
Satu jam berlalu, Dimas sudah berbaring di kamar bersama kedua anaknya sedari tadi. Membantu Brian untuk tidur seperti biasa, menempatkan diri di tengah agar ia bisa untuk bersama kedua anaknya. Walaupun Dimas sedikit heran, kenapa gadis remajanya justru ingin tidur bersama. Jelas-jelas Aulia tak pernah ingin, semenjak dirinya beranjak remaja.
"Tumben mau tidur sama papi, Sayang?" tanya Dimas lirih.
"Aulia takut kalau papi ngelakuin kayak dulu," jawabnya tanpa kebohongan.
Dimas tersenyum, dia tahu kebodohan pernah dilakukan meninggalkan bekas untuk semua orang. "Papi udah janji gak akan kayak gitu kan?" sahut Dimas menoleh dan tersenyum.
"Pi, Aulia boleh nanya?" tanya Aulia sembari memiringkan tubuh untuk bisa menatap papinya, walau ada guling yang menjadi pembatas mereka atas keinginan dari Aulia sendiri.
"Apa?" balas tanya Dimas.
"Kalau mami nikah sama om Aldo, apa papi setuju?" hati-hati gadis berpiyama soft pink tersebut. Dimas tersentak, dia membulatkan kedua mata namun alisnya tertumpuk di tengah.
"Kok nanya gitu? emang mami ada rencana kesana?" penasaran Dimas.
Aulia menggelengkan kepala, dia memang hanya bertanya saja. Dimas berubah posisi untuk saling berhadapan, membelai rambut panjang putrinya lembut. "Papi takut buat mikir sampai kesana, papi gak mau kehilangan mami lagi. Kalau emang masih ada kesempatan, papi mau buat sama-sama kayak dulu. Tapi papi juga takut, kalau mami udah gak ada perasaan lagi sama papi. Papi takut, kalau mami lebih pilih om Aldo." Dimas berucap pilu.
"Papi tau kalau om Aldo suka sama mami, om Aldo juga baik sama kalian. Bukan gak mungkin kalau mami suka sama om Aldo kan?" tambah Dimas.
__ADS_1
Aulia bergeming, dia tak tahu harus menjawab apa. Nada papinya begitu pilu ia dengarkan, tak kuasa untuk mengatakan apa yang ada dalam pikiran serta hatinya. Meski berharap kedua orangtuanya bersatu, tapi Aulia juga tidak masalah kalau keduanya berjodoh dengan yang lain. Semua tak akan mengubah apa pun, jika keduanya tetaplah orang tua bagi dirinya.
"Sekarang tidur, udah malam." Dimas tersenyum, mengangkat kepala dan mengecup kening putrinya.
Aulia memejamkan kedua mata, berucap selamat malam dan besar rasa sayangnya terhadap Dimas. Kata-kata itu membuat Dimas trenyuh, dalam kegundahan hati dirasakan. Kekhawatiran semakin menjadi, tatkala ia melihat kedekatan dari Aldo juga Luna di depan mata. Ah, itu menyakitkan juga membebani pikiran. Bagaimana bisa ia melihat wanita yang dicintai bersama orang lain? membayangkan saja tak ingin, apalagi harus menerima kenyataan semacam itu.
Ya, dia memang sudah menyakiti dengan begitu bodohnya. Melepaskan Luna dan tinggal bersama istri yang kini sudah bercerai darinya. Dimas memang tak lagi memiliki istri, dia menceraikan Rena atas apa yang dialami juga sikap dari wanita itu sendiri. Namun ia tak menginginkan orang lain, hanya Luna yang diharapkan menjadi pendamping hidupnya.
Berharap jika akan ada sebuah keajaiban untuk hubungannya bersama Luna, berharap jika Dony akan sanggup melihat betapa dirinya sangat menyesali apa telah terjadi dan ingin untuk berusaha memperbaiki. Dia harus berusaha sekali lagi, bersama doa yang tak boleh untuk putus kepada Sang Maha Segalanya. Harapan sekecil apa pun tak akan dihilangkan, walau hanya beberapa persen saja.
Di waktu bersamaan, namun tempat berbeda. Ada Luna yang kembali menatap layar laptop setelah memastikan anak-anaknya pulas, pekerjaan harus ia kerjakan dan tak ada waktu untuk mempedulikan hal lain. Meskipun ia juga terusik dengan sikap Dimas, tapi ia tak ingin untuk berpusat pada pemikiran tentang hubungan yang telah kandas dan diikhlaskan dengan susah payah.
"Gak capek apa kayak gini terus?" tegur Bobby, tidak ada jawaban di dapat.
"Do!" tegurnya lagi, melirik lelaki yang paling tak suka dipanggil semacam itu.
Bobby beralih untuk duduk, ponsel tetap menyala dan diletakkan di atas meja. "Aku mau nanya sebagai kakak, bukan temen kamu. Ini serius!" kata Bobby dengan nada seriusnya.
"Hm," singkat Aldo kembali menatap laptop.
__ADS_1
"Kamu serius gak suka sama Luna? kalau emang Luna juga suka sama kamu, apa kalian mau buat nikah?" tanya Bobby tanpa lagi basa-basi.
"Mau," singkat Aldo.
Terbelalak Bobby, dia memajukan kepala dan memasang telinga lebar. "Apa?!" tanyanya tak begitu percaya dengan pendengaran sendiri.
"Mau! kalau Luna emang juga suka," kata Aldo, berhenti menatap laptop.
"Aku gak mau maksa hubungan sama dia, tapi kalau emang dia juga ada perasaan yang sama, aku mau. Biarpun aku takut nanti ada bertengkar atau cerai segala macam, tapi kalau emang udah harus kayak gitu, ya aku jalani. Sekali aja aku denger Luna ngomong suka, aku bakal perjuangin dia!" terang Aldo penuh keyakinan, dipukul kencang pundaknya oleh Bobby sampai Aldo merasakan panas.
"Jawab sempurna!" kata Bobby seraya memukul.
"Mama sama papa pasti seneng ini," tambah Bobby.
Aldo mengusap pundaknya, pukulan itu benar-benar sangat kencang dari tangan lelaki rutin pergi ke gym setiap minggunya. Bobby sangat puas akan jawaban santai dari Aldo, santai namun menyiratkan keseriusan dalam wajahnya. Itu jawaban yang ditunggu-tunggu olehnya, setelah cukup sering Aldo menyangkal.
Bukan tak tahu jika semua orang mendukungnya, bahkan keluarga sendiri pun mendukung untuk dirinya memberanikan diri dan melangkah ke jenjang pernikahan. Tapi semua dipasrahkan padanya juga Luna, tetap kembali siapa yang menjalani. Ya, tak butuh banyak kata dan hanya cukup satu saja untuknya berani memperjuangkan. Hanya satu kali kata suka dari Luna, hanya satu kali kesempatan saja. Namun untuk sekarang, dia tak ingin berharap dan membiarkan waktu yang menjawab segala penantian.
Orang tua Aldo juga adik semata wayangnya telah begitu dekat dengan Luna. Mereka bahkan berani untuk menawarkan diri melamar, tapi Aldo tak mengizinkan. Saat Aldo membahas tentang seseorang yang disukai, rasa bahagia tak mampu disembunyikan oleh keluarganya sendiri. Paling tidak, Aldo sudah berani untuk membuka hati dan kembali merasakan indah perasaan jatuh cinta setelah luka yang menggores dalam.
__ADS_1
Terlebih sang adik yang bersemangat melebihi lainnya, gencar bertanya tentang perasaan dan apa yang membuat jatuh cinta. Tak cukup sekali jawaban yang ia dengar, terus saja bertanya ketika saling terhubung sambungan telepon juga video.