
Tiba di rumah setelah menempuh perjalanan berdua, Luna ditatap heran oleh san mama karena jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Turun bersama mencium tangan Olivia, langsung meraih tubuh putranya untuk di gendong.
“Kok udah pulang? Mama pikir bakalan lebih lama,” tutur Olovia.
“Iya, Ma. Makanannya udah habis, makanya pulang cepet. Mau diem di sana juga takut kalauh suruh bayar nanti. Hehehe,” sahut perempuan tengah menggendong putranya di pinggang kanan.
“Lah terus? Mama gak dibungkusin?” celingukan wanita tampak mecari sesuatu di tangan Aldo juga Luna.
“Hahaha, tanya kak Aldo aja, dia uangnya banyak. Aku mana ada uang?” bisik lirih Luna. “Masuk yuk, dingin banget di luar!” timpalnya pada sang anak.
“Punya anak ngeselinnya gak ada ujung. Kamu?” tutur Olivia mengarahkan kedua mata pada Aldo.
“Hehehe, uangku dihutang sama Luna loh, Ma. Belum dibalikin udah lima tahun,” sahut Aldo. “Masuk yuk di luar dingin.” Tambahnya merangkul wanita hanya menggoda saja.
“Tuh!” ucap Olivia, melihat cucunya justru mengarahkan kedua tangan pada Aldo, meski sudah digendong sang mami.
Tersenyum lelaki itu, melepaskan tubuh seseorang dianggapnya ibu kandung sendiri dan beralih mengulurkan tangan pada bocah laki-laki memang ingin meminta gendong dirinya. “Sini sama daddy,” ucapnya meraih tubuh Rendi.
“Gak bakalan mau lepas nanti kalau udah digendong, Kak. Belum lagi si ...,” belum sampai ucapan tuntas, bocah dimaksud sudah menghampiri. “Nah kan! Baru juga mau disebut namanya, udah nongol aja.”
“Dy ...,” panggil Dinda mengulurkan kedua tangan. Aldo sekali lagi mengukir senyum, berjongkok untuk meraih tubuh Dinda dan menggendong bersama di kedua sisi.
__ADS_1
Luna dan Olivia segera pergi melihat hal itu, tentu saja untuk menghindari kejadian selanjutnya. Benar saja, Dinda mendorong tubuh saudara kembarnya agar turun dan tak boleh bersama Aldo, coba dilerai namun justru memukul wajah dari adiknya.
“Lah kok malah berantem? Daddy tinggal pulang loh!” kata Aldo, langsung memeluk Dinda pada tengkuknya, mencium sisi wajah. “Satunya belum,” kata Alddo menyodorkan sisi wajah yang lain.
“Kalau ngerayu pinter banget, anaknya siapa sih?” gumam Luna dari kejauhan.
“Sama!” lirik Olivia pada seseorang langsung cengengesan menggaruk tengkuk lalu menggandeng lengan mamanya untuk diajak pergi ke dapur. Apa lagi jika bukan untuk mencari makanan, dia masih merasa lapar meski tadi sudah makan.
Aldo membawa si kembar ke ruang tengah, duduk bersama di atas karpet dan menjaga keduanya. Semula, ia hanya ingin mengantarkan Luna sampai depan pagar saja, karena pekerjaan masih banyak untuk segera dikerjakan.
Namun, akhirnya ia ikut masuk ke dalam karena tak tega membiarkan Luna berjalan sendirian menyusuri halaman. Siapa yang mengira jika si kembar belum tidur, mengurungkan niat Aldo untuk bergegas pulang dan berteman pekerjaan.
Dia memang menyukai anak kecil, bukan hanya si kembar saja atau karena mereka adalah keluarga siapa. Menyukai ketika menghabiskan waktu bersama anak-anak kecil, Aldo kadang menghabiskan waktu di panti asuhan untuk sekedar mengajak penghuni di sana bermain dan berbagi apa yang dimiliki.
Tak perlu menunggu kaya untuknya bisa berbagi, tak perlu menunggu untuk menikah ketika harus mendapat panggilan daddy, karena hampir semua anak panti memanggilnya seperti itu.
Tak lama, Luna dan Olivia ke ruang tengah dengan perempuan itu membawa camilan di piring. Aldo mengabaikan, tak ada yang bisa mengusiknya ketika sedang menjaga kedua anak super aktif, terutama Dinda.
Jangankan ditinggal menoleh, bocah itu akan segera melakukan sesuatu tanpa peduli apakah itu bahaya atau tidak, ketika hanya ditinggal berkedip saja.
Selalu ingin menetahui banyak hal, berusaha menjangkau apa pun meski tangan serta tinggi tubuh tidak sampai. Ada saja cara Dinda untuk mendapatkan apa diinginkan karena rasa penasaran.
__ADS_1
Itu sebabnya, tak pernah ada yang boleh meletakkan benda tajam atau berbahaya sembarangan, atau Doni dan Olivia akan siap menegur keras.
“Aulia sama papa ke mana? Brian juga enggak ada,” tanya Luna tak mendapati ketiganya di rumah.
“Ke rumah si Nat, lupa?” sahut sang mama.
“Oh, iya! Aku janji mau ke sana juga!” menepuk kening Luna, baru teringat akan janjinya. “Lah, mama bakalan marah ini, kalau aku gak jadi ke sana sama anak-anak.”
“Udah, mama tadi udah kasih tau kalau kamu ke luar sama si Na,” jawab Natalie.
“Hahaha, mama dari tadi kalau nyingkat nama orang enak banget ya? Terus, kalau kak Aldo jadinya apa? Dodo?! Hahaha!” tawa Luna, dilirik lelaki berada tak jauh darinya duduk.
“Aduh! Cewek kalau ketawa udah kayak kuda nil aja! Kayak mama gitu, apa gak bisa? Lihat ini!” tegur Olivia menunjukkan wajah lemah lembut, justru mengundang tawa Aldo bersama Luna.
Olivia sendiri bergidik, merasa sangat jijik dengan ekspresinya sekarang. “Amit-amit,” ucapnya lirih seraya bergidik.
Tawa terdengar dari ketiganya, disusul oleh Dinda yang ikut tertawa menutupi mulut dengan kedua tangan meski tak tahu apa yang membuat tertawa.
“Apaan? Emang ngerti?” tanya Luna bersamaan dengan mamanya, Dinda semakin tertawa dan terlihat jika itu dibuat-buat sangat kencang samapi suara melengking ke luar.
Aldo terlihat gemas, menarik bocah tengah memegang remot TV itu dan memeluk serta menciumi gemas. Sedangkan Rendi, hanya terbengong melihat semua di ruangan itu bergantian dengan tatapan bingung.
__ADS_1