
Mereka semua menikmati sarapan dengan hening tanpa ada perbincangan. Hanya suara kunyahan dari mulut masing-masing yang terdengar.
Abi Misbah mengajarkan pada Putra-putranya dan para santri untuk makan menggunakan tangan mengikuti sunnah Nabi dengan tiga jari, Ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah.
Abi Misbah juga mengajarkan siapa saja dengan hal sederhana, walaupun santrinya banyak dari kalangan orang kaya. Tapi abi Misbah tidak mau jika santrinya dibiarkan hidup mewah mereka malah akan jadi sombong. Maka dari itu abi Misbah melatih mereka dengan hal-hal yang sederhana, Karena di pesantren tempatnya mengenal apa namanya sederhana itu sendiri.
Saat ini gus Arka sedang memperhatikan Nadira yang duduk tepat di depannya.
"Kayaknya pernah liat dimana ya?" dalam hati gus Arka.
"Hemmm." Suara deheman Abi Misbah membuyarkan lamuana gus Arka
"Tenang dulu Abi jangan suudzon sama Arka." Cegahnya takut Abinya salah paham. Melihat tatapan abinya saja Arka sudah yakin jika sang abi mengira yang tidak-tidak.
Sedangkan Nadira hanya menundukkan kepalanya sedari tadi, iya sadar sedari tadi gus Arka terus memperhatikannya. Bukan apa Nadira takut gus Arka mengingat kejadian malam itu bisa dihukum habis-habisan dia apalagi saat mengingat cerita dari Gina jika gus Arka super duper galak.
"Ini ndok Nadira santri baru." Ucap umi Rika seperti tau wajah penasaran putranya tapi bukan itu yang gus Arka maksud dari ekspresi wajahnya dia masih mengingat-ingat sesuatu.
"Nah sekarang Arka inget." Ucap gus Arka sedikit keras.
"Ngomong direm dulu itu." Kesal gus Arga karena dia tersentak kaget.
"Inget apa Ka?" tanya abi Misbah sedangkan yang lain hanya diam untuk menyimak.
"Dia kan yang tadi malem marah-marahin Arka bi, waktu Arka pulang dari Malang terus dia juga bilang pas pertama kali kesini langsung Arka marahin, padahal ketemu aja barus malem itu." Adu gus Arka.
Sedangkan Nadira dan Gina hanya saling pandang seolah mata mereka berdua mengisyaratkan sesuatu.
"Mampus gue ketauan juga mana dia ngomongnya depa umi Rika sama abi lagi kan malunya jadi dobel duhh." umpat Nadira.
"Ketemu dimana cuman berdua?" tanya Arga
"Dengar dulu penjelasan Arka mas jangan suudzon tadi abi sekarang mas." Kesalnya merasa tidak terima.
__ADS_1
Akhirnya gus Arka menjelaskan pada semuanya bagaimana dia dengan Nadira bisa bertemu semalam.
"Tapikan sama aja disitu cuman ada kalian berdua, terus disana juga tempatnya sedikit gelap."
"Tapi Arka gak sengaja mas dianya juga buru-buru." Potong gus Arka kalau tidak entah sampai mana kembarannya itu akan selesai bicara. Dan akan terjadi kesalah pahaman.
Umi Rika yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia kini angkat bicara.
Sedangkan Nadira, Gina dan mbak Tia hanya menyimak perdebatan keduanya abi Misbah sendiri sedang bingung oleh kedua putra kembarnya.
"Tapi kalau Orang-orang denger terus jadi fitnah gimana Ar? Apa lagi kamu dikenal orang-orang pria yang menjaga kesucian kamu tau sendiri kan kalau mulut orang itu racun satu kesalahan yang tidak disengaja bisa memudarkan seribu kebaikan, apa lagi kalau disengaja." Umi Rika memberikan penjelasan pada putranya agar mengerti.
"Ya umi, Arka tau tapi kan itu memang benar-benar kecelakaan." Bantahnya.
"Tapi disitu tidak ada orang Arka hanya kalian berdua tidak ada saksi yang melihatnya."
"Kalian harus Menikah!" ucap abi Misbah tanpa bisa diganggu gugat. Kini semua mata tertuju pada Abi Misbah.
"Pelan-pelan Nad makanya." Ujar mbak Tia sambil memberikan segelas air minum.
"Tapi Abi gak bisa gitu doang." Gus Arka masih membantah keputusan abinya. Yang benar saja dia harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak dia kenal.
"Ini perintah Arka Anggara bukan pilihan, jadi jangan membantah." Jika Abi Misbah sudah menyebut nama putranya itu artinya tidak bisa diganggu gugat.
"Tapi bi, Arka dan Mas Arga sudah sepakat mau menikah jika mbak Tia sudah Menikah." Arka mencari alasan.
"Gak papa kok gus." Hahut Mbak Tia.
"Tapi mbak ini kan udah janji kita dulu kita bertiga sudah sepakat."
"Heheh bocah tengil mau bagaimana lagi ini darurat."
"Tapi mas." Gus Arka masih mencari pembelaan siapa tau ada yang bisa mencegah keputusan abinya.
__ADS_1
"MUHAMMAD ARKA ANGGARA!!"
"Iya abi iya Arka mau." Gus Arka sudah pasrah.
"Alhamdulillah ucap semuanya." Kecuali Nadira dan Arka.
"Maaf Abi, Umi, gus Arka, gus Arga, jika Gina lancang tapi kenapa tidak lebih baik kita. tanyakan juga kepada Mbak Nadiranya?"
Sedari tadi Nadira diam saja Gina yang taupun dengan seribu kekuatan dan keberanian dia menyampaikan unek-uneknya. Entah kekuatan dari mana yang Gian dapat sehingga bisa begitu berani bicara tanpa beban.
"Astagfirullah hal-adzim." Ucap semuanya.
"Bismillahirohmanirohim ndok Nadira maaf sebelumnya Jika umi lancang tapi apa Ndok mau?"
"Tapi umi Nadira masih kuliah." Mencari alasan agar tidak jadi dinikahkan. Sama seperti gus Arka tadi.
"Tenag aja kalau itu gampang." Tutur Arga karena dia tidak sabar melihat kembarannya akan menikah.
"Jadi bagaimana ndok apa kamu mau?" Kali ini Abi yang bertanya.
Nadira hanya menganggukan kepala tanda setuju, entah jalan yang dia ambil sudah benar apa bagaimana tapi jika dia tidak setuju pasti dia dan Arka akan terkena masalah besar apalagi latar belakang keluarga gus Arka, Nadira hanya berharap jika papa dan mamanya tau mereka berdua tidak kecewa padanya.
"Alhamdulillah." Ucap mereka semua.
Tanpa sadar Arka juga mengucapkan Alhamdulillah.
"Ya sudah kalau begitu lusa kita ke rumah kamu ya nak." Ujar abi
"Tapi Abi."
"Umi paham ndok, umi kan pernah bilang sama kamu kalau udah siap cerita, ceritalah sama umi. Makanya abi bilang lusa bukan besok cerita ya ndok demi kebaikan kamu dan orang tua mu." Tutur umi Rika lemah lembut.
"Iya umi insya Allah."
__ADS_1