
"La?" panggilan dengan nada memelas itu benar-benar mengganggu konsentrasi perempuan yang tengah fokus menyempurnakan desain bangunan di kertas kerjanya
"apa sih mas?" jengah, Ola akhirnya menoleh ke arah sang suami yang tadinya berwajah frustasi kini tersenyum menyebalkan dengan posisi berbaring menyamping ke arahnya
"ini udah malam sayang, istirahat yuk. besok aja lanjutin kerjanya ya?" bujukan Esa masih sama seperti beberapa waktu lalu
"nggak. ini tuh deadline, besok pagi udah harus rampung" setelah memberikan jawaban, Ola kembali mencoba fokus pada lembar kerjanya
"La, ingat perjanjian kita ya, nggak boleh mengerjakan pekerjaan lain di kamar selain istirahat" tak kehilangan akal Esa mengungkit kesepakatan mereka dulu
"itu dulu, sebelum aku tahu kamu mengingkari kesepakatan yang jauh lebih penting dari sekedar pelanggaran yang aku lakukan"
"mas tobat sayang, tobat, mas sudah tobat" Esa bergerak dari posisinya, lalu memeluk perut sang istri dan menenggelamkan wajahnya di pinggang wanitanya
Ola melirik suaminya, lalu menghela napas pendek kemudian tangan kirinya yang bebas dari pensil bergerak menepuk pelan kepala sang suami. ada setitik rasa bersalah karna mengungkit kesalahan masa lalu yang telah Esa tebus dengan menempuh berbagai cara demi membuktikan bahwa lelaki itu sudah terbangun dari kebodohan.
"ini bentar lagi selesai mas. salah siapa coba tadi ganggu aku di kantor sampai kerjaan aku nggak beres?" ujar Ola dengan sindiran diakhir kalimatnya.
lelaki yang tak di temuinya selama dua hari itu tiba-tiba datang ke kantornya dan merecokinya dengan berbagai tingkah, juga celotehan bagaimana perjuangan lelaki itu yang ternyata telah berhasil meyakinkan keluarga besarnya di Makassar atas keseriusan Esa yang ingin mempertahankan pernikahan mereka.
"mas rindu sama kamu, sayang"
"iya. aku selesai-in dulu ya" bujuk Ola layaknya tengah berhadapan dengan bocah
"tapi mas udah ngantuk"
"mas tidur duluan aja, ya. sana kembali ke bantal mu mas"
"tapi mas nggak bisa tidur kalau lampu masih nyala"
"ya udah aku lanjut di luar kamar aja" baru bergerak sedikit Ola tersentak dengan suara tinggi Esa
"jangan!" seru Esa sembari menjauhkan diri "disini saja. kamu lupa Han tinggal disini? mas nggak mau kalau matanya itu melihatmu malam-malam begini. bisa tergoda dia" lanjut Esa dengan pikiran yang terlalu jauh membuat bola mata Ola berputar jengah
"Tidak mungkin mas. tapi kalaupun dia tergoda, dia bukan tipe aku, kok" Ola kembali menyamankan posisi duduknya di atas ranjang mereka
__ADS_1
"jadi tipe kamu seperti mas ini?" goda Esa sembari menaik turunkan alisnya
"tidur mas"
"nggak. mas mau tunggu kamu"
"katanya ngantuk"
"nggak jadi. maunya sama kamu aja"
"apaan sih. udah ah nggak usah bicara. kapan selesainya kerajaan aku kalau mas ganggu terus"
"MasyaAllah... cantik banget istri aku" gumam Esa yang sebenarnya masih bisa didengar Ola tapi perempuan itu abaikan karna fokusnya kini pada lembar gambarnya
_ _ _ _ _
di lantai bawah rumah pasangan suami istri yang baru saja sepakat tinggal seatap lagi untuk memperbaiki kembali pernikahan mereka, tepatnya di sebuah kamar tamu, Han juga masih sibuk dengan laptop dan ponselnya.
demi gaji 3 kali lipat setelah di angkat dari asisten biasa menjadi asisten pribadi, Han rela mengurangi waktu istirahatnya akibat pekerjaan yang juga kadang membludak seperti saat ini. kerjaan yang terabaikan 2 hari akibat Esa dan Han mangkir dari tanggung jawab pada perusahaan. untung saja sang direktur utama masih memberikan mereka kesempatan agar tetap menjadi bagian dari perusahaan.
"aneh banget. bukannya mereka harusnya bersyukur aku mau membayar hutang cepat ya. mereka tidak perlu repot-repot menangih tapi kok ini malah pengajuan pelunasan pinjol aku ditolak sih" Han mencak-mencak akibat dibuat pusing dengan pinjaman uang 30 juta di sebuah situs pinjol online, sekarang Barack sudah mengembalikan semua akses keuangannya, Han berniat membayar cepat hutang yang dipinjamnya dua hari lalu beserta bunga pinjaman tersebut, namun sudah lebih 10 kali percobaan pengajuan pengembalian dana pinjamannya di tolak
uang pinjaman yang awalnya hendak dipakai membayar tagihan makan jadi beralih fungsi jadi dana membeli tiket pulang ke Semarang.
"ah sudahlah" Han capek mengetik hal yang sama, alhasil ia menyerah dan keluar dari aplikasi pinjol tersebut. pekerjaan lain masih melambai-lambai meminta perhatiannya agar segera di eksekusi, pekerjaan yang harusnya melibatkan Esa juga tapi bos dari Han itu mungkin sudah mesra-mesraan dengan istrinya di kamar utama rumah mewah ini.
"astaga apa yang kau pikirkan otak" rutuk Han sembari menggelengkan kepala guna mengenyahkan pikiran mengenai pak bos dan dan ibu bosnya
_ _ _ _ _
Keesokan paginya, seorang wanita paru baya dengan pakai sederhana namun berharga jutaan membungkus tubuh anggunnya baru saja keluar dari mobil Alphard putih yang di kemudikan sopir pribadinya, wanita cantik itu semakin cantik dengan senyumnya yang menawan
"mama ratu coming!" serunya setelah jemari putihnya menekan bel
"kok nggak ada tanda-tanda kehidupan ya, apa mereka belum bangun?" monolog Ratu setelah beberapa kali memencet bel
__ADS_1
"ck, setelah ini aku harus mencarikan mereka pembantu, kalau ada pembantu kan aku nggak harus berdiri lama menunggu dibukakan pintu seperti ini. mana telpon aku nggak ada yang angkat"
setelah hampir 10 menit berdiri menunggu, pintu rumah akhirnya terkuak, dari ekspresi nelangsa berubah pura-pura kesal namun secepat kilat berganti kebingungan, kedua netra kesukaan papa Barack itu mengerjap seolah ingin memastikan penglihatannya yang masih sehat
"sejak kapan putraku berubah pendek dan berwajah standar begini?" gumam Ratu dengan suara tercekat seolah tak percaya
"apa ini efek kutukan dari istri yang tersakiti?" lanjutnya sembari bergidik ngeri
Han yang tak tersinggung meskipun jelas pendengarannya menangkap maksud lain dari mulut istri bos besarnya tetap mempertahankan senyumnya "mohon maaf membuat nyonya menunggu, tadi saya di kamar mandi. silahkan masuk nyonya, bentar lagi pak bos dan bu bos akan turun" ujar Han membungkuk hormat lalu kemudian menggeser tubuhnya memberi ruang agar Ratu bisa masuk
mendengar panggilan 'nyonya' menyadarkan Ratu dari prasangka buruknya. ah, ternyata pria di depannya bukan lelaki titisan Barack alias putranya, si Arjuna Reksa Nugraha
"kamu Han, ya?" tanya Ratu sembari berjalan masuk dan Han mengekor di belakangnya
"benar nyonya"
"maaf Han, saya tidak mengenali kamu tadinya. otak saya langsung berpikiran tidak-tidak mengenai nasib putraku" ujar Ratu sungguh-sungguh
"tidak apa-apa nyonya. saya paham"
"oh ya, kamu tinggal di sini?" tanya Ratu setelah mendudukkan bokongnya di ruang keluarga
"iya nyonya, sejak ibu Ola pindah tinggal di apartemen, pak Esa menyuruh saya tinggal sementara di sini"
Ratu mengangguk-angguk mengerti. sejak mengetahui pernikahan putra dan menantunya hendak dicerai oleh pengadilan agama karna kebodohan Esa sendiri, Ratu tak baik-baik saja, bahkan ia pernah dirawat di rumah sakit, dan sejak dinyatakan boleh kembali ke rumah dengan catatan tak boleh banyak pikiran, banyak hal yang dilakukan putranya tak dipedulikan lagi oleh Ratu. alih-alih memantau sang putra, Ratu lebih memilih memantau keadaan Ola dari jauh.
"sebenarnya, semalam saya sudah ingin pamit pulang ke apartemen saya karna ibu bos juga sudah bersedia tinggal di rumah ini lagi, tapi pak Esa melarang saya" lanjut Han memberitahu agar Ratu tak salah paham padanya yang betah tinggal di rumah mewah atasannya
mendengar penjelasan Han, Ratu langsung menangkap sesuatu yang ganjal "Apa Ola mengajukan persyaratan saat memilih kembali?"
"benar nyonya. entah bercanda atau memang masih menyimpan kecewa, bu Ola siap pulang ke rumah ini dengan syarat belum siap sekamar dengan pak bos, tapi pak bos melakukan cara licik, setelah bu Ola dan semua barang-barang dari apartemen sudah sampai di sini, Pak bos tak memberi pilihan selain bu Ola tidur di kamar mereka dengan alasan ada saya di kamar tamu dan dua kamar lainnya sebelumnya sudah saya keluarkan kasurnya atas perintah pak bos"
Ratu mendengus keras mendengar cerita panjang Han mengenai kelicikan Esa demi menggaet menantu kesayangannya
"anak itu benar-benar licik, tapi sialnya saya dukung"
__ADS_1
Bersambung...