USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Ustadz kembar


__ADS_3

Makan malam yang ditunggu-tunggu oleh gus Arga akhirnya tiba. Ia merasa senang sekaligus sangat gugup.


"Qila,  umi setelah makan ke ruang keluarga dulu ada yang mau abah bicarakan" ucap kyai mansur di sela-sela makannya kyai Mansur memerintah istri dan anaknya itu.


"Iya abah"


"Iya abah" Keduanya menjawab serentak.


Gus Arga yang ikut makan malam bersama hanya merasakan gugup luar biasa tapi dia tetap berusaha agar terlihat biasa saja.


"Oh iya abah apa pak Wira sudah sampai?"


ning Aqila sengaja membuka pembicaraan seperti itu karena dia tau gus Arga sedang gugup. Begitu juga dengannya, tapi ning Aqila berusaha agar seperti tidak tau apa apa.


"Astagfirullah Qila. Abah lupa mita no pak Wira lagi" ucap kyai Mansur.


Kyai Mansur meruntuti dirinya sendiri. Karena lupa meminta no sahabatnya itu. Sedangkan pak Wira kembali ke Jakarta kemarin sore karena ada urusan penting, Maklum mama nya juga pebisnis.


"Arga ada no pak Wira yai" ucap gus Arga sopan.


"Alhamdulillah kalau begitu nanti saya minta gus" ucap kyai Mansur.


"Baik yai"


Kini keempat orang itu sudah duduk di ruang keluarga. Dengan ning Aqila yang bergelayut manja pada uminya.


"Gus silahkan sampaikan apa yang mau kamu sampaikan gus" tutur kyai Mansur lembut sambil mengambil tempat duduk.

__ADS_1


"Bismillahirohmanirohim, Ya Rabb semoga ini semua awal yang baik"


"Kyai, umi dan ning Aqila"


Gus Arga menjeda ucapannya sebelum kembali melanjutkan ucapannya, tapi ketiga orang itu tidak akan berbicara sebelum gus Arga menyelesaikan ucapannya.


"Jadi begini Umi, Kyai dan ning Aqila kedatangan saya kesini sebenarnya ingin meminang putri bungsu Kiyai dan umi. Yaitu ning Aqila sendiri"


Ketiga orang tersebut tidak ada yang terkejut atas ucapan gus Arga tersebut melainkan umi Nita tersenyum pada gus Arga, karena kiyai Mansur sudah menceritakan semuanya pada umi Nita, Sedangkan Aqila  kalain tau sendirikan.


"Umi dan abah setuju saja Gus. Tapi semua keputusan ada ditangan Qila saya dan abah tidak bisa menentukan" ucap umi Nita.


"Jadi bagaimana Qila, apa kamu mau?" umi Nita bertanya lembut pada putri bungsunya itu. Sedangkan Aqila hanya menunduk malu, dan gus Arga juga sudah meyakinkan hatinya apa saja jawaban ning Aqila dia akan menerimanya.


Setelah diam beberapa menit untuk menunggu jawaban dari ning Aqila, akhirnya dia menganggukan kepalanya tanda menerima


"Alhamdulillah" Ucap ketiganya tersenyum bahagia.


Dirumah sakit....


Kele..


Seorang dokter keluar setelah memeriksa keadaan Dimas yang tertimpa musibah.


"Dok gimana keadaan Dimas dia baik-bajk saja kan?"gus Arka bertanya dengan begitu khawatir  dia takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu juga kalau misalnya terjadi sesuatu pada Dimas akan seperti apa dia nanti menjelaskan pada kembarannya itu.


"Alhamdulillah dia baik-baik saja" ucap dokter yang memeriksa Dimas.

__ADS_1


"Alhamdulillah" Mereka semua mengucapkan syukur.


"Hubab" Panggil Nadira. Setelah dia sampai dirumah sakit sambil membawa makanan karena Nadira tau suaminya itu belum makan, sedangkan umi Rika dan abi Misbah sudah. Masuk ke ruang rawat Dimas.


"Sayang" Gus Arka memeluk pinggang istrinya untuk menghilangkan rasa lelah yang sangat teramat pada dirinya setelah kejadian yang menimpa sahabatnya itu dia melihat di depan matanya sendiri.


"Hubab ayok makan dulu kamu pasti lapar kan?" ucap Nadira memperhatikan suaminya itu. sambil Nadira membuka kotak makan yang dia bawa untuk  gus Arka.


"Makasih sayang udah repot-repot" gus Arka berbicara dengan sangat tulus, pada akhirnya keduanya menikmati makan yang dibawa Nadira tadi. Karena gus Arka tidak ingin makan sendiri padahal Nadira sudah makan, setelah menghabiskan makanan yang dibawa Nadira tadi keduanya masuk ke ruang rawat Dimas yang sedang terbaring dirumah sakit.


"Gimana keadaan mu Dim?" tanya gus Arka saat sudah berdiri di dekat Dimas.


"Alhamdulillah mas sudah lebih baik, lagian kenapa dibawa kerumah sakit mas? kan bisa diobatin di asrama" ucap Dimas tidak enak


Bukan apa Dimas berkata seperti itu. karena tidak enak saja pada gus Arka dan abi Misbah juga umi Rika walaupun mereka masih ada ikatan saudara.


"Nye, Nye, Ye kenipi dibiwi kirumi ahh sikt mas" gus Arka menirukan ucapan Dimas barusan


"Heh, gimana nggak dibawa kerumah sakit orang langsung pingsan gitu" Kesel gus Arka sedangkan Dimas hanya tersenyum karena telah membuat gus Arka kesel.


"Mas tapi gak bilang sama mas Arga kan?" tanya Dimas takut-takut apa lagi gus Arga sedang berada di Malang bisa saja jika mendengar Dimas tertimpa musibah dia langsung pulang ke Bandung.


"Gak, lagian emang dia bakal khawatir gitu gak akan" canda gus Arka tapi sebenarnya iya.


"Lek" tegur umi dan abi bersama.


"Heheh, iya umi abi" ucap gus Arka tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


Nadira dan Dimas menahan tawa karena gus Arka  ditegor dengan umi Rika dan abi Misbah  secara bersama. Menurut Dimas ini momen langka melihat nyali gus Arka menciut biasanya dia hanya akan memperlihatkan aura tegas dan dingin pada para santrinya apalagi santri putri.


__ADS_2