Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Unperfect Marriage 21


__ADS_3

"Siapa yang bilang?" balas tanya Aldo sembari mencuci di wastafel.


Aulia menggelengkan kepala, senyum ditunjukkan olehnya bersama kedua mata yang menyipit. "Hehehe, Enggak ada. Aku ngerasa kayak gitu aja sih," jawabnya.


"Om masih suka kan sama mami?" tanya kembali Aulia.


"Ada PR gak? semua pelajaran udah diulang?" tanya Aldo, mengalihkan topik pembicaraan. Aulia memajukan bibir, tapi menyuguhkan senyum kemudian. "Ke depan sana," tambah Aldo.


"Om sih gitu," pasrah Aulia dan keluar dari dapur.


Sesekali ia menoleh, tapi lelaki tengah mengeringkan tangan itu masih tak memberi jawaban. Justru isyarat mata diberikan, agar Aulia segera pergi ke depan. Membiarkan puding di atas meja dapur, Aldo turut ke depan. Langsung berjongkok melihat si kembar asyik bermain, mengacak rambut Dinda sejenak.


"Udah selesai di atas?" tanya Luna.


"Belum, ada mama disana." Aldo menjawab tanpa menoleh, mainan ia ambil dan memberikan pada Rendi.


Tak ada orang laki-laki di rumah selain sopir, Olivia sengaja meminta tolong Aldo untuk datang dan menunggu tukang yang membetulkan kamar biasa dipergunakan Luna bekerja, karena bocor. Tidak mungkin untuk menunggu sendirian, atau menyuruh Luna yang menunggu. Tukang pun segan jika harus ditinggalkan sendiri.


Lagi pula, Aldo tak ada kelas hari ini dan sibuk bermain dengan gitarnya saja. Malas untuk keluar dan nongkrong, walau sudah diajak temannya. Kerjaan sebenarnya banyak, tapi tidak masalah untuk dikerjakan nanti saja. Ia tidak mungkin untuk menolak permintaan Olivia, tidak ada niat juga untuk menolaknya.


"Tidur aja, biar aku yang jaga anak-anak. Mata kamu udah berat banget," kata Aldo melihat perempuan sudah tiga kali menguap.


"Hehehe, kalau diam suka ngantuk." Luna tertawa kecil.


"Ya makanya tidur," kata Aldo lagi.


"Masih ada kerjaan, lagian juga udah jam segini. Nanti malam aja tidurnya," jawab Luna.


"Keras kepala!" gumam Aldo.

__ADS_1


Terbiasa untuk sibuk sendiri, jika diam pasti akan lebih cepat mengantuk. Mata Luna terlihat sayu, berulang kali ia menguap. Hari ini tak ada yang tidur, dipaksa juga tak akan bisa. Si kembar memang begitu ketika ada teman bermain, seakan rasa kantuk lenyap dan tergantikan dengan semangat saja.


Aulia dan Brian memperhatikan kedua orang dewasa di depan mereka, pembicaraan pun mau tak mau pasti terdengar. Brian pernah bertanya pada Aulia tentang siapa Aldo, dan kenapa ia terus ada di rumah Dony juga dekat dengan perempuan sudah akrab ia panggil mami. 


Siapa pun yang tak mengetahui, wajar bila bertanya layaknya Brian. Memang, Aldo lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Dony bersama ketiga anak Luna, dari pada keluar. Rumahnya dipergunakan bekerja dan istirahat, hari-harinya lebih banyak di tempat seseorang telah menganggapnya keluarga sendiri.


"Kita main di taman boleh gak, Mi?" tanya Aulia, tak ingin mendengarkan percakapan antar orang dewasa.


"Iya, gak apa-apa. Tapi gak boleh mainan air ya," jawab Luna.


"Iya, Mi." Aulia mengangguk.


Lebih dulu memasukkan semua mainan ke dalam kotak sebelum pindah keluar, Aulia mengajak adik-adiknya untuk membantu. Seperti apa pernah dikatakan oleh Luna ataupun keluarga kakek buyutnya, Aulia tak ingin untuk mendengarkan percakapan orang tua kecuali memang diajak. 


Nilai semacam itu, diterapkan dalam hidupnya sedari kecil. Dimas pun mendidiknya semacam itu, sehingga Aulia terbiasa dan merasa tak nyaman berada di antara orang tua yang sedang berbincang. Menuntun Dinda dan Rendi ke taman, Brian pun ikut dengan ketiganya.


"Kamu tau kalau Rena mau kesini?" tanya Aldo begitu keempatnya sudah pergi.


"Tau kok," singkat Luna mengangguk, mereka duduk pada tangga yang ada di teras sembari mengawasi keempatnya.


"Terus?" tanya lagi Aldo.


"Ya enggak apa-apa, aku juga yang kasih saran ke dia. Kalau disana, dia pasti kepikiran sama Brian, dan Brian juga pasti butuh mamanya." Luna menoleh dan tersenyum.


"Kamu baik-baik aja?" tanya lelaki dengan jarak duduk lumayan tersebut.


Luna masih dengan senyumnya, ia mengangguk. "Satu datang, satu harus pergi. Lebih baik kayak gitu kan?" ucap Luna.


"Kamu gak mau kasih kesempatan ke Dimas sekali lagi?" tanya Aldo, gelengan kepala di dapat lebih cepat sebelum bibir berkata.

__ADS_1


"Aku nyaman kayak gini, aku gak mau pusing sama urusan kayak kemarin. Capek," jawab Luna menyeringai pada kalimat capek.


"Kamu butuh pendamping, gak bisa kayak gini terus. Paling gak, ada yang bisa jaga kamu sama anak-anak, jadi tempat bersandar dan cerita banyak hal. Anak-anak juga butuh keluarga yang utuh," kata Aldo, lagi-lagi senyuman ditunjukkan oleh perempuan berambut pendek di sampingnya.


"Kan ada kak Aldo, mama, papa, kak Bobby." Luna merekahkan senyum.


"Beda sama suami," ucap lelaki berkaos hitam yang masih menatap ke arah Luna.


"Mau nikah sama aku aja?" tambahnya, tersentak Luna dan langsung tertawa sembari memukul lengan Aldo.


"Kebiasaan kalau ketawa, tangannya gak bisa diem!" gerutu lelaki tengah mengusap lengan itu.


"Kak Aldo kalau ngomong, sukanya langsung. Kasih aba-aba dulu kek," ucap Luna.


"Mau?" serius Aldo.


"Hehehe," tawa paksa Luna menoleh ke arah lain.


Aldo tersenyum tipis, namun wajah terlihat menantikan sebuah jawaban. "Mau gak?" tanya kembali Aldo, tak ingin menunggu lama.


"Tanya papa," sahut Luna.


"Papa sama mama setuju, tinggal kamu aja yang belum. Mau apa gak?" jawab Aldo bernada santai.


"Tapi muka kamu merah banget?" tambahnya menunjuk wajah Luna.


"Kena panas ini," jawab Luna memegang wajah, terasa panas memang. Tapi itu bukan karena sinar matahari, karena ucapan Aldo barusan.


"Percaya," kata Aldo mengacak rambut Luna, lalu menatap ke arah empat anak yang sedang bermain di taman.

__ADS_1


__ADS_2