Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Demam


__ADS_3

ada perasaan lega di dadanya setelah mengeluarkan emosi dihadapan si penabur luka melalui tangis, namun ada juga rasa sesal karna tak bisa mengontrol perasaannya sehingga Esa melihat sisi lemahnya.


berbalik, Ola menundukkan pandangannya menatap pria yang tengah terlelap di bawah samping ranjang dengan beralaskan karpet bulu.


itu bukan permintaan Ola, melainkan inisiatif Esa sendiri karna tak mau menularkan virus yang sedang menjerat tubuh lelaki itu. padahal Ola sudah berbaik hati mengizinkan tidur di ranjang bersamanya saat Esa keukeh pengen satu kamar dengannya. apartemennya memiliki dua kamar, Ola awalnya menyarankan Esa tidur di kamar satunya, agar lelaki itu bisa tidur di ranjang empuk tapi kepala batu Esa menolak, katanya tak mau jauh-jauh darinya.


"mas nggak mau jauh-jauh dari kamu. lagian siapa yang akan mengganti kompres mas kalau bukan kamu, Yang" ujar Esa beberapa menit lalu, dengan alasan yang membuat Ola tak bisa berkata-kata


tangan Ola terulur menyentuh kain yang menempel di dahi Esa, begitu merasakan kainnya hampir kering, Ola beranjak bangun dan menganti kain kompres hangat di dahi sang suami


bukannya langsung balik ke ranjang, Ola malah berjongkok di samping Esa, menatap wajah lelap suaminya yang memerah.


bukan hanya Esa yang merindu memeluknya, Ola pun sama, merindukan pelukan hangat yang selalu membuatnya nyaman dan aman. hanya saja tadi, pelukan hangat dari Esa yang dirinduinya tak bisa ia nikmati sebab suhu tubuh lelaki itu tinggi hingga membuatnya tak tahan berada dalam pelukan Esa lebih dari tiga menit.


"kamu masih saja tampan walau sedang demam mas" gumam Ola sembari menyusuri hidung mancung suaminya menggunakan jari telunjuk kanannya, lalu jarinya berpindah ke kelopak mata berbulu lurus nan tebal. Ola tak takut akan mengusik tidur Esa, sebab ia tahu betul bahwa lelaki itu bak mayat ketika sedang sakit, berbeda jika sedang sehat, sentuhan kecil pun akan membuatnya bangun, terlebih si *adik jagoan, yang kalau bangun mampu membuat Ola merem melek sembari berdesis-desis syahdu


"tidur yang nyenyak dan mimpi indah. lekas pulih putra tampannya papa Barack" setelahnya Ola beranjak kembali ke ranjang. ia juga butuh tidur mengingat beberapa hari terakhir waktu tidurnya tidak maksimal gara-gara masalah pelik rumah tangganya

__ADS_1


namun sebelum benar-benar tidur, Ola teringat sesuatu membuatnya kembali beranjak duduk. matanya melirik ponsel di atas nakas yang bersebelahan dengan ponsel miliknya.


begitu tangannya terulur hendak meraih ponsel berwarna hitam itu, ia beristighfar nyaris memekik begitu tiba-tiba Esa terbangun dan duduk menghadapnya


"a..ada apa?" tanya Ola sedikit gugup


"ponsel, mana ponselku?"


alis Ola nyaris menyatu mendengar pertanyaan Esa. hampir saja ia menaruh curiga jika saja Esa tak segera menyahut


"mas minta tolong, kabari Han kalau mas nginap. dia masih di basement menunggu" pinta Esa lalu kembali berbaring, meraba kompres yang terjatuh akibat ia bangun tiba-tiba, begitu mendapat apa yang dicari, Esa menempelkan di dahinya lalu menyelimuti dirinya dan dalam hitungan detik lelaki itu kembali terlelap


lalu sedetik kemudian ada senyum tipis terukir di sudut bibir Ola, tanpa menunggu waktu lebih lama ia segera meraih ponsel Esa. ia tak perlu lagi mencuri-curi kesempatan memeriksa ponsel milik suaminya sebab telah mendapat izin dari si pemilik.


Ola lalu membuka aplikasi chat dan mencari room chat sekertaris suaminya, segera Ola menarikan kedua jempolnya di layar keyboard lalu mengirimkan sebaris kalimat pada Han. Ola pastikan Han sudah jamuran di basement yang dengan sabar menunggu Esa yang tak kunjung datang.


setelah mendapat balasan 'Oke' dari Han, Ola segera keluar room chat lalu mencari salah satu chat dari nomor asing yang tadi sempat Ola baca ketika pemilik ponsel membersihkan diri di kamar mandi. bukan berniat kurang ajar, tapi ponsel Esa yang tergeletak di meja depannya membuat hasrat kepo Ola beraksi. apalagi ponsel Esa tak memiliki kunci keamanan membuat Ola makin dalam memupuk rasa keponya ketika ponsel Esa terus berdering.

__ADS_1


3 panggilan ia biarkan berlalu, lalu setelahnya ada notif pesan beruntun yang tanpa pikir panjang Ola buka


+6287654321***


'Mas Arjuna, ini aku Dewi. tolong jawab panggilan ku, mas'


'buka blokir nomorku mas, aku mau bicara sama kamu'


'mas, aku butuh kamu'


pesan yang ternyata dari si gundik itu berhasil menyulut kekesalan Ola tadi. sehingga ia tak bisa mengontrol emosi dan membuat tangisnya pecah ketika segala tuduhan yang ia lemparkan pada Esa di tolak dengan berbagai argumen pembelaan pria itu.


setelah mengetik balasan, Ola lantas menghapus chatnya berikut dengan menghapus riwayat panggilan dari nomor baru yang digunakan Dewi.


sejenak Ola kembali memaku netranya pada layar yang menampilkan tema wallpaper ponsel Esa. adalah gambar seorang perempuan dan seorang lelaki yang tengah duduk di kursi kincir angin dengan senyum mengembang berpose masing-masing jari love menghadap kamera. adegan pengambilan gambar atas inisiatif si lelaki, katanya sebagai kenangan-kenangan sebelum si lelaki mencium sang perempuan di saksikan bintang-bintang dan suara ramai pengunjung pasar di bawah kincir angin yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ola ingat kejadian itu baru terjadi sekitar satu bulan lalu, saat ia sudah mantap memberikan surat cerai pada lelaki itu esok harinya


ah, mengingat itu rasa sesak di dadanya kembali hadir. merenungi bahwa pernikahannya selama terjalin belasan bulan itu tidaklah sempurna karna diikat dusta oleh sang Arjuna

__ADS_1


sebelum memejamkan mata, Ola menoleh sebentar ke arah bawah melihat suaminya, lalu kemudian ia mengatur posisi senyaman mungkin dengan posisi tidur menyamping menghadap ke arah Esa


Bersambung...


__ADS_2