Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Aku, kamu dan dia


__ADS_3

Pernah Esa mengatakan kalau Ola adalah obat paling mujarab bagi semua sakit yang ia alami? kalau sudah, Esa tetap akan mengulang tanpa bosan bahwa wanita yang telah menjadi istrinya itu adalah obat terampuh dari semua deritanya.


selain kehadiran sang istri disisinya yang membuat virus jadi minder menempeli tubuhnya, istrinya juga begitu telaten merawatnya, terhitung beberapa kali perempuannya itu terbangun hanya untuk mengecek kondisinya juga sekaligus mengganti kompresnya. Esa sebenarnya sadar hanya saja ia tak punya tenaga untuk membuka matanya


tapi pagi ini, Esa bangun dengan perasaan jauh lebih baik dibanding beberapa pagi sebelumnya yang ia lewati tanpa Ola.


tahu sudah ketergantungan dengan sang perempuan bisa-bisanya ia pernah punya pikiran untuk meninggalkan istrinya. ah mengingat itu, rasa-rasanya Esa ingin sekali membenturkan kepalanya di tembok. bodoh bin tolol adalah gelar paling cocok untuknya waktu itu.


menyadari waktu kian beranjak, Esa menyudahi kegiatannya memandangi wajah lelap sang istri "mas pamit dulu, sayang" bisiknya lalu mencuri kecup di kening perempuannya


di basement Han sudah menunggu dengan pakaian rapi sementara bosnya masih acak-acakan dengan pakaian kerja yang sama seperti kemarin


"untuk sementara waktu kamu tinggal di rumah saya dulu" titah Esa begitu mobil melaju meninggalkan apartemen


bukan senang mendapat tawaran dari sang bos, Han malah menghela napas pendek. tahu betul niat terselubung calon Direktur utama itu, bahwa kejadian ribet hari ini bisa teratasi.


Rumah pribadi Esa dan Ola tak memiliki pembantu pribadi, mereka sepakat menyewa pembantu harian dua orang yang hanya datang membersihkan di pagi hari dengan pengawasan tuan rumah, begitu pekerjaan kedua asisten rumah tangga selesai Esa dan Ola baru berangkat ke kantor masing-masing.


karna fakta itu lah yang membuat aktivitasnya hari ini jadi ribet. andai mereka memiliki orang kepercayaannya di rumah, Esa tak perlu pagi-pagi buta meninggalkan apartemen istrinya hanya untuk kembali ke rumah untuk mengganti pakaian kerja. Han yang notabenenya sekertaris pribadi yang baru ia resmikan belum lama ini tidak bisa ia andalkan untuk mengambil pakaiannya sebab Han belum pernah menginjak rumah itu lebih dalam selain hanya sampai pakarangan. Han tidak tahu seluk beluk beberapa ruangan sehingga mau tak mau Esa harus mandiri untuk pulang ke rumah demi menganti pakaiannya. sebab ia tak boleh bermalas-malasan sebelum mendapat kembali perjanjian kerjasama dengan pak Broto, paling tidak, ia tak perlu membayar denda dengan nominal cukup besar. hanya 5 miliar memang, hanya saja uang sejumlah itu cukup mengaji karyawannya dalam tiga bulan. dan sebagai pengusaha, uang sekecil apapun sangat berharga demi keberlangsungan perputaran uang perusahaan.


"apa perlu saya bawa beberapa pakaian saya ke apartemen istriku?" tanyanya pada Han


"emang bu Ola sudah menerima bapak kembali?" tanya Esa membuat bahu Esa melemas


ia tidak yakin istrinya sudah memberinya kesempatan, sebab tadi malam Esa yakin Ola menahannya karna perempuan itu takut sendirian melewati malam hujan berguntur

__ADS_1


* * *


Ola bangun sedikit tersentak kala alarm yang ia setel jam 7 menggema mengusik indra pendengarnya.


perempuan itu menggeliat lalu beranjak duduk.


"dia sudah pulang?" tanyanya begitu melihat bantal yang dipakai Esa semalam sudah tersimpan rapi di sisi bantalnya juga selimut serta pakaiannya yang Esa kenakan semalam ada di keranjang cuci.


mengendikkan bahu acuh, Ola beranjak dari kasur menuju kamar mandi guna membersihkan diri, bersiap-siap menjalani pagi ini dengan berbagai agenda yang sudah ia rencanakan sejak semalam


Calon Mantan Suami


'selamat pagi cantik'


'jangan lupa sarapan ya, tadi mas udah beli lontong sayur, mas taro di meja dapur'


"apa dia udah sehat?" gumamnya tanpa niat membalas chat Esa, ia lalu berjalan keluar kamar dan menuntun kakinya ke dapur, mengisi perutnya sebelum berangkat ke kantornya


* * *


"sudah lama menunggu?"


perempuan yang memakai rok plisket di bawah lutut dan blouse bunga-bunga itu membelalakkan matanya ketika melihat Ola berdiri di seberang meja. dia kemudian spontan berdiri dari duduknya "mbak Ola?" panggil perempuan itu tak percaya


"iya, ini saya. apa kamu berharap orang lain yang datang" tanya Ola dengan senyum menyeringai, sedikit menyeramkan

__ADS_1


perempuan ini pernah menguntitnya bahkan pernah datang langsung padanya meminta sesuatu hal miliknya yang sah secara agama maupun hukum, lalu kenapa melihatnya kali ini perempuan yang memoles wajahnya dengan sedikit sentuhan makeup natural itu terlihat gelagapan dan menunduk seolah takut padanya


"boleh saya duduk?"


"i... iya mbak, silahkan" gugup perempuan itu kemudian mengikuti Ola yang sudah lebih dulu menyamankan tubuhnya di kursi


Ola tak ingin berbasa-basi. Ola langsung memulai pembicaraan "apa yang kamu butuhkan? uang atau suami saya? keduanya?" meski terucap dengan nada datar, tapi cukup mampu membuat lawan bicaranya gentar


perempuan bernama lengkap Dewi Asmara itu hanya diam. lidahnya tiba-tiba kelu, tidak tahu apa yang harus ia katakan pada istri kekasihnya, sebab ia tak memiliki persiapan.


"kamu menunggu seseorang?" tanya Ola sekali lagi melihat keterdiaman lawan bicaranya "baiklah kita tunggu sampai orang itu datang" lanjutnya


Ola lantas memesan satu gelas mango juice ketika seorang pelayan perempuan menghampiri meja mereka dan menanyakan pesanan


lima menit berada dalam kebisuan dan larut dalam pikiran masing-masing, seseorang yang Dewi tunggu akhirnya terlihat memasuki restoran.


"ah, itu dia datang" Ola yang memang duduk menghadap ke bagian depan restoran melambaikan tangannya dibarengi seulas senyum manisnya


Dewi semakin gugup, tidak menyangka akan dihadapkan pada situasi seperti ini. inginnya hanya berdua dengan Esa, Ia bicara. tanpa ada Ola menemani.


"maaf, mas telat sayang" Esa masih belum menyadari siapa sosok yang duduk berhadapan dengan sang istri, sebab pandangannya hanya tertuju pada wajah ceria Ola


laki-laki itu kemudian mencium pelipis istrinya sebelum menempati kursi kosong di samping Andi Tenri Ola.


lagi-lagi, Dewi merasa tak percaya pada penglihatannya sendiri.

__ADS_1


bukankah sepasang suami istri di hadapannya sedang dalam proses perceraian? kenapa tampak begitu mesra


Bersambung...


__ADS_2