Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
membeku


__ADS_3

atas nama cinta, hati Ola hampir saja luluh melihat perjuangan Esa mempertahankan pernikahan mereka. bahkan rasa sakit yang masih sering bercokol di hatinya berusaha Ola redam ketika mengingat rasa cintanya pada lelaki itu. apalagi melihat pembuktian suaminya yang telah mendepak si gundik. bunga-bunga layu di hatinya nyaris bermekaran lagi jika saja kabar keretakan pernikahan Naya yang baru berjalan 7 hari tak mencuat


"si bang-sat Dimas aja yang kelihatannya cinta mati, selama 4 tahun pacaran dengan Naya begitu posesif dan terlihat begitu setia, eh tau-taunya giliran sudah sah malah selingkuh. terus laki-laki seperti apa lagi yang harus gue percaya?" seloroh Claudia


Irham menunjuk dirinya tanpa suara dengan mulut yang penuh dengan makanan, yang malah memancing dengusan Claudia


"lo emang bisa di percaya sih tapi untuk jadi pendamping hidup mending gue sendiri aja sampai mati"


"jahat banget mulutnya. padahal kalau lo mau gue siap ko mau jadi suami lo" celutuk Irham dengan senyum tipisnya


"yang ada, kasus perselingkuhan makin bertambah. lo nikahin gue tapi malah mantap-mantapnya sama si Sasya"


Sasya, perempuan muda yang Irham pacari dua tahun belakangan ini


"mau gimana lagi, barang gue cuman bisa bangun sama dia doang" ungkap Irham tanpa beban. memang kekurangannya itu sudah menjadi rahasia umum bagi ketiga sahabat perempuannya. hanya mereka bertiga yang mengetahui alasan ia memacari Sasya meski tak ada cinta untuk perempuan muda itu


berbeda dengan kedua sahabatnya yang sibuk berdebat, Ola justru melamun dengan tangan yang sibuk mengaduk acak mi pangsitnya.


"lo nggak selera makan?" Claudia mencoba memecah lamunan calon janda Esa itu begitu melihat makan Ola belum berkurang sedikitpun


"gue kayaknya mau ikut bergabung sama visi misi kamu deh, Lau" celutuk Ola setelah menghela napas panjang


kening Claudia dan Irham tertarik ke atas, tidak mengerti arah bahasan Ola.


"sibuk kerja, cari uang yang banyak, ratukan diri sendiri. nggak usah ada laki-laki di hidup kita. kalau pengen punya anak, banyak anak panti yang butuh orang tua" sambung Ola yang disambut anggukan antusias oleh Claudia sedang Irham hanya menghela napas pendek


Irham tahu kalau kini perasaan ketiga sahabatnyanya telah patah oleh yang namanya lelaki. ia juga tak bisa berbuat banyak sebab dirinya pun sebenarnya lelaki gila yang memanfaatkan seorang gadis demi menutupi kekurangannya

__ADS_1


"jadi, besok kita ketemu di bandara jam 5 pagi, kan?" tanya Irham memastikan sekaligus mengusir pikiran-pikiran aneh dari kepala mereka


pertemuan mereka memang bukan sekedar makan siang saja, tapi sekaligus mencocokan waktu luang demi bisa terbang ke Bali, menjenguk Naya yang kabarnya sudah satu minggu terbaring di rumah sakit karna depresi.


Claudia menyahut membenarkan, sementara Ola hanya mengangguk dengan mata kembali berpendar kosong.


satu hal yang terus menganggu pikiran Ola adalah, perasaan dengan masalalu tak bisa hilang sepenuhnya dari ingatan begitu saja. sama seperti perasaan Esa terhadap Dewi. mereka menjalin hubungan memakan tahun. mungkin saja Esa saat ini mengatakan telah putus tapi siapa yang tahu perasaan lelaki itu? bagaimana jika nanti Ola memberinya kesempatan, satu atau dua tahun yang akan datang Esa justru tak bisa melupakan kisahnya dengan Dewi yang lebih dulu terjalin daripada kisahnya dengan lelaki itu?


* * *


kembali membeku. bahkan dengan semua yang sudah Esa lakukan tak juga membuat sikap istrinya mencair


"buat apa ini? kamu pikir aku nggak bisa beli sendiri" ucapan bernada ketus meluncur tanpa beban dari mulut istrinya begitu Esa memberikan hadiah ulang tahun perempuannya itu, sebuah mobil bmw i8 Roadster warna shadow, yang Ola idam-idamkan sedari dulu


Esa masih ingat di bulan ke tujuh pernikahan mereka, Ola pernah berucap bahwa ingin merasakan mengendarai bmw mahal itu. namun karna dasarnya Esa yang tidak peka ditambah dulu ia masih setengah-setengah pada niatnya mempertahankan pernikahan jadinya ia tak menggubris perkataan sang istri. Esa kira Ola hanya sekedar bercanda sebab perempuan itu telah memiliki mobil pribadi yang cukup mewah.


mobil yang platnya hasil pesanan khusus Esa itu, jangankan diterima, dilirik Ola saja tidak.


tatapan Esa yang semula kesal karna penolakan Ola berubah melembut kala perempuan itu mengungkit kisah kesalahan fatalnya yang sepertinya tidak lekas pergi dari ingatan sang istri


"mas bukan orang lain, La. mas suami kamu. wajar mas membelikan ini untukmu"


ungkapnya dengan perasaan nelangsa. bukan menyalahkan kekerasan hati istrinya tapi lebih kepada menyalahkan dirinya sendiri yang sedari awal tak bisa tegas dengan keputusannya.


Esa juga menyesalkan kenapa dulu ia begitu mudah mengeluarkan uang untuk menunjang hidup Dewi hanya karna ingin melihat wanita malang itu bisa menikmati hidupnya yang sejak kecil tak pernah merasakan bahagia.


apartemen memang bukan yang bintang lima tapi cukup menguras tabungannya sebesar 7 milyar rupiah, membelikan Dewi butik dengan nominal 2 milyar, bmw X1 seharga 750 juta, ditambah uang transfer setiap bulan sebesar 5 juta untuk biaya makan Dewi. seroyal itu dirinya pada sosok perempuan yang pernah nyaris kehilangan nyawa karna penolakan cintanya, yang justru sekarang menjadi bom mematikan untuk kelangsungan pernikahannya dengan Ola

__ADS_1


walau sudah Ola ambil kembali semua itu, namun tak membuat perempuan sah-nya yang ia nafkahi 10 juta perbulan itu melunak, sikapnya semakin hari semakin beku saja.


mobil seharga 4,5 milyar rupiah kini terparkir di halaman rumah tanpa pemilik aslinya. mobil dengan plat polisi A 0143 SA yang kemarin Esa kirimkan ke kawasan apartemen elit berlokasi di Simpang Lima ternyata tidak di terima disana, alhasil dideportasi ke rumahnya yang ia huni tanpa sosok sang istri lagi di sana.


"dengan cara apalagi mas bisa melunak kan hatimu kembali, sayang" gumam Esa dengan jemari menyusuri kap mobil impian sang istri


"pak, berangkat yuk" seru Han yang sudah stay menunggu di dalam mobil Esa. sejak Pengusiran Ola yang tak menerima tuan bosnya tinggal bersama di apartemen seminggu yang lalu, Han beneran diseret untuk tinggal di rumah sepasang suami istri yang tengah pisah ranjang eh bahkan pisah atap.


begitu mobil telah merayap diantara kendaraan lainnya di jalan raya, ponsel Han bergetar, jika saja bukan panggilan dari perempuan cantik yang diam-diam Han idolakan, ia tak akan mengambil resiko menerima telpon sembari menyupiri atasannya


"assalamualaikum ibu... selamat pagi, ada yang bisa saya bantu" suara sopan penuh kelembutan itu terdengar menggelikan di telinga Esa, namun sepersekian detik selanjutnya, tubuh Esa menegak menyadari sesuatu. Han hanya akan bersuara lembut pada perempuan yang telah memberikannya hadiah mobil bekas si... ah sudah lah


Esa memajukan tubuhnya lalu mencolek pundak Han, melalui gerakan bibirnya, memerintahkan Han mengaktifkan pengeras suara panggilan.


"sampaikan sama Esa kalau saya sedang di Bali, jadi tidak perlu datang ke apartemen dengan modusnya bawa makanan"


"ba.. baik bu" jawab Han terbata, meringis melihat bungkusan roti bakar yang duduk manis di kursi penumpang sebelahnya


"ya sudah, saya tutup"


klik


"Han" panggil Esa setelah menyanderkan punggungnya di kursi penumpang belakang


"iya?"


"tolong carikan saya obat perangsang paling ampuh. saya benar-benar kehilangan akal meluluhkan hati istriku. saya mau menghamilinya, dengan paksa sekalipun" celutuk Esa penuh tekad. ia tak akan lagi mengalah pada Ola. bagaimanapun caranya, janinnya harus bersemayam di rahim Ola.

__ADS_1


mumpung Ola membencinya, sekalian saja ia membuat wanita itu benci asalkan mereka tak jadi berpisah


Bersambung...


__ADS_2