
"kenapa kamu lakuin itu?" tanya Esa frustasi sembari menyalakan mesin mobil
gerakan Ola yang sedang memasang seatbelt lekas terhenti. "kenapa? kamu nggak suka?" ketusnya "kenapa nggak bilang dari tadi? kenapa seolah setuju sama keputusanku?" nada bicaranya bahkan sampai naik satu oktaf
"kamu nggak tega lihat dia nangis? masih cinta, heh?" lanjut Ola mulai tersulut emosi
"ck! bukan itu!" Esa bergerak-gerak tak nyaman di belakang setir bundar
"terus apa? kamu mau ambil lagi mobil sama apartemennya? silahkan, aku juga nggak mau nempatin bekas dia" masih menggunakan nada yang cukup tinggi, Ola benar-benar kesal mendengar pertanyaan Esa
"bukan itu, Sayang..." mengacak-acak rambutnya sendiri, Esa lalu mencondongkan setengah tubuhnya ke arah sang istri
"Apaan sih" Ola lekas menahan dada Esa dengan kedua tangannya
sekuat-kuatnya Ola mendorong, tentu lebih kuat Esa yang menekan. hingga wajah keduanya hanya berjarak satu jengkal, bibir Esa berbisik "kenapa tadi kamu cium, mas?"
Ola mendadak salah tingkah, semburat merah menghiasi pipi putihnya. tapi otaknya masih sempat berpikir, jawaban apa yang sekiranya dapat ia kemukakan. tidak mungkin kan ia mengatakan, kalau ingin membuat Dewi sakit hati.
"aku... aku khilaf" spontan alasan tersebut yang keluar. Ia jelas merasa gugup, tapi sangat pintar menyembunyikannya
"khilaf?" Esa mengulang dengan ekspresi bodohnya "kekhilafanmu membuat usaha mas yang matian-matian menahan diri beberapa hari ini hancur seketika. maka dari itu kamu harus bertanggung jawab" lanjut Esa kemudian dengan mendesis tertahan, ia tak mau memundurkan wajahnya
belum selesai Ola mencerna ucapan suaminya, Esa sudah bergerak lebih cepat untuk mengikis jarak. bibir keduanya bertemu saat Ola merasa belum siap. Ia langsung saja memukul-mukul dada Esa pelan. tapi tak berhasil membuat sang suami berhenti.
ini bukan yang pertama kali memang. jangankan bibir, mereka sudah merasai tubuh masing-masing. dan seperti biasanya Ola lemah akan sentuhan sang suami. alhasil Ola hanya bisa membeku menerima setiap sesapan.
"buka mulutmu, Sayang..." serak dan lirih, bibir Esa bersuara persis di depan bibir istrinya
bagai kerbau dicocok hidungnya, Ola menuruti permintaan sang suami. perlahan Ia membuka mulutnya dan membiarkan Esa memperdalam serangannya.
tak munafik, sejujurnya Ola pun merindukan moment-moment intim bersama pria halalnya itu.
Esa mengerang di sela-sela aktivitasnya, betul betul lupa diri hingga tak mengingat mereka sedang berada di mana.
Ia semakin mendorong Ola agar merebahkan diri di sandaran kursi yang sudah disetelnya ke belakang. sementara tangannya baru berani bergerak aktif saat merasa Ola mulai membalas ciumannya.
tok tok tok
"**|*!" umpatan keras dari bibir Esa terlontar bersamaan dengan tubuhnya yang didorong kasar oleh sang istri
sang Arjuna lantas meraup wajahnya kesal, sebelum menekan tombol untuk membuka kaca jendela. Ia sempat melirik Ola yang sudah selesai membenahi blouse-nya yang tersingkap ke atas.
__ADS_1
"kamu mau saya pecat!!?" sembur Esa bahkan saat kaca baru terbuka separuhnya
tersentak kaget, Han nyaris menyatukan alisnya. kebingungan karena bosnya terlihat sangat marah padahal ia hanya mengetuk jendela mobil, bukan melakukan penggelapan dana di perusahaan "salah saya apa?" tanya Han dengan polosnya
kaca mobil Esa memang gelap, orang dari luar tidak akan bisa melihat apa yang ada di dalam mobil. seperti Han yang tidak tahu menahu tentang apa yang baru saja Esa perbuat pada istrinya.
"Kamu!" Esa urung melengkapi kalimatnya. nafasnya masih terengah-engah "ada apa?" akhirnya justru kalimat tanya itu yang keluar daripada rentetan makian yang sudah ia persiapkan.
sedikit memiringkan kepalanya, Han mencari keberadaan Ola yang duduk di kursi samping kemudi. ia kembali mengernyit ketika melihat wajah perempuan itu yang memerah
"ada apa, Han?!" Esa bertanya tak sabaran, nyaris membentak
bukan menyahuti Esa, Han malah mengajak Ola bicara. kepalanya semakin ia miringkan karena si pria di balik setir bundar menghalangi pandangannya. "Bu nanti mobilnya dibawa ke mana? pulang ke rumah ibu sama bapak atau ke apartemen ibu?"
"buat kamu" Ola cuma menjawab singkat!
"Apa?!"
"beneran, Bu?"
Dua tanya yang berbeda diucapkan secara bersamaan oleh Esa dan Han. mereka sama-sama terkejut, tapi menampilkan ekspresi yang berbeda.
"kamu belum punya mobil sendiri, kan?"
"ya sudah itu buat kamu" Ola menimpali santai
"Alhamdulillah, ya Allah..." syukur Han sambil mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah "terima kasih, Bu... Pak..."
Esa berdecak. cukup kesal karena sang istri justru memberikan mobilnya pada Han "kalau saya nggak bakalan kasih kamu mobil"
"kalau tau begini, mending saya jadi sekertaris ibu saja" bahas Han tak mau kalah
"jadi serius kan buat saya Bu, mobilnya?" lanjutnya lagi memperjelas. bisa saja Ola cuma bercanda, bukan?
"iya!"
"terimakasih banyak, Bu" Han terlihat sangat senang.
Esa segera mencekal lengan Han ketika dilihatnya sangat sekretaris hendak memutar mobil "mau apa kamu?"
"mau peluk Ibu" jawab Han malu-malu seraya mengulum senyum
__ADS_1
Esa mendelik "enak aja! nggak boleh!"
"sebagai ucapan terima kasih, Pak" Han mencoba bernegoisasi
"enggak. udah sana pergi. urusin tuh gundik kamu" usir Esa lalu cepat-cepat menutup kaca mobilnya, lantas membawa kendaraannya pergi meninggalkan tempat itu
"Lah, dia kan gundiknya, bapak" Han menjawab ketika mobil bosnya mulai bergerak menjauh
dengan cengiran lebar yang menghiasi bibirnya, Han lantas kembali ke mobil yang di dalamnya sudah duduk seorang perempuan yang bernama Dewi Asmara.
wajahnya tampak riang. Han bahkan sempat-sempatnya memberikan ciuman jarak jauh pada spion mobil yang baru saja dihadiahkan untuknya sebelum membuka pintu
sepanjang perjalanan, Dewi sibuk menatap keluar jendela, pikirannya carut marut, kemana ia harus mendapatkan uang untuk menghidupi dirinya, sementara keluarga mantan suaminya masih menuntutnya 1 milyar rupiah.
sebab satu-satunya harapan yang ia miliki nyatanya memilih kembali pada sang istri sah.
Dewi kecewa. tidak ada kebohongan ketika ia mengatakan sangat mencintai Esa. sebab seperti itu memang adanya. Esa adalah Cinta pertamanya.
"kenapa secepat ini perasaan Mas Arjuna, berubah?" Dewi menanyakannya dengan pelan, nyaris seperti bisikan.
Han memfokuskan diri pada kemudi, tidak berniat menanggapi
"padahal aku butuh waktu lebih dari dua tahun buat bikin Mas Arjuna luluh, dan dia nggak pernah semesra itu" lanjut Dewi sembari memutar memori
awalnya iba, tapi akhirnya Han geram juga "Mba, Ibu Ola itu istrinya pak Esa, mereka biasa berbagi raga, ya nggak heran lah kalau mesra-mesraan seperti itu"
bukan hanya Dewi yang melihat Ola mencium Esa, tapi Han juga menyaksikannya di restoran tadi.
"sakit, mas, aku lihatnya" lirih Dewi berucap
"lebih sakit hati mana sama hati Ibu yang dikhianati oleh suaminya?" seru Han bersamaan dengan kakinya yang menekan pedal gas semakin dalam. Ia ingin segera sampai ke tujuan. tak mau lebih lama berduaan dengan perempuan penyebab prahara.
sepertinya... persediaan air mata Dewi memang terlalu melimpah. lagi-lagi ia menangis "tapi aku yang lebih dulu dicintai Mas Arjuna" Dewi bersikeras membenarkan perbuatannya
Han berdecak sebal "kalau dari yang saya lihat, pak Esa itu nggak benar-benar cinta sama Mbak. karena kalau beneran cinta, pasti dulu pak Esa akan berjuang mati-matian biar hubungan kalian direstui. sama seperti yang sekarang sedang pak Esa lakukan ke ibu Ola. Berjuang biar tetap bisa sama-sama meskipun kedua belah pihak sudah tidak merestui" panjang lebar Han menjelaskan, berharap agar perempuan di sampingnya itu segera sadar dari halusinasi "tapi apa yang terjadi dulu? pak Esa lebih memilih menikahi Ibu Ola, kan? itu artinya Mbak nggak spesial di matanya, bukan seseorang yang harus diperjuangkan"
Dewi sejenak bungkam. lidahnya ingin menyangkal, tapi disudut hati yang terdalam justru membenarkan. "lalu kalau bukan cinta, apa arti hubungan kami selama ini?" Bibir Dewi meronta ingin bersuara lagi
kali ini, Han menghela napas panjang "kasihan dan rasa bersalah. selama ini Pak Esa bertahan hanya karna kasihan sama takdir mbak"
Bersambung...
__ADS_1
minal aidin wal faidzin para readers Unperfect Marriage. maaf lahir batin 🙏
maafkan baru nongol lagi soalnya sibuk menghabiskan buras dan rendang.. wkwkwk