Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Usaha terakhir


__ADS_3

'sayang, mas menyukai tubuhmu, tubuhmu adalah obat dari segala obat di dunia ini'


'sayang, ronde ke tiga yuk, mas tidak pernah puas dengan permainan kita'


'La, mama kirim lagi tiket liburan, tapi ke Bali lagi, kamu mau ambil atau mas beli sendiri tiket ke luar negeri? Paris, kamu pernah bilang pengen ke Paris kan awal kita nikah, gimana kalau kita kesana saja akhir pekan ini?'


'meski Bali udah sering kita jadikan tempat liburan, tapi kalau sama kamu, mas tidak pernah bosan bahkan selalu saja ada hal-hal baru mas dapatkan, seperti gaya bercinta kita sekarang ini. hehehe'


'aku akan menceraikan Ola lalu menikahi Dewi'


'... sudah cukup satu tahun ini aku menerima dengan terpaksa pernikahan yang tidak pernah aku inginkan ini'


'aku mencintai Dewi bukan Ola'


kelopak mata yang sempat meneteskan air di sudut matanya itu terbuka perlahan dengan napas sedikit memburu. masih dengan posisi berbaring miringnya, bola matanya bergerak-gerak memindai ruangan. ah, ternyata ia baru saja bermimpi. kilas balik masa lalu nya menjelma menjadi mimpi. seolah mengingatkannya akan kesakitan yang ia terima akibat permainan curang lelaki yang saat ini memeluk dirinya posesif dari belakang tubuhnya


Ola mengangkat lengan Esa lalu dengan gerakan sangat pelan perempuan itu berbalik menghadap sang suami. netranya sibuk memindai wajah damai lelaki tampan yang begitu tega memberinya luka batin tak terkira. lelaki ini sangat cerdas bermain peran, berperan sebagai lelaki yang sangat menginginkannya padahal hanya dijadikan pelampiasan nafsu, seolah dirinya tak memiliki hati dan perasaan yang tak akan hancur jika ditinggalkan begitu saja setelah semua sudah lelaki itu dapatkan darinya


cinta dan tubuhnya nyatanya hanya menjadi 'permainan' Esa semata.


puas menatap wajah Esa sembari menikmati rasa sakit di hatinya, Ola beranjak dengan gerakan yang nyaris seringan kapas. ia harus siap-siap menuju bandara karna jadwal penerbangan nya jam 5 pagi, masih ada tersisa lebih dari 30 menit ia bersiap.


sebelum benar-benar meninggalkan kamar, Ola sempat menoleh lagi ke arah ranjang dimana Esa mendengkur halus sembari memeluk bantal yang tadi Ola gantikan demi membebaskan diri dari pelukan Esa


tanpa mengucap sepatah kata, Ola melanjutkan langkah dan meninggalkan kamar juga Esa disana


 


Esa mengernyit dalam tidurnya kala merasakan guncangan yang awalnya pelan lama kelamaan menjadi keras

__ADS_1


Gempa?


bukannya langsung bangun, Esa malah melanjutkan tidurnya sembari mengeratkan pelukannya yang ia kira adalah tubuh sang istri. matanya kesulitan terbuka sebab ia baru bisa tidur jam 3 lewat akibat sibuk memperhatikan wajah cantik istrinya, walau pucat sekali pun aura sang istri begitu memikatnya


"pak Esa, bangun pak"


ah, kenapa malah ia memimpikan suara jelek Han sih


"pak Esa, bangun"


Han si4lan. enyah kau!


"ini udah hampir jam 5 pak, bangun pak"


ada apa dengan Han sih. berani sekali hadir dalam mimpinya


"pak tiket pesawat kita akan hangus loh, pak"


"ya udah deh, bapak lanjut aja tidurnya. lagian tidak mungkin juga kita kejar penerbangan, kurang 5 menit lagi. bu Ola pasti sudah duduk manis di dalam pesawat sekarang"


detik itu juga mata Esa terbuka lebar, menatap bantal yang tengah ia peluk yang kemudian berakhir terhempas ke lantai


"Hansamu, apa Ola sudah pergi?" tanya Esa gusar


"sekitar setengah jam yang lalu pak"


"kenapa kamu baru bilang!!" Esa langsung melompat turun lalu dengan serampangan mengambil ponsel, jam tangan dan dompetnya.


Han berperan mengambil koper atasannya karna Esa sudah tak peduli dengan benda itu

__ADS_1


"saya sudah 30 menit membangun kan bapak. tadinya saya sudah stay dari jam 4 di lobi, begitu melihat bu Ola pergi seorang diri saya langsung ke kamar bapak mengecek. ternyata bapak masih tidur seperti kebo" jelas Han sembari mengejar langkah sang atasan yang nyaris berlari


sebelumnya, Esa memang memerintahkan Han untuk mencari tahu jadwal kepulangan Ola sebab perempuan itu tak pernah menjawab ketika Esa menanyakannya pada sang istri. Esa ingin memesan tiket yang sama agar ia bisa pulang bareng istrinya itu


"apa masih bisa kita kejar penerbangannya?" tanya Esa begitu menaiki taksi hotel. mobil rental mereka sudah Han kembalikan tadi malam karna mereka sudah akan pulang hari ini


Han tak bisa menjawab, melihat waktu kurang 2 menit lagi memasuki angka lima di mesin waktu mini yang melingkar di pergelangan tangannya, perjalanan ke bandara paling cepat memakan waktu sekitar 15 menit.


* * *


sama seperti sidang pertama, Esa juga datang lebih awal di pengadilan. berharap dapat bertemu dan berbicara lebih dulu dengan sang istri sebelum mereka memasuki ruang sidang. tadi pagi ia tak sempat mengejar penerbangan membuatnya kehilangan jejak sang istri meski mereka berada dalam satu kota.


dan kali ini Esa harus bernapas lega diatas rasa nelangsanya begitu melihat mobil rombongan sang istri memasuki pekarangan pengadilan Semarang, ia memiliki waktu setidaknya 15 menit untuk memohon pada sang istri beserta keluarga mertuanya. Esa sudah siap dengan segala bentuk pukulan maupun tendangan yang akan ia terima


tak memikirkan harga diri, Esa langsung berlutut begitu Andi Baso keluar dari mobil. mengabaikan terik matahari, mengabaikan tatapan para karyawan juga tamu pengadilan yang ada di area parkiran, Esa hanya memikirkan bagaimana caranya agar ia tak berpisah dengan sang istri


"saya mohon tolong ampuni saya pa, ma. saya sungguh-sungguh bertobat telah memiliki niat jahat di awal pernikahan saya. saya mohon jangan biarkan Ola menceraikan saya. saya mencintainya, sungguh-sungguh mencintainya"


Esa berucap bahkan meneteskan air mata, siapapun yang melihat wajahnya akan menangkap keseriusan lelaki itu


keluarga Ola tahu alasan Esa mempertahankan gundiknya setelah menerima perjodohan dengan putri mereka. putra tunggal Barack itu terlalu bodoh menilai rasa bersalah menjadi tanggung jawab. namun mereka tak bisa mengabaikan rasa sakit yang mereka alami melihat Ola diseret dalam peranan konyol si Arjuna Reksa


"kamu bersalah, kamu harus menerima akibatnya" ujar Andi Baso lugas


"apapun. apapun asalkan jangan perceraian. saya mencintai putri bapak melebihi apapun di dunia ini" Esa kembali memohon


"kalau saya meminta nyawamu?" tantang Baso membuat Esa seketika menelan ludah. berbeda dengan Ola yang melototi ayah kandungnya itu


"saya....saya iklas, tapi tolong beri saya waktu untuk bersama Ola beberapa waktu lagi untuk mengantikan hari-hari yang dia jalani penuh kesakitan menjadi hari-hari yang penuh tawa, saya hanya ingin membuatnya lupa akan rasa sakit yang pernah saya berikan. setelahnya bapak mau melenyapkan saya, saya rela, asalkan Ola bahagia"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2