USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Ustadz Kembar


__ADS_3

Semua persiapan acara pernikahan. Ning Aqila dan gus Arga sudah 100% siap. Tinggal menunggu satu hari lagi kedua pasangan tersebut akan menjadi suami, istri yang sah.


Bahkan satu hari setelah acara perkumpulan dua keluarga. Ning Aqila dan gus Arka sama sekali tidak pernah bertemu.


Karena memang kyai Mansur dan abi Misbah melarang mereka berdua bertemu sebelum acara sakral nanti tiba waktunya.


"Umi Qila pengen jalan-jalan ketaman boleh gak Sih?" Pertanyaan. tersebut dilontarkan ning Aqila pada umi Nita. Karena sudah Tiga hari ini ning Aqila dilarang keluar rumah. Dia merasa sudah seperti tahanan saja. Dikurung dalam rumah sendiri hanya bisa pergi ke kamarnya di dapur, atau sudut-sudut ruang yang berada dirumah itu, hal itu mampu membuatnya bosan.


"Udah umi gak papa biar Aqila ketaman. Nanti Dina yang temenin kasian juga dia. Dikurung terus di rumah"


Ning Dian yang baru saja bergabung. meyakinkan uminya. Karena dia juga kasiahan pada adiknya sudah seperti tahanan saja.


"Iya umi boleh ya. Kan ada mbak Dina juga gak keluar dari pesantren kok"


"Pills" ucapnya lagi dia benar-benar memohon pada uminya gara diperbolehkan keluar rumah walaupun hanya pergi ketaman saja.


Ning Aqila sangat bahagia jika satu hari ini uminya membiarkan dia keluar dari rumah. untuk menikmati satu hari lagi menjadi seorang gadis.


"Ya sudah tapi janji ya sama umi kalau waktu sholat pulang" pesan uminya pada putri bungsunya itu.


"Siap umi" Dia menjawab ucapan uminya itu sambil mengangkat tangannya seperti orang yang hormat pada umum nya.


"Ada, Ada aja kamu ini ndok"

__ADS_1


"Udah sana nanti umi juga suruh Mila ketaman"


"Makasih umi, Kita sayang umi" ning Aqila dan ning Dina memeluk uminya bersamaan. Sepertinya hal yang dulu biasanya kedua orang itu lakukan memeluk umi mereka bersama sudah jarang sekali.


"Anak-anak umi udah dewasa semau ya bentar lagi umi kesepian dong"


"Jangan ngomong gitu umi, Qila janji nanti minta gus Arga sering main kesini deh."


Kini ning Aqila dan ning Dina sudah berada di taman. Ning Aqila sendiri sangat meresapi keindahan taman tersebut. Sedangkan ning Dina ikut bahagia melihat adik tersayangnya itu kini telah memilih pendamping hidupnya sendiri.


Ning Dina sangat bersyukur calon suami Aqila sangat tepat untuk adeknya itu.


Setelah larut dalam pikiran masing-masing keduanya mengobrol ringan. Seperti halnya  adik kakak sang sedang beranjak dewasa.


"Astagfirullah hal-adzim" Keduanya kaget dan mengucapkan istighfar bersama suara siapa lagi kalau bukan sepupunya tidak ada orang lain yang berani kepada kedua wanita yang sedang duduk ditaman itu kecuali kedua sepupu mereka yang kakak beradik.


"Ihss kebiasaan si Mila. Kalau mbak Qila sama mbak Dina punya penyakit jantung gimana?, terus pas dikagetin tiba-tiba syok gimana?" ning Aqila memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada sepupunya.


Sebenarnya ning Aqila sudah sering memperingati Mila akan tetapi bocah itu tetap saja bandel sering mengagetkan orang.


"Ya kalau mbak Qila sama mbak Dina punya penyakit jantung mila gak bakal kagetin kok" ucapnya tanpa merasa bersalah sama sekali, kata-kata santai yang keluar dari mulut gadis remaja itu mampu membuat orang terheran-heran sendiri karenanya.


"Well"

__ADS_1


Ya Mila akan selalu menang jika berdebat karena dia pintar sekali membalikan omongan orang. Kadang juga dia bisa menjatuhkan lawan bicaranya. Bahkan dengan kyai Mansur juga dia sangat berani tapi tetap dengan cara yang sopan, walaupun seperti itu tingkahnya tapi dia tau mana yang baik dan buruk apalagi masalah akhlak.


Jadi banyak para santri putra maupun putri yang segan pada Mila. Padahal dia orangnya asik. Jika sering dekat dengan nya.


Ning Dina dan ning Aqila hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sepupu mereka yang luar biasa tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.


"Oke kamu menang sekarang. Tapi ingat yang satu ini dengerin mbak ngomong baik-baik ok"


Mila mengangguk kan kepalanya seperti anak kecil ketika ning Aqila menyuruhnya mendengarkan apa yang akan disampaikan ning Aqila untuknya.  Tapi melihat hal itu ning Dina dan Aqila malah jadi  gemas sendiri.


"Ayok bicara mbak malah bengong terpesona sama Mila ya?" Pedenya tingkat dewanya mulai keluar pokoknya.


Ning Aqila memukul lengan Mila pelan.


"Kamu ya dek kalau ngomong suka bener. Lain kali kalau ketemu orang atau tiba-tiba dateng itu ucapin salam ngerti" Menatap Mila tajam begitu juga dengan ning Dina.


"Iya mbak Mila ngerti. Janji gak bakal ngulangin lagi deh" gadis remaja itu mengangkat kedua jarinya ke atas.


"Inget ya mbak pegang janji kamu"


"Iya mbak ku tersayang"


"Mbak Dina gak sayang donk berarti"

__ADS_1


"Iya mbak Dina dan mbak Qila ku tersayang. puass" Mila kesal sendiri dengan kedua mbaknya ini sedangkan ning Dian dan ning Aqila tertawa puas. Karena telah membuat Mila menjadi kesal.


__ADS_2