Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Unperfect Marriage 7


__ADS_3

"Makasih banyak, Kak. Kadang aku mikir, gimana jadinya aku kalau kak Aldo gak ada. Makasih banyak buat semuanya," tulus Luna.


"Gak usah berlebihan! masuk sana terus istirahat, mumpung anak-anak masih tidur!" sahut Aldo, mematikan laptop dan menutupnya.


"Kakak mau kemana?" tanya Luna segera.


"Pulang," singkat Aldo sembari mengemas laptop serta buku dalam tas ransel yang ada di balik tubuhnya.


"Tapi, nanti kesini lagi kan?" tanya kembali Luna, memperhatikan Aldo terus memasukkan barang dalam tas.


"Gak tau," singkatnya lagi, berdiri dan membawa tasnya lalu berjalan ke arah mobilnya di halaman rumah.


Luna ikut berdiri, melangkah ke halaman juga. Aldo memasuki mobilnya, menyalakan mesin dan siap untuk kembali ke rumah. Tak jauh, hanya berjarak beberapa rumah dari kediaman Dony. Tapi, ia selalu kesana tiap kali pulang kuliah, sekedar melihat si kembar juga ikut menjaga ketika Luna sibuk.


"Kenapa? bakalan kangen kalau aku gak kesini?" tanya Aldo, membuka lebar kaca di pintu.


"Hehehe, enggak. Kalau kak Aldo gak kesini, mama ngamuk itu nanti. Lagian juga, anak-anak pasti nyariin." Luna cengengesan, meletakkan kedua tangan di belakang tubuh.

__ADS_1


Aldo bergeming, dia melajukan kendaraan usai lebih dulu menutup kaca. Luna melihat kepergiannya sembari berbicara sendiri. Ah, apa yang dia katakan tadi? dan apa pula yang dikatakan oleh Aldo? kenapa rasanya seperti ada yang aneh dalam diri.


Perempuan yang begitu berterimakasih pada Tuhan karena dihadirkan Aldo dalam hidupnya itu, tak jarang berpikir tentang seperti apa dirinya jika Aldo tak ada. Kebaikan dari lelaki yang pernah mengutarakan isi hatinya itu, seakan tak bisa untuk dibalas olehnya.


Luna hanya bisa mendoakan, agar Aldo mendapatkan segala kebaikan di dunia maupun akhirat kelak. Luna ingin lelaki yang pernah terluka sangat dalam itu, bisa untuk berbahagia dan melupakan semua yang pernah terjadi.


Ya, Aldo pernah mengatakan pada Luna atas ketertarikan dirinya. Sebagai perempuan, tentu saja Luna senang mendengar hal iti. dan ia tak ingin menjadi munafik. Siapa yang tak akan tertarik padanya, lelaki tampan juga tinggi dan pekerja keras. Lelaki yang memiliki sifat hangat dalam dirinya, cinta kasih pada ketiga anaknya pun, tak jarang membuat Luna trenyuh.


Tapi untuk bersamanya, Luna masih sadar diri. Perempuan yang coba mencuri hatinya sudah banyak, tak sedikit pula yang berparas cantik. Sedangkan dirinya, hanya seorang janda dengan tiga anak. Bermimpi pun tak berani untuk dilakukan, apa lagi berharap.


Aldo sendiri, secara gamblang menuturkan jika tak akan menikahi Luna dan hanya ingin menyatakan isi hati saja. Itu pun, dikatakan dihadapan semua keluarga dan juga Aulia tentunya. Gadis yang sempat menjadikan Aldo sebagai cinta monyet, tapi dalam hati ia menyukai jika lelaki itu bersama maminya. 


Luna masuk ke dalam rumah, menuju ke dapur untuk menghangatkan makanan sebelum Aulia kembali. Hari ini, ia tak menjemput ke sekolah. Tadi Bobby menghubungi, jika akan mampir ke sekolah Aulia usai pertemuan di tempat yang tak jauh dari sekolah keponakannya.


"Biar bibi aja, Mba." Asisten pelayan menghampiri, masih dengan cucian pakaian yang baru diangkat dari jemuran di lantai atas.


"Gak usah, Bi. Kayak gini aja sih gampang," sahut Luna.

__ADS_1


"Itu pakaian anak-anak kenapa diangkat juga? bibi taruh di depan TV aja, nanti aku yang lipat." Tambahnya.


"Udah kering, Mba. Jadi sekalian bibi bawa turun," sahut pelayan akrab disapa Juju oleh keluarga Luna.


Luna tersenyum, tak lupa menyampaikan rasa terima kasih. Asisten rumah tangga yang sudah mengabdi beberapa tahun itu, memang hapal seperti apa anak dari majikannya. Dia tak pernah memberi izin untuk keperluan anaknya dilakukan orang lain, dan selalu dikerjakan sendiri karena telah menjadi kewajibannya.


Mencuci, mengangkat dari jemuran sampai menyetrika, semua dilakukan sendiri. Terkadang, Aulia membantu di kala libur sekolah. Walau sudah dilarang, tetap saja Aulia bersikeras membantu tanpa jijik meski ada ompol sang adik. Menggunakan kedua tangan untuk mencuci, pakaian si kembar tak pernah di cuci dengan mesin. begitu juga beberapa pakaian Aulia yang lain.


Di tempat lain, Aldo sudah memasuki rumah dan merebahkan diri pada sofa panjang hitam rumahnya. Rumah yang sengaja dibeli karena gak nyaman harus terus tinggal di kediaman Dony, karena ia juga akan bekerja dan melanjutkan kuliah disana. Aldo memejamkan kedua matanya, semalam ia hanya tidur satu jam saja.


Seperti biasa, dia akan terpejam sembari memainkan kalung yang dikeluarkan lebih dulu. Cincin yang menggantung, dia pegang menggunakan jari telunjuk serta ibu jari. Cincin itu adalah milik calon istrinya yang sudah tiada, namun masih dibawa kemana-mana tanpa pernah melepaskan walau hanya sekejap saja.


Kala malam seorang diri, Aldo pun kerap bercakap-cakap dengan memegang cincin dari seseorang yang telah berbeda dunia dengannya. Apakah seseorang disana akan marah, jika tahu dirinya memperhatikan perempuan lain? akankah disana, seseorang itu bersedih dan cemburu ketika dirinya dekat bersama perempuan lain?


Aldo pun menceritakan banyak hal, tentang kemiripan yang dimiliki oleh Luna dengan dia yabg tak lagi ada di dunia. Kemandirian, bahkan cara tersenyum juga pekerja keras. Terkadang Aldo mencari tahu, apakah perasaan yang ada pada Luna itu hanya karena kemiripan yang ia temukan, atau memang karena diri Luna sendiri.


Secepat mungkin ia mencari jawabnya, keduanya tak ada yang salah. Dari awal, ia mengagumi tentang sosok Luna yang dianggapnya memiliki pesona lain dari sorot mata juga senyumnya. Ada kebahagiaan bercampur kesedihan yang sulit dipahami, semakin membuatnya penasaran. Semakin lama mengenal, semakin Aldo menyadari akan adanya perasaan lain yang dibiarkan untuk tumbuh sesuka hati. 

__ADS_1


Ya, tak sepenuhnya tentang sebuah kemiripan, tapi juga tentang pribadi Luna sendiri. Tak sepenuhnya tentang fisik, tapi juga hati dan pemikiran Luna. Tentang bagaimana caranya percaya pada Tuhan, tentang seperti apa dirinya menghadapi tiap cobaan, tentang bagaimana ia menghibur orang lain walau dalam kehancuran.


Aldo menyukai semua itu, menganggapnya berbeda dari perempuan lain yang pernah ia kenal. Tawa itu, terlihat seperti benteng yang sengaja dibangun setiap hari, menutupi tentang sebuah luka besar dalam hati yang tak pernah ingin ditunjukkan sama sekali. Ingin dia tahu bagaimana luka itu sekarang, apakah sudah berhasil disembuhkan oleh waktu, atau bahkan menjadi lebih parah.


__ADS_2