Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Unperfect Marriage 6


__ADS_3

Olivia dan Dony sering kali bercengkerama tentang Aldo dan Luna. Terkadang mereka tersenyum sendiri, membayangkan tentang kedua orang berwatak jauh berbeda itu menjadi satu dalam sebuah ikatan pernikahan. Aldo yang lebih sering diam dan jarang tersenyum, sementara Luna dengan canda tawa dan juga kegilaannya sendiri. Tapi, ada yang sama dari mereka. Tak begitu banyak untuk berbicara, jika memang tak diperlukan.


Ya, mungkin bayangan-bayangan yang selalu hadir itu, merupakan bentuk dari sebuah harapan dari kedua orang tua yang menyayangi putrinya. Ada sebuah keyakinan dalam diri, jika Aldo sanggup untuk memberikan kebahagiaan bagi Luna serta anak-anaknya. Lagi pula, baik Aulia atau si kembar telah begitu menyayangi Aldo. Tak jarang Aulia bertanya, jika satu hati saja Aldo tak datang.


Pernah juga si kecil sakit panas ketika Aldo harus melakukan pekerjaan hingga tak pulang beberapa hari. Panas yang tak kunjung reda walau sudah meminum obat dari dokter, tapi langsung sembuh ketika Aldo kembali. Dari situ, Olivia dan Dony menyimpulkan jika sakit yang di derita oleh Dinda, adalah karena ia merindukan Aldo. Gadis kecil yang selalu bersikap manja padanya, walau harus berebut dengan sang adik untuk bisa di gendong oleh lelaki akrab disapa Daddy.


Bukan hanya Aldo, si kembar pun dibiasakan memanggil Daddy pada Bobby juga Tyo. Tapi mereka lebih dekat dengan Aldo, seperti ada ikatan batin diantara mereka. Masa Dinda sakit, Aldo pun mengaku jika dirinya gelisah tanpa sebab, ingin sekali cepat pulang tapi pekerjaan masih banyak. Hari-hari selalu bermimpi tentang Dinda, yang terkadang suaranya pun terngiang di telinga. 


Dari hari itulah, Aldo memilih untuk berpamitan pada Dinda jika ia tak bisa datang. Melakukan panggilan video, terkadang juga menelfon biasa. Sebisa mungkin, waktu diberikan untuk Dinda dan Rendi, juga Aulia. Mengajak mereka bermain ke mall, bersama Luna dan Bobby yang ikut serta. Aldo tak pernah pergi hanya dengan Luna, ia tak mau orang lain berpikir macam-macam.


Ya, seorang janda selalu menjadi sasaran empuk untuk setiap orang yang dengan sengaja mencari celah membicarakan bahkan menghina. Tanpa mereka tahu, bahwa janda juga seorang manusia yang tak pantas digunjing dengan sesuka hati. Janda juga perempuan, sama seperti orang-orang yang membicarakan dan menganggap statusnya begitu buruk. Entahlah, mudah sekali untuk berbicara, tanpa berpikir lebih dulu jika mereka ada dalam posisinya.


Mudah memang untuk menilai dan menghakimi tanpa tahu tentang fakta yang sebenarnya. Mudah pula untuk berkata, tanpa memandang perasaan orang lain. Seolah mengharuskan orang lain kuat mental serta hati, karena mereka juga kuat untuk menggunjing. Tak ada yang berharap untuk menjalani hidup sebagai janda, itu bukanlah impian. Tapi Tuhan menggariskan seperti itu, lalu bagaimana bisa untuk dilawan. 


Akan sangat baik, jika tak menggunakan kata 'berhak" dalam kamus kehidupan. Berhak untuk menilai, berhak untuk menghakimi, berhak untuk menggunjing, berhak untuk merendahkan, dan berhak yang lainnya.


Berkata memang hak semua orang, tapi ingatlah jika Tuhan juga memberikan perasaan serta pikiran pada setiap umat. Lantas apakah itu tidak pernah dipergunakan, laku merasa begitu berhak mengatakan apapun pada orang yang bahkan tak pernah dibiayai hidupnya? orang yang bahkan tak pernah diketahui apa dirasakan sebenarnya.


Terkadang sulit untuk melawan orang-orang semacam itu, dibiarkan pun akan semakin menjadi. Tapi Luna, memilih untuk tersenyum dan membiarkan orang berpikir dengan begitu liarnya. Paling tidak, mereka telah peduli dengan caranya sendiri. Mereka meluangkan waktu untuk memikirkan tentangnya, padahal Luna tak pernah berpikir tentang mereka walau hanya sedetik saja.

__ADS_1


Itulah Luna, dengan pemikirannya sendiri. Asal makan tak minta orang, maka biarkan saja. Hidup urusan dengan Tuhan, surga dan neraka bukan tentang ucapan orang. Untuk apa diambil pusing, Tuhan pun tak pernah tidur.


***


Janjinya untuk satu jam pergi, namun Luna batu kembali setelah dua jam kemudian. Aldo masih duduk di teras rumah memangku laptop yang ia ambil sembari mengantarkan Olivia masuk ke dalam dan memintanya istirahat. Aldo melihat ke arah Luna, tak lagi dengan mobil pick up yang sudah ia kembalikan. Luna berjalan seorang diri, tersenyum ke arah Aldo tanpa menghentikan langkahnya.


"Masih terang juga, udah pacaran sama laptop!" seru Luna, begitu ia sampai teras.


"Bau banget sih, Lun?! mandi sana!" ucap Aldo memundurkan kepala. Luna menarik kaosnya untuk mencium baunya sendiri, tak ada yang mengusik hidungnya sama sekali.


"Ih, hidung kak Aldo yang dekat sama mulut tuh!" celetuk Luna, ditatap malas oleh lelaki kini meletakkan laptop di atas meja.


"Cuci tangan sana!" kata Aldo.


"Sama mama di dalam, belum bangun kayaknya." Aldo menjawab tanpa memalingkan wajah dari layar laptop yang kembali ia tatap.


"Betah banget tidurnya, tumben. Biasanya bentar juga udah bangun," ucap Luna berjalan kembali ke teras untuk mengambil tisu dan mengeringkan tangan.


Duduk di kursi berbatas meja teras bulat, Luna mengeringkan tangan dengan tisu yang ada di meja tersebut. Melihat sejenak ke arah Aldo, tampak serius sekali lelaki berambut gondrong itu mengamati setiap tulisan yang ada. "Udah kirim email semua?" tanya Luna.

__ADS_1


"Udah, kamu aja yang belum. Bonus kamu hilang," santai Aldo menjawab.


"Eh, enak aja! aku udah kirim semalam," sahut Luna cepat.


"Coba cek deh," tambahnya.


Aldo diam saja, asyik mengamati tulisan yang ada di laptopnya. Luna masih ngotot jika email telah dikirim, agar bonus yang akan ia belikan tas juga sepatu Aulia tak hilang begitu saja. "Kak, cek dulu. Aku udah kirim loh," pinta Luna memelas.


"Udah!" singkat Aldo tegas.


"Itu di ruang tamu ada tas belanjaan, nanti kamu kasih Aulia!" tambahnya dengan nada tegas sama.


"Apaan?" tanya Luna.


"Tas sama sepatu buat dia," santai Aldo.


"Lah, kenapa dibeliin?!" protes Luna.


"Kamu yang beli, bonus kamu udah aku beliin tas sama sepatu. Jadi kamu gak aku transfer," terang Aldo.

__ADS_1


Luna menyipitkan kedua mata, ia mencurigai Aldo karena selalu tahu apa saja. "Kak Aldo bisa baca pikiran orang?" tanya Luna berhati-hati.


"Enggak, aku dikasih tau Bobby semalam. Katanya kamu mau beliin Aulia tas sama sepatu," jawab Aldo, terbahak Luna seketika atas pemikiran bodohnya.


__ADS_2