
~beberapa menit sebelum Esa menemukan Ola di pantai Muaya~
🗣️ini pov dari sisi Esa
menangisi penyesalan tiada gunanya. Esa harus mengambil tindakan tak peduli resikonya. Ia harus ke Makassar, kalau perlu ia akan kembali bersujud di kaki Andi Baso, sekalipun lehernya akan langsung diinjak oleh ayah mertuanya Esa akan menghadapinya demi membuktikan kalau dirinya sungguh-sungguh sudah bertobat dan telah mencintai Ola segenap jiwa raganya.
tekad sudah bulat, Esa beristighfar ratusan kali guna mempertahankan kewarasannya yang nyaris melayang beberapa saat lalu akibat rasa sakit yang luar biasa menyerang jiwanya begitu membayangkan pernikahannya tak bisa lagi diselamatkan.
Esa melangkah hendak mengambil kopernya, pada detik berikutnya secercah harapan mengisi hati kala melihat koper Ola masih ada di samping koper miliknya. istrinya ternyata masih di Bali
otaknya langsung memutar semua memori, mencoba menerka tempat yang barangkali Ola kunjungi.
Bali adalah kota yang memiliki banyak kenangan diantara mereka. terhitung dalam 11 bulan pernikahan, Esa dan Ola sering menghabiskan waktu luang di pulau Dewata ini. baik dengan inisiatif mereka berdua ataupun mendapat tiket liburan secara cuma-cuma dari Ratu. di bulan kedua pernikahan mereka, begitu Esa tergoda untuk memberikan nafkah batin kepada sang istri namun malah dirinya lah yang ketagihan saat tahu nikmatnya bercinta dengan pasangan halal, maka Esa tak pernah mengeluh ketika Ratu menghadiahinya tiket liburan bersama Ola walau sebelumnya ia memiliki janji pada Dewi. bahkan Esa senang-senang saja karna bisa menikmati suasana baru ketika bercinta dengan istrinya.
"tunggu mas, sayang" Esa gegas keluar kamar begitu satu tempat yang paling memiliki persentase tertinggi menjadi tujuan Ola saat ini
Beruntung Han sudah pindah hotel yang sama dengan hotel yang di booking Ola, Esa jadi muda untuk menggunakan jasa Han disaat darurat begini.
setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, mobil Alphard hitam rentalan itu memarkir di pantai Muaya.
"jangan jauh-jauh dari mobil, awas saja kalau saya mau balik kamu nya tidak ada disini" perintah berupa peringatan itu Esa lontarkan sebelum ia turun dari mobil
__ADS_1
meski pengunjung tak padat, namun Esa kesusahan menemukan keberadaan sang istri. Ola tak ada di tempat biasa, juga tak terlihat di kedai-kedai. tungkainya lalu tertuntun ke arah pinggir pantai, ada beberapa pasangan yang terlihat duduk lesehan diatas pasir menikmati cahaya temaram yang terpancar dari bulan sabit. ada juga beberapa terlihat seorang diri yang kemudian Esa datangi barangkali salah satu diantara mereka adalah sang istri
"maaf, maaf mbak, saya salah orang" sudah ke empat kalinya ia salah menghampiri seorang wanita
"astaga, Ola tadi pakai baju ungu mudah kan. bagaimana bisa aku menghampiri orang yang pakaian hitam" gerutunya merutuk kegoblokannya sembari melanjutkan langkah menyusuri pinggiran pantai
"apa kamu nggak datang kesini, sayang?" tanya Esa begitu tersadar kemungkinan Ola tidak akan datang ke tempat yang telah mengukir kenangan manis diantara mereka berdua
Esa menghela napas panjang, mulai menyerah kala kakinya sudah sangat jauh melangkah ke ujung, ia berkacak pinggang menghadap pantai dengan pandangan mendongak ke arah langit
"mas rindu kamu, La. kamu dimana sayang?"
"mas akan menemukan mu sayang" monolognya lagi. ia sudah bersiap-siap bergeser dari pantai Muaya untuk mencari sang istri di lokasi lainnya. akan tetapi, sebelum membalikkan badannya, netranya menangkap jauh di depan sana seperti ada orang. tanpa pikir panjang dengan mata terbuka lebar Esa melangkah mendekat.
ketika jaraknya tinggal tiga langkah lagi, Esa yang awalnya ingin segera memeluk sang istri mengurungkan niatnya kala mendengar ocehan istrinya disela-sela Isak tangisnya
ya, Ola-nya menangis sesenggukan, seorang diri.
"Tuhan, ini... sungguh... sakit. boleh hamba menyerah nggak. rasanya... pengen mati aja..."
Kalimat itu sukses mencabik-cabik hati nurani Esa. fakta yang keluar dari mulut sang istri benar-benar membuktikan bahwa kecurangan yang Esa dan Dewi mainkan di belakang Ola membuat luka sedalam itu pada sang istri
__ADS_1
"aku ikhlas Tuhan, aku ikhlas kok. tapi kenapa rasanya masih sesakit ini? kata orang-orang kalau ikhlas sakitnya akan berkurang, tapi kenapa di aku rasa sakitnya masih sama?"
Esa meremas dada kirinya guna merangsang kinerja jantungnya untuk terus berdetak, dadanya tiba-tiba panas disertai rasa seperti dicengkeram kuat di dalam sana. Telinganya bahkan berdengung begitu mendengar kalimat demi kalimat sang istri yang ternyata terluka begitu parah akibat perbuatannya.
"aku ikhlas kan Tuhan? buktinya aku tidak meminta engkau membalaskan kesakitanku padanya. aku tidak meminta karma turun pada mereka. aku cuman minta tolong sembuhkan rasa sakit ku saja"
jika saja ada pembalasan setimpal untuk lelaki breng-sek sepertinya, akan Esa tebus semua rasa sakit yang dirasakan sang istri. asalkan bukan perpisahan. Esa tidak akan mampu. tak tahan lagi Esa memanggil sang istri dengan suaranya yang tercekat
"La?"
Esa tak berharap Ola akan mendengarnya karna indera pendengar Esa sendiri tak terlalu mendengar suara yang keluar dari mulutnya. namun diluar dugaan, perempuan cantik itu menoleh dengan pertanyaan yang sukses membuat pertahanan Esa roboh seketika
"kamu...menemukan ku?"
"sejauh apapun, mas akan terus menemukan mu sayang, kamu adalah tempat mas pulang. bagaimana mungkin mas tidak menemukan rumah mas sendiri, hm?" tutur Esa dengan keyakinan sepenuh jiwa yang sudah bersimpuh dengan kedua lututnya di pasir du hadapan Ola
dirinya yang berperan sebagai penjahat tapi kenapa ia juga yang merasakan sakit luar biasa ketika netra hitamnya menangkap sepenuhnya wajah kekasih halalnya seberantakan ini akibat air mata.
lalu bagaimana perasaan sang istri kalau ia saja bisa sesakit ini?
"Esa bang-sat! apa yang telah kamu lakukan pada perempuan cantik ini" Detik itu juga Esa ridho pernah diamuk oleh paman Ola beberapa waktu lalu, bahkan Esa akan ridho kalau Andi Baso benar-benar sudi menginjak lehernya
__ADS_1
Bersambung...