
penunjuk waktu terus bergulir, tak seperti Esa dan Han yang tengah sibuk dengan urusan penting masing-masing, Ola justru hanya mengurung diri di ruang kerjanya. belasan chat juga puluhan panggilan ia abaikan demi menikmati rasa malasnya.
bahkan suara ketukan dibarengi pintu terbuka tak juga membuat si pemilik kantor beranjak dari posisi ternyaman nya, duduk dengan sebagian badannya tertelungkup di meja, pipi kananya bersentuhan langsung dengan benda persegi panjang itu.
"jam berapa sekarang Freya? sudah waktunya pulang ya?" tanyanya tanpa mengubah posisinya.
bukannya mendapat jawaban, Ola malah mendengar langkah kaki mendekat dan membuatnya seketika menegakan badan begitu merasa sebuah kecupan mendarat di pucuk kepalanya
"apa yang ... mas Esa?" ucapan Ola terpotong berganti pekikan begitu mendapati sosok lelaki yang tengah tersenyum menyebalkan di hadapannya
"iya, ini mas, sayang" jawab Esa dengan binar bahagia. sudah lama ia tak mendengar istrinya memanggil dirinya dengan sebutan 'mas'. Esa tahu bahwa itu hanya reflek dari keterkejutan Ola, meski begitu kegersangan dalam hatinya berasa tersiram air selaut
"kamu ngapain lagi ke sini?"
"jemput istri mas lah" jawab Esa sekenanya, masa bodoh dengan sikap dingin istrinya
"aku bawa mobil sendiri" sindir Ola seolah mengingatkan bahwa mereka menggunakan mobil sendiri sendiri
"oh salah berarti. harusnya mas bilang kalau mas kesini mau numpang sama mobil kamu. mobil mas di bawa Han ke bengkel" ujar Esa berdusta pada kalimat terakhirnya. Esa sengaja meninggalkan mobilnya di perusahaan dan datang menggunakan taksi demi bisa pulang satu mobil bareng sang istri
"nggak bisa. aku ada janji sama yang lain. lagian kamu datang tanpa konfirmasi lebih dulu, jadi aku nggak akan segan menolak memberi tumpangan"
"siapa bilang nggak konfirmasi. mas udah telpon 32 kali, kirim pesan 17 kali" Ujar Esa sembari memberi kode dengan kepalanya, menantang Ola memeriksa ponsel perempuan itu
__ADS_1
"bukankah diam berarti setuju?" Esa dengan otak liciknya kembali bersuara begitu Ola telah membaca pesannya
"nanti aku pesankan taksi"
"kok taksi sih, Yang" protes Esa dengan jawaban sang istri
"aku nggak mungkin ngantar kamu sedang arah pulang kita nggak searah" Ola berujar dengan tatapan lurus tepat pada netra Esa, sorot dingin dan muak jelas terpancar dari netra perempuan lulusan S2 Undip itu
* * *
pada dasarnya, tekad Esa yang sudah besar melebihi besarnya gunung Everest tak akan goyah hanya karna usahanya belum bersambut baik. sikap dingin Ola yang tak menunjukkan tanda-tanda mencair menjadikan semangat Esa makin berkibar alih-alih putus asa.
hari ini tak mengapa usahanya berakhir sia-sia. demi tak membuat sang istri makin jengah dan muak pada ketidak tahu malunya, Esa akhirnya mengalah tak mengusik ketenangan Ola terlalu jauh. Apalagi kepala Esa rasanya akan meledak saat mulut sang perempuan terus memperingatinya untuk menjaga batasan sebab mereka akan bercerai.
perempuan itu memang mengantarnya pulang karna alasan 'kasihan' yang wanita itu koarkan agar Esa tak besar kepala tadi. hanya mengantar lalu pergi lagi seolah rumah yang dulunya menjadi istana mereka membina rumah tangga hanya sebuah bangunan asing di mata sang perempuan.
adalah kawasan yang berlokasi di Simpang Lima menjadi titik terakhir bmw hitam Ola berhenti. Esa berdecak, pantas saja selama ini ia selalu pulang dengan tangan kosong ketika mencari Ola di Jl. Prof Sudarto ~dimana sebelum menikah Ola memiliki satu unit apartemen pribadi di The Alton Apartement yang dekat dengan universitas tempat sang perempuan menempuh pendidikan sarjana dan magister~, unit itu Ola sewakan pada orang lain sejak mereka menikah. alih-alih memutus kontrak dengan menyewa, sepertinya sang istri lebih memilih unit apartemen di jantung pusat kota Semarang, yakni apartemen Warhol Residence
"selamat malam sayang, sampai ketemu besok" monolog Esa yang masih duduk di atas motor yang ia parkir di pinggir jalan seberang apartemen.
sore sudah berganti malam, lalu lalang kendaraan semakin padat. Esa kembali memacu gas tangan kendaraan motor metik milik penjaga komplek perumahan nya, meninggalkan kawasan Warhol Residence yang menjadi tempat tinggal baru sang istri
bukan langsung pulang, Esa malah membelokkan kendaraan roda dua itu ke arah jalan yang akan membawanya pada alamat rumah kedua orangtuanya.
__ADS_1
bukan hanya pada keluarga Ola, Esa juga punya dosa besar pada kedua orangtuanya. bukan hanya air mata sang istri yang membuat dadanya sesak akan rasa bersalah dan penyesalan tapi air mata Ratu juga sama halnya. tadi di pengadilan Esa bahkan tak berani menatap sang mama karna merasa malu juga tak tega melihat perempuan cinta pertamanya itu menangisi kelakuan breng-sek nya.
semakin dekat dengan komplek perumahan kedua orangtuanya, semakin pelan Esa memacu gas tangan motor.
seumur hidup, baru kali ini Esa merasa begitu malu bertemu kedua orang tuanya. bahkan rasa-rasanya ia ingin memutar arah dan segera pergi dari sana. namun mengingat bahwa ada tujuan yang harus ia raih bagaimanapun likunya sebuah rintangan membuat Esa tak bisa menuruti egonya yang ingin sekali kabur dari tempat itu.
ia harus memohon maaf pada papa dan mamanya atas kesalahan fatalnya yang membuat pernikahannya nyaris tercerai berai. Esa juga ingin menyampaikan niatnya untuk meminta restu mereka atas niat tulusnya ingin memperjuangkan Ola sebagai mana mestinya seorang lelaki yang ingin memiliki sang wanita tercinta untuk menemani hari-harinya hingga tua diikat dengan hubungan suci.
jika dulu ia mendapatkan Ola begitu mudah karna campur tangan kedua orangtuanya, kali ini Esa ingin berjuang sendiri, tapi ia tetap butuh restu papa dan mamanya agar langkahnya dalam keridhoan, kalau Barack dan Ratu masih percaya padanya.
dinginnya angin malam tak membuat dirinya sejuk, bahkan dahinya kini tengah berkeringat di balik helm. setelah memarkirkan motor, Esa dengan perasaan berdebar menuntun tungkainya menuju pelataran rumah bercat nude berlantai 3 yang menjadi saksi bisu akan bertumbuhan nya hingga 27 tahun hidupnya
begitu segala macam doa tolak bala telah terlafal dalam hati, Esa memberanikan diri menekan bel
sekali
jeda, ia tunggu satu menit, begitu tak ada tanda-tanda ia kembali menekan bel
dua kali...
tiga kali...
dan ketika hendak mengulang menekan bel lagi, pintu rumah terbuka lalu muncul seorang perempuan paru baya, si nyonya rumah dengan wajah datar disana
__ADS_1
"oh ada tamu"
Bersambung...