
"Jangan senyum, bikin gak bisa tidur kalau malam." Luna berbicara lirih, Aldo masing sanggup mendengar dan tertawa seraya menundukkan kepala.
Luna turut tertawa bersama, sampai Natalie dan Olivia datang mengembalikan ponsel Aldo. "HP kamu bunyi terus," ucap Olivia sembari menyodorkan ponsel.
Aldo meraih ponsel diberikan oleh wanita yang berdiri di belakang tubuhnya, melihat siapa yang telah membuat ponselnya tak henti berbunyi. Dimatikan kembali lalu menggenggamnya, ia tak membalas atau menghubungi kembali nomor yang telah menghubungi dirinya.
Beberapa pesan dan panggilan tak terjawab, dibiarkan oleh Aldo sampai dia benar-benar ingin membalas. Itulah kebiasaannya, tak segera membalas pesan atau menghubungi kembali. Terkadang itu dibiarkan hingga satu Minggu, baginya jika penting pasti akan menghubungi lagi.
Natalie dan Olivia duduk di samping mereka, Luna dan Aldo berada di tengah. Menatap ke arah keduanya bergantian, senyum dikembangkan bersama. "Apa sih, Ma?" mengernyit kedua alis Luna melihat sang mama.
"Kenapa? ada apa? kabar baik apa buruk?" goda Olivia memainkan alis naik turun.
"Aldo ngajakin Luna nikah," sahut Aldo mengejutkan kedua wanita yang serentak memajukan kepala dan menoleh ke arahnya.
"Apa?!" serentak keduanya membulatkan mata.
"Eng—enggak ... enggak ada," terbata Luna, menggelengkan kepalanya cepat.
"Iya," singkat Aldo.
"Terus?! jawabannya apa?!" tanya Olivia heboh.
"Iya, setuju?!" tambah Natalie tak kalah heboh.
"Belum ... belum di jawab sama Luna. Katanya suruh nanya papa dulu," sahut Aldo santai.
"Apaan sih?!" protes Luna memukul lengan berotot Aldo, tersenyum lelaki itu.
"Ya udah sana! cepetan hubungi papa kamu!" kata Natalie bersemangat, mendorong tangan Aldo dimana ponsel berada.
"Ah, enggak!" cegah Luna cepat, menahan tangan Aldo.
"Belum boleh! udah pegang-pegang aja!" kata Olivia.
Luna menyeringai, ia melepaskan tangan lelaki yang justru semakin menunjukkan senyum lebar. "Hehehe, refleks. Bukan mau pegang-pegang," cengengesan Luna.
__ADS_1
"Tapi ini serius kan?! kalian gak lagi bohong?!" tegas Natalie.
Hanya senyum diberikan oleh Aldo, ia tak menjawab apa-apa. "Mau ke anak-anak sebentar," ucapnya langsung berdiri.
"Kebiasaan!" gerutu Natalie kesal.
Aldo pergi meninggalkan ketiganya, menuju ke taman dimana keempat anak itu masih sibuk bermain. Entah apa yang dimainkan, seakan tak ada bosannya. Giliran Luna yang sekarang menjadi pusat perhatian, Natalie dan Olivia memasang wajah penasaran ke arahnya.
"Emang barusan ngelamar?" lirih Luna sembari menatap punggung Aldo.
Kedua orang yang ia panggil mama, segera menggeser duduk dan mengapit. "Beneran? terus gimana?" penasaran Olivia.
"Hehehe, Luna dari tadi itu pengeeeeeen banget minum. Luna masuk dulu ya, Ma." Perempuan itu berdiri, lalu berjalan cepat ke dalam rumah.
"Itu berdua emang jodoh kayaknya!" Natalie dan Olivia berucap kesal, menoleh ke arah Luna.
"Tapi kalau beneran ...," ucap Olivia menggantung, ia melirik Natalie.
"Udah, santai aja! mau siapa pun yang nikah sama Luna, tetap dia anakku. Jodoh kan bukan kita yang ngatur," kata Natalie, tak ingin untuk Olivia segan padanya.
"Padahal masih muda ya?" bangga Natalie.
"Padahal emang udah tua," jawab Olivia lalu tertawa, disusul tawa Natalie.
Tidak ingin untuk Olivia merasa segan, toh memang Natalie tak mempermasalahkan. Jodoh sudah di atur oleh Tuhan, tak peduli seperti apa jalannya. Kalau memang jodoh, pasti akan dipersatukan bagaimana pun caranya.
Natalie sendiri bersemangat ketika mendengar jika Aldo telah melamar, dia turut bahagia. Ya, walau pasti akan ada hati lain yang terluka nantinya. Tapi Natalie juga tak bisa menutupi apa yang ia rasakan sekarang. Kelak, Dimas juga pasti akan menerima dengan lapang dada.
Walau Luna sendiri tak merasa itu sebagai lamaran seperti apa dikatakan oleh Aldo, ia menganggap semua hanya percakapan ringan saja. Entah dirinya yang tak peka, atau memang nada bicara Aldo yang selalu santai.
Di dapur, Luna meneguk air putih. Puding sudah dingin di atas meja dapur, ia masukkan ke dalam lemari es. Asisten rumah tangga ada disana, mempersiapkan bahan untuk memasak makan malam. "Masaknya tunggu aku ya, Bi. Sekalian mau belajar," kata Luna.
"Iya, Mba. Ini bibi cuma siapin aja bahannya," sahut asisten rumah tangga.
"Ya udah, aku mau mandiin anak-anak dulu. Habis itu bantuin di dapur," kata Luna.
__ADS_1
"Iya, Mba. Bibi siapin lainnya dulu," jawab kembali wanita berikat rambut di tengkuk itu.
Luna mengangguk, hari sudah makin sore dan Luna pun harus segera memandikan kedua anaknya. Tak lama lagi juga Dony kembali, jadi semua harus sudah segar ketika kakek mereka datang. Hendak memanggil anak-anaknya, tapi mereka sudah berada di teras.
Nenek mereka sudah memanggil lebih dulu, Aldo pun telah membujuk mereka untuk menyudahi acara bermain untuk hari ini. Mendekati anak-anaknya, berniat mengajak untuk mandi. Tapi penciuman Luna terusik seketika, bau anak-anaknya menusuk hidung.
"Aduh, bau matahari campur keringat. Mantap banget," kata Luna usai menciumi kedua anaknya.
"Kakak mandi dulu di kamar, Brian juga mandi ya? bau semua kalian," tambah Luna ke arah dua anak yang lain.
"Brian gak bawa ganti, Mi. Mau ganti apa?" jawab Brian.
"Ada, di mobil pakaian kamu. Nenek kan baik, udah disiapin dong. Orang rencananya kita pulang malam," sela Natalie.
"Emang aku izinin?" goda Olivia.
"Jahat banget!" kata Natalie, mengundang tawa Aulia dan Brian serta Luna.
"Bercanda dong, masa iya serius sih? padahal emang serius banget," lagi-lagi Olivia menggoda, tangan ia letakkan pada pundak teman baiknya.
"Tau ah!" berlagak merajuk Natalie, melipat tangan di dada.
"Marah? ya udah lanjutin dulu," kata Olivia.
"Kita masuk yuk, nenek bantu kalian mandi. Kan cuma nenek yang paling baik, iya kan?" tambahnya pada semua cucunya.
"Oh, tidak bisa!" sahut Natalie lebih cepat dan berdiri, tak ingin terkalahkan.
"Mandi semua! sendirian! udah gede!" tegasnya pada Aulia dan Brian, lalu pergi ke halaman rumah. Semua kembali tertawa, karena berpikir jika Natalie akan membantu tapi justru menyuruh mandi sendiri dengan tegasnya.
"Mau kemana?!" tegur Olivia.
Natalie berbalik badan, teguran itu menyadarkan dirinya. "Nenek lupa, mobilnya kan dibawa pulang tadi. Jadi baju kamu ya enggak ada," ucapnya pada Brian.
Brian sudah mengetahui hal itu, makanya dia bilang kalau tidak ada pakaian ganti. Luna, Aulia dan Aldo tersenyum tanpa berani tertawa. Sedangkan Olivia memajukan bibir dan mengembangkan lubang hidung. "Dasar pikun," gumamnya sangat lirih.
__ADS_1