
dalam keheningan, Esa tak tau harus bereaksi apa selain menghela napas panjang. istrinya yang ia kenal dewasa dan baik hati berubah labil dan terkesan mempermainkan dirinya.
baru saja ia merasakan angin segar kini dalam sekejap berubah jadi beliung. ketika Esa dengan niat tak sungguh-sungguh berpamitan pulang tadi, Ola menyuruhnya menginap, yang tentu membuat Esa bahagia bukan main. namun nasib buruk masih menempeli dirinya, Esa malah berakhir di kamar tamu. si istri cantiknya masih enggan berbagi kasur dengannya.
marah? lebih ke perasaan kesal sih. tapi ia tak bisa melakukan apa-apa selain mengalah. dosanya terlalu besar pada istrinya sehingga Esa lapang dada menghadapi sikap Ola yang ambigu. terkesan memberi kesempatan tapi masih jaga jarak.
baiklah, penghianatan nya memang tak bisa langsung hilang dari ingatan bagaimanapun ia bertobat. Esa tak punya pilihan selain merebahkan dirinya di kasur empuk seorang diri tanpa ditemani istrinya. bolak kanan balik kiri, nyatanya matanya tak merindukan mimpi. terhitung sudah dua jam ia seperti cacing kepanasan di atas ranjang, bahkan seprai lembut itu tak berbentuk lagi.
"Ola lagi ngapain, ya?" monolognya setelah beranjak duduk lalu menyanderkan punggungnya di kepala ranjang
iseng-iseng Esa mengambil ponselnya, namun matanya langsung berbinar mendapati room chat yang ingin ia lihat foto profilnya tertanda online. tak butuh dua detik Esa langsung menekan icon telpon
Istrinya Mas Esa 👩❤️💋👨💦
berdering...
"loh, loh... kok nggak online lagi" keluh Esa mendapati status berdering berubah memanggil
"chatingan sama siapa dia sampai selarut ini?" monolognya, otak jeniusnya tiba-tiba membayangkan beberapa hal lalu menyatukannya, dalam bayangan Ola terlihat cekikikan sembari berbalas chat dengan seorang lelaki, saling berkabar dan mengirim foto masing-masing sebagai ucapan selamat malam.
"TIDAK!!!" teriak Esa berusaha menghilangkan apa yang terangkum dalam imajinasinya
__ADS_1
bak remaja yang sedang patah hati, Esa melempar kesal ponselnya ke bantal "Argh..."
tak tahan dengan kekesalan yang melanda jiwa, Esa lekas beranjak lalu keluar menuju kamar Ola. ia sudah bertekad akan memeriksa ponsel istrinya dan menciduk hal apa yang membuat istrinya online tengah malam begini. tak akan Esa biarkan perempuannya itu menduakan dirinya. jika perlu, Esa akan mematahkan kaki Ola sehingga tak ada lagi laki-laki yang tertarik dengan istri cantiknya itu. Ola hanya untuknya seorang!!
"La?" panggilnya sembari mengetuk pintu kamar. 5 menit dari terakhir Ola online tidak mungkin perempuan itu sudah tidur, bukan? harusnya sih iya, jikalau perempuan yang ada di dalam sana tidak merubah kebiasaannya. Esa tahu betul kalau Ola perlu waktu beberapa menit untuk terlelap, sebab bos perusahaan arsitektur bangunan itu setiap malam melambungkan semua imajinasi desainnya dalam otak, setelah menemukan 2 atau 3 ide yang akan menjadi bekal kerjanya pada esok hari, barulah Ola akan terlelap dalam pelukannya.
pelukannya...
dalam peluknya...
ah... memikirkan itu, Esa ingin memeluk istrinya. hanya memeluk sudah cukup.
"La, buka pintunya sebentar"
ucapan Esa terpotong begitu pintu kamar terkuak lalu tak lama setelahnya, muncul seorang wanita dengan pakaian tidur berbahan satin, stelan baju dan celana panjang berwarna ungu muda. ekspresi memelas Esa seketika berubah menjadi binar nafsu. bahkan kemarahannya yang berniat melabrak ponsel istrinya hilang dalam sekali kedipan.
yaps, otaknya langsung terkoneksi dengan hal-hal yang di bungkus kain lembut nan licin itu... berapa lama Esa tak merasakan keindahan alami ciptaan Tuhan pada tubuh perempuan sahnya itu?
"ada apa sih? udah larut ini, nggak bisa besok aja?"
"La, mas ingin menghamili mu. mas perk¢sa kamu, boleh?" tanya Esa bodoh
__ADS_1
apa katanya? boleh memperk¢sanya? ada orang setolol itu ya minta izin ketika ingin melakukan kejahatan?
"mas mau punya anak sama kamu, La" lanjut Esa dengan nada dan ekspresi bak anak kecil yang meminta dibelikan mainan baru
"kemarin yang tidak sudi punya anak dengan saya, siapa?" tantang Ola mengingatkan bagaimana Esa selalu mencekoki dirinya pil kb atau menuntutnya suntik kb setiap bulannya
sebenarnya Ola sudah bertekad akan berusaha melupakan kisah kelam itu demi mempertahankan pernikahannya. ya, Ola ingin memberikan kesempatan pada pernikahan mereka, selain melihat bagaimana tekad Esa ingin mempertahankan pernikahan mereka, Ola juga mempertimbangkan alasan di balik Esa mempertahankan Dewi yang hanya karna nurani kasihan. perhatian lelaki itu memang pernah mendua, namun cinta Esa sebenarnya tak pernah mendua.
hanya saja ia masih dalam proses belajar iklas, dan ketika Esa mengatakan hal-hal yang mungkin tak sengaja menyinggung ke arah sana, otomatis hati Ola kembali merasakan pahit dan perih.
"bukan tidak sudi, mas akui memang bodoh dan brengsek..."
niat Esa menjaga agar Ola selalu aman jika mereka berhubungan bukan karna tak sudi perempuan itu mengandung anaknya, bukan! siapa yang tidak menginginkan keturunan dari seorang perempuan cantik dan terpelajar seperti Andi Tenri Ola yang paripurna? hanya saja, dengan tak menghamili adalah cara Esa menjaga Ola agar tak semakin menderita akan rencananya yang berniat melepaskan Ola dulu. ya dulu, sekarang niatnya itu malah berbalik menyerangnya menjadi sebuah momok penyesalan terhebatnya.
mungkin saat ini tangis bayi merah sudah menjadi nyanyian merdu yang menggema di dalam rumah mereka. ah, andai saja.
"mas minta maaf, La"
sejujurnya telinga Ola sudah kenyang mendengar kata maaf dari Esa. selain muak, ada rasa kasihan melihat kepercayaan diri suaminya jadi menciut karna kalimat pedasnya.
Esa bahkan rela mengemis-ngemis hanya untuk mempertahankan pernikahan mereka. lelaki di luar sana banyak yang bahkan tega membuang istri sah demi mencari kesenangan dengan wanita lain.
__ADS_1
"aku siap hidup sama mas lagi" ungkap Ola dengan nada lemah, bahkan sudah menggunakan kata aku "asalkan mas bisa dapat restu kembali dari orang tuaku" lanjutnya memberi syarat
Bersambung...