Unperfect Marriage

Unperfect Marriage
Unperfect Marriage 20


__ADS_3

Natalie dan Olivia masih berada di dapur, menyiapkan bahan-bahan untuk membuat puding kesukaan cucu mereka. Tetap berbincang, mengenai hubungan sulit untuk dipahami oleh mereka sendiri. Natalie masih dengan banyak pertanyaan akan rasa penasaran, dijawab oleh Olivia seperti apa yang diketahui.


Lagi pula, Natalie tahu batas dimana ia bertanya walau sangat ingin tahu. Dia memahami pribadi Olivia, tak akan menjawab apa yang tak seharusnya ia jawab. Batasan-batasan itulah yang membuat hubungan keduanya awet hingga sekarang, menekan rasa ingin tahu yang dianggap tak pantas untuk dipertanyakan. 


Memberikan pendapat jika diperlukan, tanpa memaksa untuk pendapat itu diterima dan dilaksanakan. Menghargai satu sama lain, walau berteman sangat baik layaknya saudara sendiri. Memang seperti itulah cara bergaul, harus memiliki batas sendiri agar tak menyinggung atau menyakiti.


Tapi tak sedikit pula orang yang menganggap semua adalah kewajaran, bertanya dengan rasa ingin tahu yang menggebu tanpa memandang perasaan. Jika tak dijawab, maka akan berpendapat sesuka hati dan mengembangkannya. Padahal, untuk apa ingin tahu tentang orang lain? bukankah mempelajari tentang diri sendiri itu lebih baik? karena sanggup untuk membenahi.


Rasa ingin tahu berlebihan, hanya akan menghancurkan banyak hal. Membuat orang lain muak, dan tak ingin lagi memiliki hubungan. Bertanya boleh saja, tapi ketika tidak dijawab, maka diamlah. Ketahuilah, ada hal-hal yang tak harus dikatakan dan menjadi rahasia bersama Tuhan. 


Terkadang cukup kasihan pada mereka yang memiliki rasa ingin tahu berlebihan akan hidup seseorang, tapi hidup sendiri tak diurus dengan benar. Jangan tanggung-tanggung kalau mau cari tahu, sekalian saja biaya hidup mereka tiap bulan, lalu biayai agar totalitas sekalian.


Menilai orang lain, menghakimi mereka, bahkan sampai menghina dengan begitu rendahnya, seolah hidup sendiri begitu baik tanpa ada salah. Padahal yang lebih baik dari seseorang, adalah mereka yang sanggup menilai dirinya sendiri dan mencari kesalahannya lalu memperbaiki. 


Ingatlah, tidak ada kehidupan yang sempurna di dunia ini, termasuk hidup sendiri. Ketika seseorang berani untuk menghinakan orang lain, disana ia sedang berusaha menghinakan diri sendiri. Berpikirlah, karena tak semua orang bisa untuk berada dalam orang lain, termasuk juga orang yang sering digunjing.


Tuhan memberikan jalan kehidupan untuk satu dan lainnya berbeda. Tak ada yang pantas untuk di hina, bahkan dibicarakan kesana-kemari tanpa bukti. Satu orang dan orang lainnya, memiliki pola berpikir yang tak sama, memiliki cara penyelesaian masalah yang berbeda, memiliki masalah yang tak dapat di bandingkan dan cara hidup yang tak bisa untuk disamakan, jadi akan lebih baik untuk saling bertoleransi.

__ADS_1


Sama dengan Natalie dan Olivia, saling menghormati satu sama lain. Mendukung, saling mendoakan yang terbaik, saling mengingatkan tanpa perlu menyinggung perasaan. Hal itu pula yang diajarkan pada anak-anak mereka, mengajarkan tentang perbedaan yang tak harus menjadi pembeda.


Termasuk juga tentang Rena yang sekarang mereka bahas bersama. Apa pun yang sudah dilakukan olehnya, tak ingin dibiarkan membekas selamanya. Olivia bercerita tentang Erwin yang menghubungi Dony beberapa hari lalu, mengutarakan hal sama yang pernah diutarakan pada Dedrick. Tentu Dony tak ingin membahas lebih, karena tak ingin mencampuri.


Luna tahu tentang panggilan itu, karena Erwin berbicara dengannya. Meminta maaf tentang apa yang sudah dilakukan oleh putrinya, tapi juga meminta untuk Luna merelakan Dimas saja. Tersenyum dengan permintaan itu, Luna pun tak berniat untuk mengulang kesalahan sama dalam hidupnya. Menyarankan agar Rena datang saja, karena Brian juga pasti membutuhkan.


Natalie menyimak cerita dari Olivia, dia tak pernah menyangka jika Erwin akan berani menghubungi dan mengatakan hal serupa. Sepertinya tak cukup dengan menghubungi suami dan papa mertuanya, sampai harus langsung ke Dony dan Luna yang jelas ia tahu seperti apa perbuatan putrinya.


"Hm, udahlah biarin aja. Kita gak perlu mikir berat," kata Olivia seraya menghela napas.


"Iya, timbangan badan juga udah berat." Terdengar suara berat, keduanya menoleh bersamaan.


"Enggak, Ma. Aku kesini mau ngasih ini, tapi gak enak kalau harus motong pembicaraan orang tua. Gak kedengaran semua kok," jawab Aldo santai, menunjukkan ponsel tengah terhubung panggilan video.


"Omy, Kamu?!" serentak Olivia dan Natalie bertanya. Aldo mengangguk, itu memang ibunya.


"Lanjutin ini!" kata Olivia, mengambil ponsel Aldo dan keluar dapur bersama Natalie untuk ke lantai atas.

__ADS_1


"Semangat banget," gumam Aldo.


Rupanya Natalie dan Olivia memang tengah menanti panggilan dari ibunda Aldo, bertukar resep yang semalam telah dikirim lewat foto pada HP mereka. Puding di atas kompor, ditinggalkan begitu saja oleh Olivia dan Natalie. Sekarang Aldo harus melanjutkan, lagi pula memang ia terbiasa bergelut dengan alat-alat dapur.


Memiliki usaha kuliner, memaksa Aldo untuk bisa memasak sendiri demi mengkreasikan beberapa menu baru. Ia pun tak asal, belajar lebih dulu pada ahlinya. Ya, ketika memulai bidang tertentu, menguasai lebih dulu adalah hal wajib untuknya. Agar tak mengandalkan orang lain terus-menerus, walau sekarang usahanya dijalankan oleh sang ibunda, karena pendidikan yang ia tempuh lebih tinggi.


Aldo memang mendengar sedikit pembicaraan keduanya, tapi biasa saja. Karena ia tahu jika Rena memang akan datang, itu dari Tyo sendiri. Bersama Bobby membahas tentang cafe mereka, juga membahas tentang diri Rena. Biarkan saja wanita yang berangsur pulih dari sakitnya itu untuk datang, untuk apa harus dipikirkan lebih keras? haknya untuk kemanapun, tak ada yang melarang untuk itu.


Aulia memasuki dapur, melihat Aldo sedang menuang puding di cetakan. Mencuci sendok yang tadi digunakan untuk makan es krim, Aulia mencium aroma puding dan merekahkan senyuman. "Enak," katanya dengan wajah polos.


"Makanan aja cepet," tersenyum Aldo.


"Harus dong, Om. Perut kenyang, otak berpikir cemerlang!" jawab Aulia bangga.


"Emak sama anak gak ada bedanya," lirih Aldo.


"Hehehe, emang itu ucapannya mami. Aku kan ngulang aja," cengengesan Aulia. Aldo melirik dan tersenyum, lalu menggelengkan kepala lirih. 

__ADS_1


"Om, emang om mau nikah sama mami?" tanya Aulia, meletakkan kedua tangan di meja dapur dan mengarahkan tatapan pada lelaki tinggi di sebelahnya. Aldo beralih ke wastafel, dia mengguyur alat masak yang digunakan dengan air. Aulia hendak meraih dan membantu untuk mencuci, tapi Aldo tak izinkan karena masih panas, dan di cuci sendiri.


__ADS_2