itu urus, Andi Welang memanggil pelayan dan menyuruhnya membawa bill. setelahnya Andi Welang mengeluarkan kartu debitnya untuk membayar tagihan


"ini mama puang yang traktir, anggap saja sebagai rasa syukur karna untuk pertama kalinya di kunjungi menantu cucu" ujarnya cekikikan membuat Andi Baso yang hendak mengeluarkan kartu debitnya hanya menghela napas pendek


padahal sebenarnya mereka sudah tahu kalau akses keuangan Esa tak bisa cair. si tukang berita itu adalah sepupu laki-laki Ola yang masih SMA, dia tak sengaja dengar ketika Han dan Esa mengobrol di sudut ruangan di rumah orang tua Ola saat hendak berangkat ke hotel yang menyediakan restoran mewah ini. tapi mereka tetap ingin mengerjai dan melihat sampai mana pertahanan seorang Arjuna Reksa Nugraha.

__ADS_1


flashback Off


"istriku, mas mu pulang" gumam Esa begitu kakinya telah menapaki lantai bandara Semarang. lega rasanya satu beban berat telah ia lewati, saatnya meyakinkan sang istri bahwa dirinya benar-benar tak bisa hidup tanpa perempuan itu disisinya.


ah, betapa rindunya Esa pada perempuan yang sudah tak dijumpainya dua hari ini.


"maaf pak bos, apa sebaiknya kita langsung ke perusahaan saja dulu? kita sudah dua hari alpa, takutnya pak Barack benar-benar memecat kita" Han memberanikan diri menyela perintah Esa untuk di antar ke alamat kantor Ola pada sopir taksi yang mereka tumpangi


Esa menimang sejenak. sebenarnya jika untuk dirinya sendiri ia tak peduli, toh bagaimanapun real estate itu suatu saat akan di wariskan padanya. hanya saja hati nuraninya sedikit bekerja, apalagi mengingat komitmen Han yang setia menemaninya berjuang. sebaiknya memang lebih baik ke perusahaan dulu memeriksa pekerjaannya yang sudah ia lalaikan dua hari ini, selain itu bukankah ia harus memamerkan hasil perjuangannya pada sang papa yang sudah begitu tega pada dirinya itu?


tapi Esa juga sangat merindukan Ola-nya. rindunya sudah benar-benar nyaris diambang batas kewarasannya. lebai ah!


merana antara pilihan mendahulukan kewajibannya sebagai direktur keuangan ataukah menuruti kata hati ingin menjumpai sang pemilik hati.


tapi Ola masih bisa ia kuasai sebentar malam, bukan? sedangkan tugasnya di perusahaan tak ada yang bisa menggantikannya sebab sekertarisnya pun ada bersamanya.


"baiklah" Esa mengangguk-angguk kecil


"pak tolong berhenti di halte depan ya" titahnya lagi lalu menoleh ke arah Han "kamu cari taksi lain terus langsung ke perusahaan, nanti saya nyusul setelah dari kantor istriku" tambahnya dengan senyum menyebalkan di mata Han

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2