Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Unperfect Marriage 18


__ADS_3

Berminggu-minggu setelah kedatangannya ke rumah Dony pun, Dimas masih tetap kepikiran tentang hal sama. Hingga ia mengatakan segalanya pada Natalie, merebahkan kepala di atas pangkuan yang membuatnya nyaman. Menceritakan tentang ketakutan dan kegilaan atas perasaannya, Dimas mengurai air mata dan membuat sang mama tak kuasa.


Natalie menceritakan pada Teddy, tapi pria itu enggan untuk menemui Dony lalu membahas hal serupa. Tidak, dia sudah malu untuk meminta diri Luna sebagai pendamping hidup putranya. Kepergian Luna dari rumah, membiarkannya hamil tanpa cinta dan kasih sayang suami, justru harus dirawat oleh keluarga dan juga Aldo. Apa lagi yang membuat Teddy memiliki muka untuk kembali membantu putranya?


Dia sendiri kecewa, walau telah mengetahui banyak fakta yang terbuka seiring berjalannya waktu. Kekecewaan paling besar dari putranya, adalah Dimas lebih mirip laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Tak seharusnya menuruti seorang perempuan dan menghancurkan banyak hubungan, itu pun dianggapnya sebagai tindakan fatal dan bodoh. 


Entah itu Teddy, Dedrick ataupun Tyo, satupun tak ada yang ingin membantu Dimas bersatu kembali dengan Luna. Jika memang ingin, mereka tak masalah kalau Dimas kembali berjuang mendapatkan, tapi ia pun harus bersiap akan segala keputusan yang ada tanpa pernah menjadi rapuh serta mengambil tindakan tanpa pikir panjang sekali lagi.


Seperti apa perjuangan Luna kala mengandung, kala ia tinggal bersama sang nenek usai keributan yang dibuat oleh Rena, seperti apa keluarga Dony dihina tanpa memandang perasaan juga tak melihat apakah mereka juga manusia, Teddy mengetahui semua itu. Kalau sekarang Dony masih berhubungan baik dengan keluarganya, itu bukan berarti kalau mereka akan mau menyerahkan putri mereka kembali.


Teddy sendiri berharap untuk Luna bisa bahagia, dia pun sempat mempertanyakan tentang Aldo. Ya, jawaban sama pun diberikan oleh Aldo atau Luna, yaitu tawa. Namun kedua matanya sanggup melihat kedekatan mereka berdua, begitu juga dengan anak-anak yang lain. Seperti apa kemanjaan dari Dinda juga Rendi pada Aldo, seperti apa cara keduanya tergantung pada sosok Aldo dan sampai sakit hanya tak bertemu sekejap saja.


Siang ini, Teddy baru kembali dari mengurus pekerjaan di lapangan. Dimas ikut dengannya, mereka satu mobil bersama dengan lelaki bersetelan jas biru tua itu mengemudi. Wajah Dimas memang tak begitu semangat, tapi itu bukan pertama kalinya. Lelaki yang selalu menyendiri dan sibuk bertengkar dengan hati juga pikirannya itu, bahkan menyiratkan mata lelah dan beban yang sangat besar.

__ADS_1


"Kamu masih sering ke rumah Dony?" tanya Teddy langsung, menoleh Dimas ke arahnya.


"Cuma satu kali seminggu aja, Pa. Dimas pengen deket sama anak-anak," sahutnya kembali menatap lurus ke jalanan.


"Dim, boleh papa minta ke kamu?" tanya kembali pria bersetelan jas hitam yang duduk di jok samping kemudi.


"Apa, Pa? ngomong aja," sahut Dimas.


"Biarin Luna bahagia, lepasin dia. Kalau emang jodohnya bukan kamu, mau dipaksa kayak gimana pun juga percuma. Kalau emang Aldo jodoh—" ucap Teddy terpotong.


"Lanjutin hidup kamu, Nak. Jangan kayak gini, semua cuma bakal nyiksa diri kamu. Luna udah maafin kamu, dan itu udah cukup kan? gak perlu kamu maksa dia buat nerima kamu lagi, karena belum tentu kalau Luna juga bakal bahagia. Kalau emang Luna mau, tapi semua cuma demi anak-anak, apa kamu juga bahagia ngejalani semua itu?" kata Teddy.


"Apa pun itu, kalau dipaksakan gak akan pernah bawa kebahagiaan, buat kamu juga Luna. Anak-anak juga pasti kena dampaknya nanti," tambahnya.

__ADS_1


"Apa Dimas terlalu maksa Luna, Pa?" pilunya.


"Kita ngerasa kayak gitu, dan kita takut kalau Luna nerima kamu gara-gara terpaksa. Karena dia gak mau kalau kamu terus desak dia," jawab Teddy.


Dimas bergeming, menatap ke jalanan. Perkataan Teddy memang benar, tapi ia juga tak tahu harus seperti apa menghadapi situasi seperti ini. Ya, mendesak seseorang untuk menerima kembali, bukan tak mungkin jika semua hanya keterpaksaan saja tanpa membawa kebahagiaan. Bisa jadi Luna terlalu lelah, dan menerima Dimas lagi. Atau mungkin karena alasan anak-anak, membuatnya mengorbankan diri.


Dia ingin bersama Luna, menebus setiap detik waktu yang berlalu tanpa hadirnya. Mencurahkan segala cinta dan kasih sayang untuk anak-anaknya, memberikan keutuhan keluarga dan membahagiakan. Dimas tak berpikir sampai jauh, seperti apa yang diucapkan oleh Teddy sekarang ini. Mungkinkah ia terlalu egois? apakah memang benar jika Luna tak lagi memiliki perasaan padanya? apakah Luna lebih memikirkan tentang Aldo dari pada dirinya? 


Dimas tidak mengerti, satupun tak ada yang bisa ia jawab seorang diri. Kedatangan seminggu sekali ke rumah Dony, memang untuk membuat anak-anak dekat dengan dirinya. Tapi ia juga tak bertanya pada Luna, apakah dia nyaman dengan kedatangannya ke rumah. "Dimas harus apa, Pa?" tanyanya dalam kebingungan.


"Biarkan Luna menjalani semua seperti apa yang buat dia bahagia, cukup dia menderita selama ini. Jalani hidup kamu dengan lebih baik lagi, jangan memaksakan apa pun yang kita udah tau kalau semua itu gak akan pernah baik. Seperti apa pun hubungan kalian, anak-anak tetap anak kamu. Terpenting Luna ngasih kamu izin ketemu mereka, itu udah cukup. Fokus ke anak-anak, kalau emang jodoh kamu Luna, itu gak akan tertukar." Teddy menjelaskan panjang lebar. 


Dimas mengangguk, dia memang harus bisa untuk seperti itu meskipun sulit. Jodoh memang tak akan tertukar, tapi ia juga tak bisa untuk pasrah saja. Dimas tetap ingin berusaha, tapi dengan cara perlahan tanpa menunjukkan seperti sekarang ini. Bermain halus, mungkin itu yang lebih tepat untuk dilakukan.

__ADS_1


Watak Luna, dia mengerti dengan sangat baik. Semakin di dekati, semakin di kejar, semakin di desak, ia akan semakin menjauh seperti sekarang ini. Bukan tak mungkin jika hanya tersisa kemuakan saja darinya, bukan tak mungkin jika dia akan pergi lagi. Ya, mungkin ada benarnya untuk fokus terhadap anak-anak, mencurahkan kasih sayang layaknya orang tua lain pada mereka.


__ADS_2