
Semua yang di ruang makan, berpindah ke ruang tamu. Dimas sedari tadi memperhatikan dari kejauhan, turut menyusul semuanya. Dia ingin bisa dekat seperti Tyo, tapi juga tak ingin memaksa kedua anaknya dan membuat mereka takut. Duduk di samping Dedrick, tatapannya tak beralih dari Luna dan juga anak-anaknya. Tidak luput pula seorang lelaki yang diminta Dinda agar menyuapi, kecemburuan semakin besar dan menyiksa diri.
Natalie melirik putra pertamanya, sering ia menguatkan Dimas akan apa saja kemungkinan yang bisa terjadi. Entah Luna yang menikah lagi, atau hal lain. Dimas harus berbesar hati untuk menerima dan ikhlas melepaskan. Sesuatu yang terus dipaksa, tentu tak akan baik. Apalagi watak Dony yang sangat di kenal oleh keluarga Dedrick, juga pernah diperingatkan pada Dimas sewaktu pertama kali ingin menjalin hubungan.
Bobby rasanya begitu panas melihat wajah Dimas, ia tak tahan untuk berlama-lama disana. Wajahnya terus berpaling ke arah lain, menjawab pertanyaan pun hanya sesekali saja. Tyo yang jelas paham bagaimana perasaan kecewa juga marah dari sahabat baiknya itu, mengajak Bobby untuk berbicara agar lebih santai. Namun suasana hati tak bisa untuk dibohongi, dia tak bisa santai ketika ada yang mengusik dan membuatnya tak nyaman untuk tetap tinggal.
Setiap kali melihat wajah Dimas, teringat dia akan kesulitan yang harus dilewati oleh adiknya. Telinga pun terngiang akan penghinaan Rena yang pernah terucap dengan keras dan tegas. Luna melihat kakaknya, dia menghapal setiap ekspresi dari Bobby. Ia pun berinisiatif untuk pamit undur diri, walau Natalie berusaha mencegah karena masih ingin menggendong cucunya.
Berdiri usai berpamitan, Luna keluar di antar lainnya. Aulia dan Brian pun mengantar ke depan, si kembar berjalan lebih dulu dengan es krim di tangan. Sebenarnya sudah malam untuk mereka makan es krim, tapi Luna segan jika harus menolak Tyo dan Siska. Berhenti di teras untuk mencium tangan, tiba pada bocah laki-laki yang dulu sangat malu-malu terhadapnya. Luna mencubit sisi wajah Brian dan berpamitan, siapa menyangka jika bocah itu memeluknya untuk pertama kali.
"Kenapa gak tidur disini?" polos Brian bertanya.
"Hehehe, ya enggak dong. Nanti kamu aja yang nginep di rumah, gimana? mau kan?" sahut Luna.
Brian menoleh ke arah Dimas, wajahnya terpasang masam. Luna mengacak rambut Brian pelan, mencium keningnya dan berganti pada Aulia. "Tidur tepat waktu, hubungi mami. Awas aja enggak," kata Luna berusaha memasang wajah tegas namun justru menggelikan bagi Aulia.
"Malah ketawa," ucap Luna melihat putrinya tertawa lirih.
"Ya udah mami pulang dulu," tambahnya lagi.
Berpamitan sekali lagi dan masuk ke mobil, Dimas semakin geram ketika ia harus melihat Aldo membantu kedua anaknya masuk mobil setelah Luna lebih dulu masuk. Kalau saja ia bisa, pasti akan menegur dengan sangat tegas. Tapi Dimas tidak bisa melakukan hal itu, akan memperkeruh keadaan. Aldo sendiri tidak mengatakan apa-apa padanya, lelaki itu memang sering diam dan hanya berucap yang penting saja. Dimas hanya bisa berharap, jika ucapannya waktu itu akan terus diingat oleh Aldo.
__ADS_1
Dedrick merangkul cucu pertamanya, seraya menepuk lirih dan menoleh menyuguhkan senyuman. Dimas membalas senyum itu terpaksa, hatinya gundah dan terlukis nyata dalam sorot mata. Mobil yang dikemudikan oleh Bobby, keluar dari halaman. Sengaja menggantikan Aldo untuk mengemudi, dan juga ingin segera masuk lebih dulu tadi, sehingga memilih tempat di balik kemudi agar tak terlalu mencolok.
"Gak adil banget ini! Olivia bisa tiap hari sama mereka, aku?!" gerutu Natalie.
"Kan emang tinggal disana, Ma. Kamu juga bisa datang kapan aja," jawab Teddy.
"Datang juga mereka gak pernah mau," cemberut Natalie, ditertawakan oleh suami juga papa mertuanya. Tyo pun tak absen untuk tertawa ketika rasa sebal itu ditunjukkan oleh sang mama.
"Dimas masuk dulu," pamit Dimas menyela.
Langsung berjalan memasuki rumah, diperhatikan oleh keluarganya di luar. Natalie menarik napas dalam, menggelengkan lirih kepalanya. "Kapan bisa kayak dulu lagi?" ucapnya pelan.
"Kita tidur sama papi ya, Nek?" kata Aulia.
"Semua aja gak ada yang mau sama neneknya!" makin kesal Natalie, tersenyum dua anak saling merangkul di depannya.
"Kamu jahat sih," goda Dedrick, diiringi senyum keluarganya.
Aulia menyusul Dimas ke dalam dengan tetap merangkul Brian. Terkadang tidur dengan Natalie, tapi kini ingin tidur bersama papinya. Apa pernah dilakukan oleh Dimas karena putus asa, tak ingin untuk Aulia melihat hal sama. Walah tanpa kata terucap dari bibir kedua orangtuanya, Aulia seakan tahu jika pertemuan kali ini tidak baik-baik saja.
Tyo di luar membuang napasnya panjang, meletakkan kedua tangan di depan dada. "Ah, rumit ini ... rumit!" menggeleng Tyo dengan kedua mata terarah ke dalam rumah.
__ADS_1
"Apa sih, Sayang? udah kayak pejabat ngurusin negara aja," kata Siska.
"Tau nih Tyo!" timpal Natalie.
"Rumit dong, perempuannya satu dan cowoknya dua. Masa iya harus milih? kan rumit," kata Tyo.
"Udah, itu urusan mereka. Kamu gak usah mikirin," ucap Teddy menepuk pundak putranya.
"Lagian juga, itu urusan hati dan gak bisa buat dipilih. Kalau emang udah gak bisa, yaudah biarin aja. Nanti Dimas juga bakalan bisa nerima kenyataan," kata Natalie.
"Ih, tumben mama ngomongnya gitu?" sahut Tyo.
"Kurang ajar!" protes sang mama.
Lagi-lagi tawa terdengar dari mereka, lalu masuk ke dalam bersamaan. Jika Dimas memiliki sikap dingin dan sulit untuk mengutarakan apa dirasakan, dan hanya bisa mengatakan pada sang adik saja, maka berbeda dengan Tyo. Dia memiliki sifat berlawanan dengan Dimas. Lelaki hangat yang suka bercanda, tapi amarahnya jangan pernah ditanya. Sebagai kakak, Dimas juga pernah terkena amarah dari sang adik yang membela Luna waktu itu.
Seperti apa sering dikatakan oleh orang, jika seseorang yang pendiam saja begitu menakutkan saat marah, lalu bagaimana dengan orang yang suka bercanda? mungkin itu jelas menggambarkan seperti apa Tyo dan Bobby, dua laki-laki berwatak sama walau tak memiliki hubungan darah. Suka bercanda dan tertawa, mengatakan hal-hal yang menggelitik dan asal, namun amarahnya sanggup menggemparkan.
Amarah itu pula yang coba dihindari oleh Luna tadi, sehingga memutuskan berpamitan begitu tahu ekspresi dari kakaknya. Pernah hampir menghajar Dimas karena tak terima akan adanya pernikahan lagi, untung saja Luna dan Dony bisa mencegah.
Jika tidak, maka siapa yang akan tahu bagaimana akhir dari semua emosi itu. Bobby hanyalah seorang kakak yang tak pernah terima dengan apa terjadi pada sang adik. Namun kasih sayangnya tak buta, Bobby lebih dulu mencari tahu alasan dibalik semua yang ada.
__ADS_1