
Esok hari...
Pukul setengah tujuh pagi, Tyo sudah tancap gas ke rumah Aldo. Mendapat pesan dari Bobby ucapan maaf atas panggilan yang tak terjawab, mengetahui dimana lelaki itu berada dan langsung pergi tanpa lagi menunggu untuk sarapan.
Tiba di depan rumah Aldo, nyatanya ia harus menunggu lebih dulu. Pagar masih terkunci rapat, sampai akhirnya Bobby datang untuk membukakan. Tidur di tempat Aldo dari semalam, ada acara yang harus ia datangi dan tak kembali pulang atas izin dari orangtuanya.
Lagi pula, Bobby tak membawa kunci, tak enak kalau harus membangunkan orang di rumah. Tujuannya tempat Aldo, jelas lelaki itu tak akan tidur awal. Sama dengan Luna yang tidur hanya satu atau dua jam, terkadang juga tak memejamkan kedua mata.
Ada atau tidak pekerjaan, sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan. Tubuhnya seolah telah di setel semacam itu, dan memang tak ada rasa kantuk di kala malam hingga dini hari. Menghabiskan waktu untuk membaca atau melakukan hal-hal lain yang berguna, seperti itulah hidup yang dijalani oleh keduanya dalam rumah berbeda.
Masih dengan celana pendek serta kaos yang ia kenakan tidur, Bobby membukakan pagar dengan malas. Ia sudah bangun dari pukul lima tadi, namun sengaja bermalas-malasan di atas sofa ruang tamu. Menatap ke arah lelaki yang tetap berada di balik kemudi, kaca terbuka lebar dan tersenyum melambaikan tangan.
Bobby tak membuka lebar pagar, dia berjalan ke mobil Tyo lalu membuka pintu dan duduk. "Lah, ngapain duduk? kan belum di buka?" tanya Tyo menoleh ke arah Bobby.
"Ya ngapain tadi dibukain nih pintu? sana turun, buka sendiri!" jawab Bobby.
Seketika wajah Tyo berubah kusut, menyesal telah membukakan kunci pintu tadi. Sekarang dia harus turun dan membuka pagar lalu membukanya sendiri. "Punya duit, bukannya nyari pembantu atau apa. Pelit banget!" gerutunya sembari membuka pagar.
Kembali ke mobil, masuk lagi dan menancap gas untuk memasuki halaman. Sekali lagi ia harus turun dan menutup pagar sembari mengomel. Hal melelahkan, kenapa Aldo tak membayar pembantu saja untuk melakukan hal semacam itu. Tiap kali datang, pasti akan bernasib sama. Entah itu Aldo atau Bobby yang membukakan gembok pagar.
"Aldo ada?" tanya Tyo begitu berhenti.
"Lagi masak," sahut Bobby dan turun.
"Emang butuh istri nih orang," lirih Tyo.
__ADS_1
Mengikuti Bobby untuk turun dan masuk ke rumah, Aldo memang sedang repot di dapur membuat sarapan. Tyo menghampiri, berdiri dengan menyandarkan sisi kiri tubuh pada dinding dapur. "Nikah sana!" katanya.
Aldo menoleh, sekilas untuk menatap dan kembali melanjutkan apa yang ia kerjakan. Tyo mencuci tangan, ia mencicipi masakan Aldo yang selalu dibanggakan oleh Olivia dan juga Natalie. Ketrampilan memasak, cukup bisa diacungi jempol. Rasanya enak, dengan penyusunan makanan rapi yang menggugah selera.
"Do, kemarin kamu lamar Luna? udah diterima belum?" tanya kembali Tyo sembari mengunyah. Diam menjadi pilihan bagi Aldo, ia tak menoleh apalagi menjawab. Kompor dimatikan, Aldo membawa makanan ke ruang makan lalu duduk disana.
Tak mempersilakan Tyo atau Bobby yang langsung datang mengambil tempat masing-masing, Aldo memasukkan roti ke mulutnya. Tyo sepertinya tak akan menyerah, dia memperhatikan Aldo sembari makan. "Do!" tegurnya. "Jawab kenapa sih?! kamu lamar Luna kemarin?!" tambah Tyo, mengejutkan Bobby yang langsung tersedak kopi.
"Seriusan?!" terbelalak Bobby.
"Biasain makan gak usah ngomong," santai Aldo.
Benar memang, tapi kenapa sangat menjengkelkan untuk di dengar sekarang. Tyo dan Bobby mengeratkan gigi bersamaan, lalu bibir mereka maju ke arah Aldo, cermin jika memang sangat kesal dalam hati bersama. Dilahapnya semua makanan di atas meja tanpa berpaling memperhatikan, semua dipercepat agar jawaban segera di dapat.
***
"Apaan sih?!" tegas Aldo melebarkan kedua kaki agar kaki Tyo dan Bobby menjauh.
"Jawab! kamu lamar Luna? jawaban dia gimana?" tanya Bobby.
"Bukan ngelamar, cuma ajak nikah! itu aja gak dijawab sama dia," sahut Aldo, malah ditertawakan kedua orang yang memasang wajah penasaran tadi. Aldo melirik kedua orang disampingnya bergantian, tatapan malas diberikan.
"Kasihan banget nasibnya," kata Tyo di sela tawa.
"Bikin mood orang ilang aja berdua," malas Aldo hendak berdiri, tertahan oleh dua orang yang coba menghentikan tawa bersama.
__ADS_1
"Eh, kalung kamu gak ada? jatuh?" tanya Bobby melihat tengkuk Aldo tak ada lagi kalung yang sempat ia pertanyakan dulu.
"Eh, iya. Kemana? hilang?" timpal Tyo.
"Ada di Luna," santai Aldo langsung menyeruput teh, terbelalak lebar kedua mata Bobby juga Tyo lalu memajukan kepala.
"Ha?!" serentak keduanya, Aldo memundurkan kepala.
"Bau!" protes Aldo kesal, mengusap hidung mancungnya.
"Enak aja!" tak terima keduanya bersamaan dan mendorong lengan Aldo.
Kalung itu, kalung berhias cincin dari seseorang yang telah tiada itu, memang ada di Luna. Memberikan padanya sebelum pulang ke rumah, Luna menerima walau juga kebingungan. Tak kalah bingung dan kaget dari dua orang yang hampir mengeluarkan biji mata sekarang, Luna akhirnya menerima setelah perkataan Aldo padanya.
Tak berbeda dari apa yang disampaikan pada Luna, lelaki bertubuh tinggi itu juga mengatakan pada Tyo dan Bobby perihal kalung tersebut. Pernah berjanji pada diri sendiri juga mendiang kekasihnya, jika kalung itu akan berpindah tangan begitu ada seseorang yang menggantikan.
"Jadi artinya Luna nerima?!" tanya Bobby, dijawab pundak terangkat.
"Itu namanya sih di terima! gak usah ditanyain lagi!" ucap Tyo, giliran Aldo yang terkejut.
"Emang iya?!" tanya Aldo menoleh.
"Ya iya, udah yakin kalau itu. Apa lagi orang kayak Luna, tau sendiri kan?" jawab Aldo.
"Bener juga, tuh anak mana pernah mau nerima kalau gak ada apa-apa. Apa lagi nih kalung ada cincinnya, dia tahu lah tuh cincin punya siapa. Yakin ini sih!" timpal Bobby.
__ADS_1
Aldo bergeming, mungkin saja begitu. Luna memang tak menjawab, tapi dia menerima kalung yang ia pakai sewaktu diberi kemarin. Dia tahu itu milik siapa, penjelasan Aldo sewaktu memberikan kalung pun cukup jelas.