
🗣️🗣️🗣️ skip aja dulu, nanti mendekati buka puasa baru kalian baca yak!!! tapi kalau nekat banyak-banyak istighfar yuk 🙏🙏🙏♥️
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
"perselingkuhan. selama mas tidak melakukan hal itu aku bisa memaafkan apapun itu, bahkan kdrt sekalipun. aku benar-benar tidak memiliki stok maaf untuk itu"
kepalan tinju Esa bersarang di kepalanya sendiri ketika sekelebat kalimat Ola terngiang kembali di kepalanya.
kenapa dulu ia hanya menganggap angin lalu syarat dari Ola?
"La maafin mas, sayang" gumam Esa frustasi
seumur hidup baru kali ini ia ketakutan kehilangan seseorang dalam hidupnya.
melalui kaca spion di atas kepalanya, Han yang duduk di balik kemudi meringis diam-diam ketika melihat ekspresi mengenaskan bosnya yang duduk di kursi tengah. Han tak bisa berbuat apa-apa selain melajukan mobilnya secepat mungkin yang ia bisa agar sang bos bisa segera bertemu dengan bu Ola.
begitu sampai depan lobi hotel, Esa terburu-buru membuka pintu mobil dan berjalan cepat sedikit berlari menuju lift, tujuannya adalah kamar sang istri. namun ketika pintu lift hendak tertutup Esa keluar lagi menuju resepsionis. sempat terjadi ketegangan beberapa saat, dan setelah mengeluarkan semua bukti kalau dirinya adalah suami dari Ola, Resepsionis akhirnya memberinya kunci kamar cadangan.
meski memiliki cardlock cadangan, Esa tetap menekan bel begitu tiba di depan kamar bukingan Ola, selain ingin menjaga privasi sang istri yang entah ngapain di dalam kamar, Esa juga ingin dibukakan pintu dan memberi kesan seolah kedatangannya disambut oleh istrinya
namun hingga bel yang ia tekan ke-lima kalinya, Esa menyerah dan akhirnya membuka pintu dengan kartu sensor miliknya.
"assalamualaikum, sayang" serunya begitu pintu terbuka. matanya langsung menyusuri setiap sudut
__ADS_1
"La?" panggilnya ketika tak mendapati keberadaan sang istri
gegas ia mengeluarkan ponsel lalu melakukan panggilan pada kontak yang ia beri nama ISTRINYA MAS ESA 👩❤️💋👨💦
berdering...
namun hingga dering berakhir panggilannya tak juga mendapat jawaban. tak putus asa ia kembali menelepon, akan tetapi nomor ponsel Ola sudah tidak aktif
"astaga La, kamu kemana sih sayang?" erang Esa frustasi. kedua tangannya menjambak rambutnya sebagai pelampiasan kekalutan hatinya
bunyi notif pesan di ponselnya membuat Esa segera memungut benda canggih itu yang tadinya ia lempar ke atas ranjang saking kesalnya
matanya berbinar begitu mendapat notif berupa file foto dari kontak sang istri. tanpa pikir panjang Esa segera membukanya. bukan post a picture alias PAP sang istri yang tengah Esa harapkan, biasanya istrinya selalu mengirim pap padanya, tapi ini bukan, melainkan surat undangan sidang kedua perceraian mereka yang berubah menjadi besok lusa. sukses membuat hatinya terasa diremas-remas.
ternyata sesakit ini rasanya. hal yang dulu dikiranya akan baik-baik saja saat Esa merealisasikan rencananya menceraikan Ola demi menepati janjinya pada Dewi ternyata membuatnya merasakan sakit tiada tara seperti sekarang.
Semua karna rasa kasihannya pada Dewi sehingga Esa tutup mata untuk menyadari kemana sebenarnya perasaannya berlabuh. bahwa segala sesuatunya ia nyaman berada di dekat Ola. bahwa ia berani menyentuh seorang perempuan untuk pertama kali dalam hidupnya karna menaruh percaya bahwa Ola adalah yang hatinya mau. Esa bukan tipe laki-laki yang gampang menyerahkan tubuhnya kalau tidak ada cinta di dalamnya. dan itu ia berikan pada Ola, hanya saja ia terlambat menyadari bahwa hatinya ~di luar rasa kasihannya~ ia menginginkan Ola untuk dirinya.
sementara yang menjadi pusat kekacauan perasaan Esa kini tengah menikmati malam seorang diri di pantai Muaya yang malam ini lumayan sepi pengunjung. setelah mendapat panggilan dari sang ayah, bukannya langsung pulang sehabis dari pantai Kuta yang menjadi tempat resepsi pernikahan Naya dan Dimas, Ola malah berkunjung ke pantai yang identik dengan pasir coklat mudanya itu. pantai yang ada di Jimbaran itu pernah menjadi saksi akan kenangan indah yang pernah terukir bersama laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi masalalu nya.
meski semua sudah di depan mata tapi Ola masih sering menaruh harapan bahwa ia tengah bermimpi dalam tidurnya. namun rasa sakit nan sesak yang kadang membuatnya kesusahan menarik napas itu memaksanya sadar bahwa yang tengah dihadapinya adalah sebuah kenyataan. nyata adanya bahwa suaminya berselingkuh. lelaki yang ia cintai mengkhianati kepercayaannya. laki-laki yang ia manja dan limpahi kasih sayang sepenuh hati selama pernikahan ternyata memiliki niat jahat padanya sedari awal hubungan mereka
meski berat, meski harus tertatih-tatih untuk melawan rasa sakit hatinya, meski harus berperang seorang diri untuk melawan jiwanya yang telah sengaja dirusak oleh Esa, Ola tidak punya pilihan lain selain mengalah pada takdir.
__ADS_1
mencoba dan terluka tidak buruk ketimbang terjebak dalam hubungan yang telah rusak pondasinya sejak awal.
"ah.. ternyata masih ada stok airnya" gerutunya kala air mata meluncur jatuh melewati pipinya yang ia tepis menggunakan jemarinya
"air mata gue banyak juga, nggak habis-habis padahal udah dua minggu ini selalu berjatuhan. xixixi" monolognya dibarengi tawa hambar yang kemudian disusul isak tangis menyesakan dada
"Tuhan, ini... sungguh... sakit. boleh hamba menyerah nggak. rasanya... pengen mati aja..." terbata Ola berujar disela-sela isak tangisnya yang kian membuat dadanya kesusahan memproses oksigen
"aku ikhlas Tuhan, aku ikhlas kok. tapi kenapa rasanya masih sesakit ini? kata orang-orang kalau ikhlas sakitnya akan berkurang, tapi kenapa di aku rasa sakitnya masih sama?"
"aku ikhlas kan Tuhan?" tanya Ola dengan kepala mendongak menatap langit yang penuh bintang, cerah sekali, jauh berbanding terbalik dengan keadaan hatinya yang penuh kekelaman "buktinya aku tidak meminta engkau membalaskan kesakitanku padanya. aku tidak meminta karma turun pada mereka. aku cuman minta tolong sembuhkan rasa sakit ku saja" lanjutnya sembari menepuk-nepuk dada kirinya agar rasa sakit di dalam sana bisa terurai. bahkan kini tangisnya sudah sesegukan, Ola kesusahan mengambil napas.
"La?" panggilan dengan nada gemetar nyaris tertelan dengan suara ombak itu mengudara tapi mampu menembus gendang telinganya. suara yang sudah Ola hapal setengah mati, bahkan dalam tidurnya pun Ola bisa mengenali suara itu, suara yang selalu memujanya cantik setiap hari yang belakangan Ola tahu hanya dusta semata
"kamu...menemukan ku?" tanya Ola begitu menolehkan kepala lewat pundaknya, Esa berdiri disana dengan jarak tiga langkah
"sejauh apapun, mas akan terus menemukan mu sayang, kamu adalah tempat mas pulang. bagaimana mungkin mas tidak menemukan rumah mas sendiri, hm?" dibarengi air mata, ucapan itu terucap penuh kesungguhan dari mulut Esa. lelaki itu kini berjongkok di hadapan sang istri. hatinya teriris-iris menyaksikan untuk pertama kalinya Ola menangis sedemikian hebat, semua karna dirinya
"Esa bang-sat! apa yang telah kamu lakukan pada perempuan cantik ini" batinnya berteriak, ingin sekali Esa mence-kik dirinya sendiri
Bersambung...
hai gais.. mau nanya... sebaiknya upload sore aja menjelang buka apa tetap subuh nih? takutnya kalian baca ini pagi-pagi malah buat kalian emosi.. takut banget pahala puasa kalian jadi berkurang
__ADS_1