
"Ada orang lain yang cinta sama kamu, nunggu kamu, mau sama kamu, tapi kenapa kamu malah nyari orang yang udah gak mau lagi sama kamu? jangan kayak gini, kasih kesempatan diri kamu buat bahagia. Dan itu bukan sama aku," ucap Luna.
Dimas bergeming, kata tak ingin lagi dengannya yang terlontar, seolah memang itu adalah kejujuran. Matanya bahkan berani untuk menatap, bersama kata begitu mantap terucap. Perkataan itu layaknya cambuk untuk hati Dimas, tatapan Luna menyerupai ujung pedang tajam yang menghujam hatinya.
"Sebaiknya kamu pulang, aku masih banyak kerjaan. Anak-anak juga pasti udah bangun," ucap Luna kembali.
Kedua mata Dimas menatap sendu, berkaca-kaca mewakili kesakitan hati yang ia rasakan. Apa yang terus ia takutkan, semua benar terjadi dengan begitu nyata. Luna menyerupai orang tak berperasaan, tatapan yang dulu tampak hangat, kini terlihat dingin bersama sikapnya.
Ucapannya pun, terdengar lebih menyakitkan dari pada Luna yang dulu sering menolaknya. Terdengar kejam dan tak ingin peduli akan perasaan orang lain, semua menyakitkan dengan sangat. Ya, dia memang perempuan yang sekali mencintai pasti akan mencintai dengan segenap hati. Namun ketika ia sudah ada yang mengusik dan membuatnya tak ingin, dia akan menjadi orang yang tak akan pernah peduli.
Dimas terdiam melihat perempuan yang berdiri di depannya, bibir keluh tanpa mampu bertutur kata. Siapa dia? benarkah dia orang yang selama ini ia cintai? kenapa itu sangat berbeda? apakah luka telah membuatnya begitu keras dari sebelumnya? apakah keadaan sudah merubahnya dengan begitu hebatnya? kenapa? semua tanya itu melintas dalam benak Dimas.
Air mata melintang tanpa keinginan, Dimas tersenyum menyeka air mata dan menoleh ke arah lain. Ya, apa pun yang terjadi pada Luna juga merupakan tanggung jawab dirinya. Tanpa sengaja, ia pun turut mengubah dan membentuk karakter Luna yang sangat keras. "Aku gak nyangka kamu bisa ngomong semua itu," kata Dimas dengan senyum ia suguhkan.
"Aku bisa buat kamu balik kayak dulu lagi," tambahnya sembari melewati tubuh Luna.
Dimas pergi, berpamitan lebih dulu pada kedua orang tua Luna di dalam. Perempuan yang sudah berbalik hendak pergi itu, melihat punggung Dimas dan tetap berdiri di tempatnya. Harus, dia harus mengatakan banyak hal menyakitkan untuk membuat Dimas agar menyerah, memberi kesempatan pada yang lain untuk bisa bahagia.
__ADS_1
Tidak, dia tidak tahu apa yang membuat Dimas bahagia. Entah itu Rena atau siapa pun, dia tidak mengetahui apa-apa. Tapi satu yang ia tahu, bahwa dirinya tak akan pernah bisa membuat Dimas bahagia dengan mempertaruhkan banyak hal, terutama kedua orangtuanya sendiri.
"Jangan pernah balik lagi, aku mohon. Aku butuh ketenangan," ucapnya seorang diri.
Akan sangat baik jika Dimas tak pernah kembali lagi, akan sangat mudah untuk dirinya agar tak perlu lagi dihantui oleh bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan. Bukan tentang dirinya, tapi tentang semua penghinaan yang pernah dilayangkan pada keluarga.
Sampai sekarang, Luna belum bisa membahagiakan kedua orangtuanya, belum sanggup membalas apa pun yang pernah mereka berikan, belum bisa membuat keduanya damai melalui hari tua. Haruskah ia juga menambah beban pada mereka setelah dewasa? tidak! Luna tak ingin melakukannya.
Napas ditariknya sangat dalam, membuangnya kasar. Luna berjalan ke arah rumah, melepaskan jaket kulit yang menutupi kaos oblong hitam tengah ia kenakan. Senyum terpasang rapi, tak memberi celah bahkan untuk mata menunjukkan apa yang sudah terjadi. Pikiran dan hatinya, ditinggalkan di luar rumah. Hanya ada senyuman ketika di dalam rumah untuk keluarga serta anak-anaknya.
"Dimas ngapain?" tanya Olivia.
"Enggak ngapa-ngapain, Ma. Niatnya mau jemput Aulia, tapi kan udah aku antar. Jadinya ya dia pulang lagi," kilah Luna dengan senyumnya.
"Gak ngabarin dulu?" tanya kembali sang mama.
"Hehehe, Luna kan gak bawa HP. Jadi enggak tau," cengengesan Luna menggaruk tengkuk.
__ADS_1
"Kebiasaan! udah sana cuci kaki sama tangan, anak-anak udah dimandiin sama mba. Sekarang masih di ganti pakaiannya," jawab Olivia.
"Lah, udah bangun aja? biasanya juga siang baru bangun," kata Luna pelan.
"Luna ke kamar dulu ya, Ma!" tambahnya dan mencium sisi wajah sang mama lalu pergi ke kamar.
Olivia tersenyum, namun segera pudar. Tak berbeda dari kebohongan sebelumnya, mata tak pernah ingin bekerja sama. Olivia adalah orang yang mengandung dan melahirkan Luna, bukan orang bodoh yang tak peka sama sekali dengan keadaan putrinya.
Suara dibuat sama, senyum dikembangkan lebar, namun tatap mata mengatakan hal berbeda. Jika boleh, ia ingin untuk mata itu turut melukiskan senyuman layaknya bibir, bukan mata dengan beban yang memaksa bibir untuk terus menyuguhkan senyuman.
Kata orang, dia yang tertawa lebih kencang, dia yang selalu menghibur orang lain, dia yang selalu memberikan banyak dukungan untuk orang lain, adalah orang yang lebih besar menyimpan luka. Orang yang terlihat kuat seperti baja, padahal di dalamnya berusaha mengumpulkan banyak kepingan yang mungkin hilang beberapa.
Bahkan Aldo mengerti hal itu, namun tidak dengan Dimas. Dengan Aldo, ia tak perlu banyak mengatakan, namun begitu mudah untuk lelaki itu memahami dan memberi banyak rasa nyaman. Tapi dengan Dimas, ia berkata lebih banyak, tapi belum tentu dipahami.
Bukan ingin membandingkan, tapi itulah keadaannya. Tak merasakan, tapi itu yang ia rasakan. Luna memasuki kamar, tetap dalam pemikiran tentang sebuah keegoisan dari lelaki yang pernah menikahinya. Tak habis pikir dengannya, yang bahkan rela untuk memiliki hubungan tanpa ada perasaan sama.
Di tempat lain, Dimas tak kembali ke rumah karena adanya Rena. Ia pergi ke rumah Dedrick, untuk sekedar menenangkan diri. Pakaian pun ada disana beberapa, bisa untuk ia pergunakan bekerja. Namun tetap ia terusik akan pernyataan Luna, akan kehadiran Rena. Lelah, sangat lelah untuk terus mengulangi banyak hal sama.
__ADS_1