
tak puas memenjarakan malam dengan luapan air yang menghantam bumi dengan rintik tak terhitung setiap detiknya, pagi ini hujan kembali menyapa dengan rintik yang lebih halus namun mampu menghalangi fungsi sinar mentari pagi. suatu suasana yang mampu menarik sebagian manusia untuk bermalas-malasan memulai aktifitas pagi dan memilih bergelung dalam selimut dan melanjutkan mimpi.
hanya satu jam dalam dua hari terakhir raganya pernah bertemu dengan alam bawa sadar, tidur, walau begitu Esa tak punya waktu hanya sekedar menikmati pagi di atas kasur dengan suasana yang mengundang untuk terlelap. begitu sampai rumah setelah dari rumah orangtuanya, Esa gegas membersihkan diri dan bersiap dengan stelan rapi. setelah memastikan sekali lagi penampilannya, ia lekas beranjak pergi.
berbeda dengan Ola, perempuan cantik itu sama seperti sebagian penghuni bumi diatas kota Semarang yang memilih mengeratkan selimut. kapan lagi kan bisa merasakan sejuknya kota Semarang kalau bukan pagi yang tengah diguyur hujan.
namun ketenangannya terganggu dengan bunyi bel apartemen yang memberondong
"astaga!" pekik Ola tertahan namun tetap beranjak turun guna membukakan pintu.
semalam, Claudia menelponnya begitu sang sahabat baru landing di bandara penerbangan Bali-Semarang. katanya perempuan yang berperilaku setengah laki-laki itu akan menyambangi apartemen barunya sebelum berangkat ke kantor.
"benar-benar ya ni anak" Ola menggerutu, sambil melangkah menuju pintu, tangannya mengikat asal rambutnya
demi apapun ini baru jam 7 kurang 5 menit, sangat pagi untuk bertamu apalagi cuaca hujan begini.
"Lau, lo benar-benar meng..."
kalimat Ola tertelan begitu tak mendapati sang sahabat tomboinya di balik pintu namun malah sosok laki-laki yang semalam ia rindukan pelukannya kala hujan berpertir menyambangi malam. pertanyaannya, dari mana lelaki itu tahu tempat tinggal barunya?
"Hai" sapa Esa dengan senyum cerianya, matanya menatap penuh cinta pada sang perempuan yang dimatanya sangat menarik dan menggemaskan
"ngapain?"
sikap dingin itu tak membuat senyum Esa luntur, ia mulai terbiasa dengan sikap ketus sang istri
"mas bawakan bubur ayam anget" Esa mengangkat tangan kanannya ke hadapan sang perempuan, memperlihatkan tentengan dua porsi bubur yang ia bawa
__ADS_1
"makasih" Ola hampir saja menutup kembali pintu, namun kaki kanan Esa sigap mengganjal pintu
"mas juga belum makan, numpang ya?" ujar Esa lalu mendorong pintu sehingga terbuka kembali. setelah masuk laki-laki itu menutup pintu dan berlalu mengabaikan ekspresi tak terima dari sang istri.
masa bodoh. masa makanan doang yang diterima orangnya nggak. pikir Esa
"luas dan bagus" gumam Esa menelisik penjuru apartemen
"sayang, bawa sini buburnya" teriaknya ketika kakinya sudah berada di dapur mini yang menempel dengan meja makan
Ola yang masih berdiri di belakang pintu tengah mengatur emosinya dengan memperagakan sebelah tangannya naik turun bersamaan dengan tarikan dan hembusan napasnya. setelah dirasa cukup ia menyusul Esa ke dapur
andai saja ia seorang yang tegaan, mungkin bubur ini tak akan diterimanya. tapi karna dirinya tak suka buang makanan dan kebetulan perutnya tengah keroncongan jadi ya sudah, rejeki ada didepan mata tanpa dicari kok.
*
tidak terperangah takjub ataupun prihatin, Ola hanya menatap datar. sedikit merutuk hatinya kala terkenang rutinitas di rumah mereka dulu. Esa memang biasa membantunya di dapur termasuk mencuci piring bekas makan mereka.
lelaki itu sebenarnya baik. sangat baik, sampai Ola bahkan pernah beranggapan bahwa dia adalah perempuan paling beruntung karna bisa mendapatkan sosok Esa yang bertanggung jawab penuh atas dirinya dan pernikahan mereka, tapi fakta perselingkuhan lelaki itu membuatnya hancur dalam hitungan detik
"sayang, tolong bantu naikan lengan kameja mas dong" sahut Esa yang sudah memegang spon cuci berbusa, ia menoleh sembari menunjukan kedua tangannya
alih-alih mengindahkan, Ola malah melongos dan meninggalkan Esa di dapur yang hanya menggeleng kecil menatap punggung sang istri
"jangan terlalu buru-buru sayang, nikmati waktumu. mas akan nunggu kamu" seru Esa berharap Ola mendengarkannya
ia tak mau kalau perempuannya buru-buru bersiap hanya karna tak enak padanya
__ADS_1
* * *
sudah puluhan panggilan dari Hansamu terabaikan, percuma mengangkatnya kalau hanya akan mendengar keluhan sang sekertaris. Esa sadar kesalahannya melewatkan jadwal bertemu klien yang sudah terlewat 20 menit lalu.
klien bisa digantikan oleh beberapa perusahaan yang tertarik dengan perusahaan real estate milik keluarga Nugraha, tak seperti seorang perempuan yang tengah Esa tunggu hampir sejam lamanya karna tengah bersiap-siap di dalam kamar. Esa akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin demi bisa bersama Ola, bahkan ia rela menunggu layaknya orang tolol demi bisa mengantar sang istri ke kantornya. Esa merindukan momen-momen yang sudah menjadi rutinitasnya setiap hari kerja yang belakangan sudah tidak pernah lagi ia rasakan
"dia bersiap kerja apa lanjut tidur sih" gerutu Esa, gerakannya yang hendak beranjak mengetuk pintu kamar Ola urung begitu sang perempuan keluar dengan pakaian rapi. sangat cantik, anggun dan tentunya memancarkan aura perempuan mandiri
"sudah siap berangkat, sayang?" tanya Esa dengan tatapan lembutnya, tangannya nyaris terulur hendak meraih tangan Ola tapi terhenti begitu Ola melemparkan kalimat tak terduga
"aku mau nuntut harta gono gini" ujar Ola tiba-tiba sukses membuat Esa terperangah beberapa detik lalu kemudian membuang muka menyembunyikan raut piasnya
ekspresi itu tak lepas dari pengamatan Ola, yang perempuan itu artikan sebagai ekspresi penolakan dari sang lelaki
'sebenarnya perjuangan apa yang kamu lakukan mas kalau nyatanya kamu tidak siap memberikan milikmu untuk aku?" batin Ola miris
"mau berangkat sekarang?" tanya Esa setelah menguasai diri dari rasa sesak
"aku naik mobilku sendiri" sahut Ola datar yang diangguki kecil oleh Esa
"mas duluan ya. assalamualaikum" Esa lantas beranjak. niatnya yang rela membuang-buang waktu demi berangkat bersama Ola harus pupus ketika sang perempuan lagi-lagi menyinggung perceraian mereka.
Harta gono-gini?
tidak bisakah Ola melihat perjuangannya yang ingin mempertahankan pernikahan mereka. akan Esa berikan semua harta miliknya bahkan ia bisa saja mengalihkan semua atas nama Ola asalkan perempuan itu tidak menceraikan dirinya.
Bersambung...
__ADS_1