
Esa menangkup kedua tangan Ola kedalam genggaman tangannya begitu perempuan itu menolak untuk dipeluk. mereka terdiam cukup lama dan hanya saling memandang satu sama lainnya
"katakan sesuatu sayang, mas mohon..." pinta Esa resah begitu Ola menatapnya seolah memindai setiap sudut wajahnya. bukan apanya, selain takut menerima tatapan yang mengisyaratkan kekaguman untuk terakhir kali, Esa juga takut jiwa istrinya tak berada di raga sang istri. apalagi mengingat ini di pinggir pantai, hampir larut malam pula, mana mereka berada di ujung yang jauh dari keramaian pengunjung
"kamu... takut?" suara serak Ola akhirnya mengudara, air matanya sudah kering sejak Esa bersimpuh di hadapannya, hanya menyisakan sedikit bekas air mata di sudut mataya, bahkan perempuan itu bertanya dengan ekspresi geli yang kentara.
berbeda dengan air mata Esa yang masih banjir di pelupuk mata "hah?" beo Esa sembari mengerjab yang membuat air matanya kembali meluncur ke pipi.
"kamu takut aku kerasukan terus membunuhmu lalu membuang jasadmu ke dalam air lalu membiarkan mu dimakan ikan paus?" sarkas Ola bernada datar. Ola benar-benar pandai menyembunyikan rasa sakitnya
ketakutan Esa perlahan memudar, kembali rasa sesal memenuhi kalbu begitu mendengar kalimat Ola yang ia maknai mengandung arti pernyataan yang wanita itu ingin realisasikan
membunuh sumber rasa sakit dan menghilangkan jejaknya sebersih mungkin. dan Esa adalah target paling empuk perihal itu.
"La..."
bukannya kasihan melihat wajah penuh bersalah sang suami Ola malah terbahak menyaksikan wajah nelangsa Esa
sedang Esa semakin miris melihat sikap Ola yang kelihatannya baik-baik saja padahal hati sang istri bertolak belakang secara signifikan dengan yang ditampilkan.
__ADS_1
baru Esa sadari, jika tubuh sang istri terlihat lebih kurus dari saat mereka masih tinggal bersama. bahu itu tampak melemah mungkin karna terlalu banyak menanggung rasa sakit. bukan hanya asam lambung yang kambuh tapi juga tubuh itu kian ringkih akibat menelan sendiri semua rasa sakit atas kecurangan yang diperbuatnya.
wanita yang ia nikahi itu tampak menerima semua perbuatan buruknya dengan lapang dada. bahkan Esa tak pernah menemukan amarah dalam sorot mata istrinya sekali pun, selain sorot mata kecewa.
"pulang yuk" ajak Esa penuh harap
"kamu duluan aja"
"mas nggak akan pulang tanpa kamu" Keukeh Esa
merasa moment menyendirinya sudah terlanjur terusik, Ola akhirnya berdiri lalu beranjak tanpa sepatah kata yang kemudian diikuti Esa. begitu tiba di area parkir Esa langsung menarik tangannya saat Ola hendak memesan taxi online, menuju mobil yang ternyata ada Han disana.
"belum tidur, hm?" Esa berdiri di belakang punggung Ola kemudian menyentuh bahunya pelan.
tadinya Esa sempat ketakutan begitu keluar kamar mandi dan tak menemukan keberadaan sang istri di dalam kamar. ia memang mengambil kesempatan membersihkan diri lebih dulu begitu memasuki kamar Ola menerima telpon dari para sahabatnya. Esa hampir saja berteriak memanggil sang istri jika saja tak melihat pintu penghubung balkon terbuka.
Ola berbalik, menatap datar lelaki yang sudah diusirnya tapi malah tidak mengindahkan ucapannya "ini mau tidur" melangkah melewati tubuh sang suami, kaki Ola terhenti saat tangan Esa langsung memegang pergelangan tangannya
__ADS_1
"La, bisa luangkan waktu sebentar? mas mau kita meluruskan semuanya"
masih berdiri membelakangi suaminya, Ola tidak berniat untuk berbalik. melihat wajah bersalah di wajah Esa yang baginya sangat memuakkan akan kembali membuatnya terluka
"tidak ada lagi yang perlu diluruskan. semua sudah jelas duduk perkaranya. tuntutan ku di pengadilan jelas sumbernya"
"kamu bisa maki-maki mas, kamu bisa pukul mas. hukum mas saja, hukum mas, La. asalkan jangan berpisah, sayang" mohon Esa mengiba belas kasihan. sungguh tak tahu diri, dulu saja begitu pongah ingin menceraikan sang istri demi menepati janji pada wanita yang ia kasihani
"apa yang aku dapatkan kalau melakukan itu?"
bibir Esa terkatup rapat. dirinya juga tidak tahu apa yang akan di dapatkan istrinya kalau saja Ola bertindak brutal memukulnya seperti kebanyakan perempuan-perempuan korban selingkuh di luar sana. kisahnya dengan Dewi juga tidak akan tiba-tiba terhapus dari ingatan jika Ola melakukannya
"lagi pula... siapa yang harus aku salahkan?" tambah Ola memecah keheningan. ia lalu menghembuskan napas berat, Ola memberi jeda sebelum kembali merangkai kalimatnya
"kamu yang tidak bisa menepati janji yang kamu ucapkan saat menjabat tangan papaku, atau perempuan itu yang sanggup memikat mu, atau justru ketidakmampuanku meluluhkan hatimu?"
setelah menyelesaikan kalimatnya, tanpa menunggu kesempatan dari Esa, Ola memasuki kamar mandi. meninggalkan Esa yang semakin tenggelam dalam lautan penyesalan.
Bersambung...
__ADS_1