
tidak langsung mengantar kembali ke kantor Ola, Esa malah menepikan mobilnya di sebuah restoran yang berjarak tak jauh dari kantor sang istri
"mas lapar, kita makan dulu, ya?" ujar Esa begitu melihat tatapan bertanya-tanya dari istrinya "kamu juga belum makan siang, kan?" lanjutnya sembari mematikan mesin mobil lalu melepas seatbelt nya "turun yuk" ajaknya kemudian setelah sigap mengambil alih melepas seatbelt milik Ola
Ola menurut saja begitu Esa menariknya dengan gerakan lembut keluar dari mobil yang lebih dulu Esa buka pintunya. memang benar kalau perutnya meminta asupan sebab tadi Ola tak memesan makanan, selera makannya hilang begitu melihat wajah sok polos si Dewi Asmara
"mau makan apa?" tanya Esa sesaat mereka duduk dan pramusaji datang membawa menu makanan berikut catatan kecil juga pulpen untuk mencatat pesanan
"nasi goreng terinya satu sama jus jeruknya satu, ya mas" bukan pada Esa, Ola melontarkan pesanannya langsung pada pelayan lelaki yang sigap mencatat pesanannya
sudah lama Ola menginginkan salah satu makanan favoritnya itu, hanya saja selama ini ia menahan diri sebab menghargai Esa yang alergi pada semua jenis ikan asin. laki-laki itu sangat senang mencicipi makanannya meski memiliki pesanan sendiri. Ola berusaha menepikan seleranya demi bisa menyeimbangi selera makanan suaminya, bahkan ketika diluar bersama teman-temannya pun Ola berusaha tidak memesan menu itu, takut kalau mencoba-coba malah akan membuat usahanya menghilangkan ikan teri dalam hidupnya sia-sia. sehebat itu Ola mencintai Esa, namun Esa malah membalasnya dengan rasa sakit yang tak kalah hebat.
"orang asing di panggil 'mas', suaminya sendiri malah pakai 'kamu' " sahut Esa yang sudah tak tahan menahan gejolak cemburu di dada. mana perempuannya malah melempar senyum manis sama si pramusaji lelaki muda itu makin membuat gemuruh di dadanya nyaris meledak
bukannya menanggapi, Ola malah memberi kode dengan dagunya agar Esa segera memesan, kasihan dengan pelayan yang berdiri lama. dengan perasaan kesal, Esa memesan nasi goreng babat yang memang sangat cocok dengan lidahnya
"kamu dari tadi sibuk terus sama ponsel, suaminya malah di cuekin" Esa lagi-lagi protes setelah dirasa cukup menahan diri melihat fokus Ola hanya pada layar ponsel, jemari tangan wanita itu terlihat sejak tadi menari-nari di keyboard. Esa tahu Ola tak hanya pura-pura memainkan ponsel demi menghindarinya, wanitanya itu sepertinya punya urusan penting, hanya saja tak bisakah Ola menghargai waktu mereka sebentar? mereka sudah lama tak memiliki moment berdua seperti ini.
"La..." panggil Esa memelas
__ADS_1
"makanannya sudah datang?" tanya Ola tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. ekspresi wanita itu tampak berkerut-kerut
"kamu lagi ap..." ucapan Esa terhenti begitu pramusaji menghampiri meja mereka "makanannya sudah datang, La" lanjutnya memberitahu
Ola lekas menaruh ponsel, berterima kasih pada pramusaji lalu langsung melahap makanannya begitu pramusaji beranjak pergi. wanita itu sepertinya kelaparan
"pelan-pelan makannya, sayang"
ucapan Esa bagai suara nyamuk di telinga Ola. ia harus segera menyelesaikan makanannya.
"enak banget kelihatannya, mas boleh cobain nggak?" Esa yang tak nyaman diabaikan tak putus asa memancing istrinya untuk meladeninya
"boleh, ya?" tanya Esa lagi
Ola masih tak meresponnya membuat Esa nekat menyendok nasi goreng milik Ola. bukannya melarang Ola malah mengabaikan tingkah Esa. pikirannya sudah terlalu kalut karna sesuatu bahasan di grup sahabatnya beberapa menit yang lalu, yang memancing sakit hatinya kembali terasa akan penghianatan yang pernah ia rasakan.
si pengantin baru, sahabatnya, Naya yang harusnya merasakan moment-moment mesra bulan madu bersama suaminya malah harus dirawat di rumah sakit karna depresi. di hari yang bahkan belum seminggu usia pernikahan, Inayah Paradina mendapati penghianatan suaminya, Dimas Darmono.
namun disisi lain, masih beruntung Naya dibanding dirinya, sebab sahabatnya masih belum tersentuh sehingga tak rugi-rugi amat seperti dirinya jika bercerai.
__ADS_1
"aku sudah selesai" Ola menyudahi makanannya setelah dirasa tenggorokannya tak dapat merasai makanan yang masuk di sana
Esa lekas berdiri melihat Ola yang sudah bersiap pergi, bahkan perempuan itu tak memberinya waktu hanya sekedar merasakan keanehan pada raut wajah perempuan itu.
"mas yang bayar" Esa mendahului Ola memberikan kartu debitnya ke kasir. hitung-hitung sebagai nafkah untuk sang istri sebab Esa takut kalau ia tak menjalankan kewajibannya. sejak hari itu, Ola menolak nafkah darinya. selain cincin pernikahan mereka dan surat gugatan, perempuan itu juga meninggalkan kartu debit yang selalu Esa isi setiap bulan di kamar mereka sebelum pergi.
sepanjang perjalanan mengantar Ola kembali ke kantor, wanita itu hanya sibuk memandangi kaca jendela mengabaikan mulut Esa yang tak bisa diam
"mas ada salah lagi?" tanya Esa yang tak tahan dengan kebisuan sang istri. tangannya terulur menahan gerakan Ola yang hendak keluar dari mobil
"terimakasih traktirannya. aku turun. hati-hati di jalan" Ola menepis pelan tangan Esa, lalu perempuan itu turun. tanpa menoleh Ola memasuki kantornya meninggalkan Esa yang masih menatap nanar arah kepergian perempuannya
"aku pikir kamu sudah melunak setelah mendapatkan semua hakmu dari tangan Dewi tapi kamu masih saja dingin. apa yang harus aku lakuin agar kamu mau memberiku kesempatan, La" monolog Esa dengan perasaan sendu. bukan langsung pergi, tidak juga menyusul Ola ke ruangannya, Esa malah menikmati rasa sakit hatinya akibat sikap dingin sang istri. dengan kedua tangan menumpu pada setir, Esa jatuhkan kepalanya disana sebagai sandaran, tak terasa air mulai berjatuhan dari pelupuk matanya. frustasi, dengan cara apalagi agar Ola nya kembali seperti dulu. sungguh Esa benar-benar tak mau kehilangan istrinya itu.
Ola yang telah sampai di ruangannya di lantai dua langsung menuju jendela, menatap mobil Esa yang masih terparkir di depan. bohong jika ia tak menaruh kasihan, hanya saja sepenggal kalimat yang ia baca di grup sahabatnya menjadi pemicu ia kembali membentengi hati
'selingkuh bukan karna khilaf, tapi penyakit. kapan waktu akan kambuh. korbannya ya bukan hanya si peselingkuh tapi yang merasakan efek parahnya ya, yang diselingkuhi. sakitnya memang tetap sama, tapi mau sampai kapan? hidup kita berharga, kawan"
kalimat Claudia yang notabenenya adalah anak dari sepasang suami istri toxic. sang ayah yang tak pernah sadar usia sementara si ibu yang terus memberi maaf sampai akhirnya depresi dan meninggal dunia belasan tahun lalu diusia yang terbilang masih cukup muda
__ADS_1
Bersambung....