
Malam hari, Luna menghampiri Aulia yang sedang belajar bersama Bobby di teras rumah. Tadi, Luna yang mengajari putrinya. Namun karena si kembar bertengkar karena rebutan mainan, Luna harus meminta tolong pada Bobby untuk menggantikan. Tak terlihat batang hidung Aldo, entah kemana lelaki itu sekarang ini.
"Sayang, ini buat kamu." Luna menyodorkan tas belanja warna hitam dan juga coklat muda.
"Apa ini, Mi?" tanya Aulia meraih dua tas berukuran besar tersebut.
Luna tidak menjawab, ia hanya mengusap lembut rambut panjang putrinya. Aulia membuka tas tersebut, lalu membuka lebar kedua mata. Beralih untuk menatap om nya dan juga sang mami, Aulia tampak berkaca-kaca lalu memeluk Luna. "Makasih banyak, Mi. Tapi mami gak perlu repot buat beliin ini, yang lama masih bisa dipakai kok." Aulia mengurai air mata begitu saja.
"Mami punya uang?" tanya Aulia dengan polosnya.
"Sayang, bisa gak mami minta ke kamu?" balas tanya Luna, anggukan kepala diberikan sebagai jawaban oleh gadis yang melepas pelukan dan menatap dirinya. "Kalau emang kamu butuh apa-apa, langsung ngomong ke mami. Gak boleh mikir yang lain, mami ada uang untuk keperluan kamu juga adik-adik. Kalian tanggungjawab mami, ngerti?" kata Luna, kembali anggukan kepala diberikan sebagai jawaban.
Aulia tak tahu harus berkata apa, dia tak ingin menjadi beban untuk siapa-siapa. Ya, sepatunya memang sudah sempit, tapi Aulia tak memberitahu siapapun sampai Luna tahu sendiri. Tas yang dikenakan untuk sekolah pun, rupanya tak cukup layak untuk terus dipakai. Tidak satu atau dua kali Luna meminta untuk putrinya mengatakan tentang keperluannya, tanpa harus berpikir tentang uang dan kemampuan.
Bukan ingin memanjakan, tapi kebutuhan untuk sekolah memanglah sebuah hal yang harus dipenuhi oleh Luna. Dia memang tak pernah untuk membelikan apa&apa sebelum ada prestasi diraih, sama seperti Dony padanya dulu. Namun semua berbeda, ketika menyangkut keperluan untuk pendidikan. Bobby melihat kebersamaan yang ada, kehangatan juga rasa saling menyayangi terlukis jelas diantara keduanya.
"Udah, belajarnya besok lagi. Ini udah malam, mendingan tidur dulu!" tegur Bobby, tak tahan harus melihat lebih lama lagi.
"Iya, Om. Makasih udah mau ajarin," sahut Aulia, merapikan buku-bukunya.
"Dy ...," terdengar suara Dinda, menatap ke arah halaman.
"Sini sama Daddy!" kata Bobby, berdiri mengulurkan tangan.
__ADS_1
Dinda menolak, menyembunyikan tangan dalam dekapan. Mata tetap ia arahkan ke halaman, dimana biasanya ia melihat lelaki yang telah dinantikan. Dinda terbiasa berlari dan menghampiri, seakan ia hapal betul suara dari kendaraan Aldo. Padahal, bukan hanya mobil Aldo satu-satunya yang memasuki halaman, tapi Dinda akan segera berlari ketika mobil Aldo yang datang.
"Daddy sibuk, kamu tidur sama mami aja ya?" bujuk Luna, putrinya menggelengkan kepala sembari mengusap wajah.
"Aku telfon om Aldo ya, Mi?" tanya Aulia.
"Gak usah, Sayang. Ini udah malam," jawab sang mami.
"Kamu masuk dulu ya, tidur sama adek. Habis ini mami ke dalam juga," tambahnya.
Aulia menuruti, dia membawa tas sekolahnya ke dalam bersama sepatu juga tas baru miliknya. Dinda tak ingin masuk, terpaksa Luna harus berada di teras bersama Bobby. "Aku video call aja," ucap Bobby.
"Gak usah!" cepat Luna menjawab.
Bobby menghela napasnya, niat untuk melakukan panggilan video pun diurungkan. Entah kemana Aldo, pesan juga tak dibalas dari waktu makan malam. Menemani perempuan yang sibuk menunjuk ke arah langit berhias bintang, sengaja dilakukan untuk mengalihkan perhatian Dinda. "Gak ada niat buat nikah gitu sama Aldo?" tanya Bobby tanpa basa-basi.
"Apaan sih, Kak?" malas Luna.
Bobby tersenyum, meletakkan telapak tangan di ujung kepala sang adik. Jawaban malas itu, tak dilanjutkan dengan pertanyaan lain oleh Bobby, padahal masih ada hal lain ingin dipertanyakan olehnya. Pertanyaan yang juga tertahan di tenggorokan ketika ingin diutarakan pada Aldo, tahu jika semua tidak bisa ia campuri.
Namun ia sering menyinggung hal itu bersama Tyo, yang tak lain adalah adik kandung dari Dimas sendiri. Menjodoh-jodohkan seperti anak kecil saja, terkadang membuat Luna dan Aldo risih dan malas menanggapi. Mungkin saja keduanya tahu tentang perasaan yang ditekan oleh masing-masing, mungkin pula mereka dapat memahami tentang rasa nyaman yang dirasakan oleh keduanya.
Saat Aldo meminta teh, sudah mirip dengan suami yang meminta pada istrinya. Ketika Luna terpaksa menitipkan beberapa barang kebutuhan dari anak-anaknya, dan rela dibelikan oleh Aldo sepulangnya bekerja atau kuliah. Semua juga diketahui oleh semua orang, bahkan keluarga Dimas yang tahu tentang perasaan dari lelaki yang dianggap anak serta keluarganya sendiri. Mereka tak absen untuk turut menjodohkan, walau mereka adalah keluarga dari Dimas.
__ADS_1
Tidak tahu apakah itu termasuk hal jahat yang dilakukan pada Dimas atau apa, tapi lebih suka ketika melihat Luna bersama Aldo daripada dengan putra pertama keluarga mereka. Natalie sendiri tak memungkiri hal itu, pernah bertanya langsung pada Luna perihal hati. Namun tetap saja, cengengesan tanpa ingin menjawab diberikan oleh Luna pada siapa saja yang bertanya hal sama.
Olivia keluar menyusul cucunya, hari semakin larut dengan udara yang juga bertambah dingin. "Ajak masuk, kasihan kalau di luar. Nanti masuk angin," ucap Olivia memegang pundak Luna dari belakang.
"Nungguin Aldo, Ma. Gak mau masuk dia," sahut Bobby.
"Aldo ketiduran dari sore, ini baru hubungin mama. Dia barusan bangun," kata wanita berpiyama hitam sutra itu.
"Hm, udah ketebak kalau ini! pasti ketiduran di sofa," gerutu Bobby.
"Susulin kesana, anterin makan juga. Pasti lapar dia," pinta Olivia.
"Tiba-tiba mata beraaaaat banget," keluh Bobby, mengangkat kedua tangan ke atas, meregangkan otot dan berjalan untuk masuk ke rumah.
"Papa!" seru Olivia sedikit kencang, menghentikan langkah Bobby yang hampir sampai pintu.
"Ah, Mama!" keluh Bobby menggaruk kepala belakang.
Luna tersenyum bersama Olivia, mereka tahu semua adalah akal-akalan dari Bobby sendiri. Dia terlalu malas jika harus berjalan ke rumah Aldo, untuk menggunakan kendaraan pun juga tak ingin repot. Hanya bisa pasrah jika sudah dipanggilkan pria yang kini bersama Rendi di ruang TV, Bobby duduk kembali di teras rumah menunggu sampai makanan dipersiapkan.
Aldo memang menghubungi Olivia, meminta maaf karena tidak datang makan malam seperti syarat pernah diajukan Olivia, dan janjinya sendiri. Ketiduran dari sore hingga malam, Aldo bahkan tidak menutup pintu ruang tamu dimana ia berbaring sedari tadi. Untung saja rumah itu memiliki pagar tinggi yang sudah di tutup tadi, sehingga tak ada orang masuk sesuka hati.
Jika sudah lelah, maka ia bisa tidur dimana saja dan kapan saja. Hal itu pula yang membuat kedua orangtuanya ataupun Olivia cerewet setengah mati padanya. Kebiasaan yang dihapal betul oleh Bobby, tak jauh berbeda dari sang adik yang terkadang ketiduran di kamar tempatnya bekerja atau tidur dalam posisi duduk di ruang tamu, bahkan meja makan.
__ADS_1