
tujuh pasang mata kini memenjarakan satu objek yang dengan penuh percaya diri duduk di antara mereka, jangan lupakan senyum sok asiknya yang membuat 3 pasang suami istri paru baya menatap muak selain seorang perempuan tua yang sekarang tengah mengelus penuh kasih kedua tangan si lelaki tampan mengesalkan itu
"kenapa datang sendiri nak, nenek kangen banget sama kamu juga cucuku Ola"
Andi Wellang, ibu dari Andi Sahaja alias nenek Ola dari pihak ibu, satu-satunya yang tidak tahu menahu masalah rumah tangga sang cucu.
"nanti lain kali Esa bawa Ola nek, soalnya Esa datang mendadak jadi tidak sempat menyesuaikan jadwal dengan kerjaan Ola" jawab Esa apa adanya yang justru memancing kerutan di dahi nenek Wellang makin mengerut, sementara para anak dan menantu nenek Wellang ada yang mendengus muak ada juga yang menampilkan senyum miringnya
"mendadak? kamu ada masalah di Makassar? ada masalah apa nak? kali aja mertua sama tante-tante juga para om mu bisa bantu" tanya Wellang beruntun
Esa kelabakan, alasan yang spontan keluar dari mulutnya berbalik menyerang berupa pertanyaan. benar kalau ia memang ada masalah di tanah bugis ini, tapi tak mungkin mertua dan para saudara mertuanya membantu, sebab perkara yang Esa miliki tak lain dan tak bukan karena telah menyakiti anak perempuan berdarah ningrat keluarga besar alm. Andi Mallarangeng suami dari Andi Wellang sendiri.
Esa melirik enggan pada kedua mertuanya kemudian beralih ke saudara-saudara mertuanya, ia lalu meringis kecil ketika mendapati ekspresi mereka terlihat seperti mengejeknya
__ADS_1
"sebenarnya bukan masalah besar..."
"khem khem!!" suara batuk yang jelas dibuat-buat oleh Andi Baso itu membuat ucapan Esa terpotong. melalui tatapannya, Baso menguarkan ketidakterimaannya akan perkataan Esa yang menganggap sakit hati sang putri atas penghianatan Esa hanya dianggap sepele oleh Esa
"ya, maksud Esa... masalah ini bisa Esa selesaikan sendiri nek, lebih tepatnya Esa harus bertanggung jawab atas masalah ini" jelas Esa dengan hati-hati menggunakan kosa kata yang sekiranya tak menyinggung lagi perasaan mertuanya
"oh menantu cucuku memang pria sejati berprinsip. nenek bangga sama kamu nak. nenek tak salah mempercayakan Ola padamu nak" tutur nenek Wellang dengan segala pujian untuk Esa
jujur, Esa merasa berat akan pujian nenek Wellang hanya saja ada secercah harapan ketika si nenek tidak mengetahui kelakuan jahatnya sehingga masih mengelu-elukan dirinya. lekas Esa membawa kedua tangan keriput nenek Wellang untuk diciumnya
"khem, udah waktu makan siang"
sahutan Andi Sahira si tante Ola yang di juluki emas berjalan itu serta merta membuat manusia paling menyedihkan diantara mereka yang kerjaannya dari tadi hanya diam bodoh kini berbinar bak menang lotere. akhirnya setelah tiga jam perutnya keroncongan kini akan mendapatkan asupan, si tuan bos tadinya hanya memberinya satu burger saat mereka menunggu penerbangan di Bandara Semarang.
__ADS_1
masakan orang Makassar biasanya selalu lezat. pikir Han dengan isi kepala yang penuh menu makanan terbaik khas Makassar
"kita makan di the society gimana, nak Esa?" lanjut Andi Sahira dengan senyum mautnya
baik Han maupun Esa sama-sama tersedak ludah mereka. pertanyaan itu mengandung makna yang jelas akan menguras dompet Esa yang kian menipis.
"bagaimana kalau kita kenang moment awal pernikahan kalian? Esa loh yang dulu traktir bahkan sewa satu lantai" lanjutnya dengan senyum yang serasa kian mencekik Esa
"tante sebar di grup keluarga dulu, nanti sepupu-sepupu Ola menyusul"
Han hanya mampu terbatuk lemah. sementara Esa di serang meriang tiba-tiba. uang di rekeningnya sudah tak selayak dulu. sewa satu lantai di Society dan dengan mentraktir kira-kira 20 orang yang kalau pesan tak pernah puas hanya dengan 3 menu saja, pasti semua menu dicobanya. mampus lah dirinya yang kini miskin!
mana si bapak kandung tak mau berbaik hati memberinya uang jajan.
__ADS_1
bersambung...
Bersambung...