
"Mau kemana?" tegur Dony pada putranya.
"Ke rumah Aldo, Pa. Mau ngerjain tugas kantor," sahut Bobby.
"Halah, palingan juga semuanya dikerjain sama Aldo. Kamu makan gaji buta?" tanpa segan Dony berucap pada putranya, tertawa lelaki sudah mempersiapkan tas kerjanya dari tadi itu.
"Hahaha, papa kalau ngomong sukanya gitu. Aku kerja loh, Pa. Masa iya makan gaji buta sih?" tawa Bobby.
"Awas aja kalau kamu bahas macem-macem, papa pecat jadi anak langsung!" ancam Dony.
"Ya, Tuhan. Masa iya anaknya diancam kayak gitu? tega banget," memelas Bobby.
"Udah sana! jalan kaki, bahan bakar mahal!" kata Dony, tak ingin drama kembali dilihat.
Bobby semakin memelas, bibirnya melengkung dengan mata dibuat sedih. Berharap akan ada rasa iba dari papanya, tapi Dony justru masuk ke dalam dan meminta untuk pelayan segera mengunci pintu. "Ini Luna pasti dominan papa nih!" gerutu Bobby lirih.
Menggelengkan kepala dan mengenakan tasnya, Bobby berjalan ke rumah Aldo. Selalu menganggap jika sang adik lebih dominan terhadap watak Dony, sama-sama keras dan tak mudah untuk luluh. Jika sudah berkata 'A' maka akan seterusnya begitu. Walau hari telah gelap, ia tetap saja ke rumah Aldo. Ya, mau tak mau harus dia lakukan. Karena hanya Aldo yang bisa membantunya menyelesaikan pekerjaan.
__ADS_1
Tidak tahu mengapa, Dony kerap memberikan pekerjaan untuk putranya dibawa ke rumah. Tak berbeda dari anak sekolahan saja, terkadang membuat Bobby mengomel sendiri. Namun, ia yakin kalau semua itu bukan tanpa alasan. Pasti Dony memiliki alasan dan tujuan lain untuk memberikannya pekerjaan setiap hari.
Ancaman tegas yang diberikan tadi juga jelas ada maksudnya, tak mau untuk terlihat mendesak Aldo. Lagi pula, Bobby juga tak berniat untuk melakukan hal itu, walau sebenarnya berharap. Menyenangkan baginya kalau sampai Aldo benar-benar menjadi pendamping hidup Luna, bukan semata karena ia sudah kecewa pada Dimas saja.
Kalau dilihat dari segi pekerja keras, mungkin sama antara Dimas dan Aldo. Kasih sayang pun juga sama, hanya saja Aldo tak menunjukkan jelas dan Dimas menunjukkannya sangat jelas.
Tapi untuk urusan tergoda dengan perempuan lain, Aldo tak bisa dibandingkan dengan Dimas. Siapapun yang mengenal dirinya, pasti akan tahu hal itu. Lagi pula, adik serta keponakannya terlihat bahagia juga nyaman saat bersama Aldo.
Sementara Bobby menyusuri jalanan seorang diri, Luna di dalam kamar, membetulkan selimut untuk tiga anak yang ada di atas tempat tidur, lalu berganti ke Dinda. Berpindah untuk duduk di balik meja tempat biasanya bekerja, Luna menyalakan laptop dan seperti biasa akan menghabiskan malam untuk bekerja. Semua pikiran dihempaskan olehnya, fokus terhadap pekerjaan saja.
Di tempat lain, Dimas melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Tangan kirinya berada di kemudi, satunya bertumpu pada jendela dengan jari ia usap-usapkan ke dagu. Seperti orang yang sedang berpikir, ia tak begitu fokus ke jalanan. Semua terlalu mengusik, ketakutan pun semakin menjadi. Tidak tahu kemana hidup ini akan membawanya, tapi Dimas berharap jika semua tak lagi meninggalkan luka.
Walau keadaan apa pun, tak akan pernah mengubah dirinya sebagai papi untuk anak-anaknya, tapi Dimas tidak ingin untuk sebutan itu dipergunakan pada orang lain. Hanya dia papi mereka, dan hanya dia yang harus menjadi pendamping Luna. Ya, mungkin ini sebuah obsesi dan bukan lagi cinta. Dimas menyadari hal itu dengan sangat pasti.
Mungkin sudah gila untuk mencintai dengan cara seperti itu, tapi Dimas sendiri tidak bisa untuk menghentikan perasaan yang terus saja tumbuh dengan begitu kuatnya. Semua itu karunia dari Tuhan, anugerah yang diberikan padanya, Dimas pun tak bisa untuk melawan. Perasaan cintanya untuk siapa, ia pun tak bisa mengaturnya.
Atas apa yang diusulkan oleh Tyo, dia tidak ingin mendengar hal itu lagi dari siapapun. Tidak ... tidak ada istri lain, tidak perempuan lain, tidak akan pernah ada untuknya selain ibu dari anak-anaknya. Kembali dengan Rena, sedikit saja ia tak pernah bermimpi untuk melakukan hal itu. Kembali mengulang apa yang pernah terjadi, membiarkan diri untuk bodoh dan kehilangan banyak hal.
__ADS_1
***
Tiba di rumah Dedrick, langsung Dimas ke kamarnya. Tak pulang ke rumah, karena Brian pun tak ada. Natalie yang masih menunggu kepulangan Tyo, heran dengan sikap putranya. Dia memang tak akan pernah tidur, sebelum anggota keluarganya lengkap, jika memang tak ada yang pergi keluar kota. Siska dan Tyo, sengaja berada di belakang kendaraan Dimas, sehingga bisa tiba di rumah bersama.
Takut kalau sampai lelaki itu hilang kendali, Tyo masih trauma akan percobaan bunuh diri yang pernah dilakukan oleh kakaknya, hanya karena tak sanggup menahan luka atas kehilangan istri tercinta. Natalie menatap ke arah anak tangga, Tyo dan Siska mencium tangannya. "Ada apa? kenapa? dimana Brian?" beruntun Natalie bertanya, nadanya begitu lirih.
"Brian ketiduran di rumah om Dony, Ma. Tadi mas Dimas kesana, tapi kayaknya sekarang lagi gak enak hati deh. Soalnya disana ada Aldo juga," jawab Tyo.
"Terus?" penasaran sang mama.
"Ya, gitu aja. Kayak biasanya gitu, Ma. Apanya yang terus sih?" sahut Tyo, dipukul oleh mamanya pelan.
"Maksudnya mama bukan itu, Sayang. Terus ada apa disana, kenapa mas Dimas kayak gitu sekarang?" ucap Siska meluruskan, Tyo tersenyum bodoh sembari menggaruk tengkuknya.
"Untung aja kamu yang nikah sama Tyo. Kalau gak, mama yang stress sendiri jelasin apa-apa ke dia," kata Natalie, melebarkan senyum menantunya.
Tyo bercerita tentang apa yang terjadi di rumah Dony, tentang kedekatan Luna dan Aldo juga tentang tujuan Dimas datang. Siska pun mengatakan tentang keluarga Dony yang memilih di ruang TV, namun Natalie paham kenapa mereka bersikap seperti itu.
__ADS_1
Olivia terbuka tentang banyak hal padanya, tidak ada satupun yang ditutupi, walau itu menyangkut tentang diri Dimas atau Aldo. Mengelus dada wanita berpakaian tidur sutra warna hitam itu, menatap ke arah lantai dua meski tak ada putranya disana.