USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Ustadz Kembar


__ADS_3

Tidak terasa umur pernikahan gus Arga dan ning Aqila, Sudah masuk 3 bulan. Sedangkan kini kandungan nadira semakin terlihat.


Mereka hidup berdampingan dengan sangat rukun dan bahagia. Rumah gus Arga dan gus Arka juga bersebelahan. Sesuai janji mereka dulu tapi tidak dengan mbak Tia. Sekarang usia kandungan mbak tia sudah memasuki usia akan melahirkan.


Sedangkan Dimas tetap belum juga menikah. Padahal gus Arka dan gus Arga tau jika Dimas, sebenarnya ingin melamar Gina. Tapi dia belum memiliki keberanian untuk hal tersebut.


Ditempat lain juga. Kedua pasangan suami istri selalu tabah dan terus berdoa juga berusaha untuk mendapatkan buah hati yang mereka inginkan. Akan tetapi sepertinya Allah mempunyai rencana lain untuk keduanya.


"Sabar yakin bahwa rencana Allah lebih indah." Gibran selalu berusaha untuk menguatkan istrinya Dina. Begitu juga dia menguatkan dirinya.


Gibran selalu menaruh perhatian penuh kepada istrinya. Apalagi saat ini mereka sedang berkumpul di rumah kyai mansur karena sebentar lagi mbak Tia akan melahirkan.


***


Di rumah milik Abi Misbah sedang berkumpul istrinya. Kedua anak kembar Abi Misbah juga kedua menantunya yang telah setia menemanin kedua putranya. Bahkan Abi Misbah sangat bersyukur mendapatkan menantu yang selalu memperhatikan kedua putranya.


Ning Aqila juga semenjak menikah dengan gus Arga dia mengajar di pesantren Darussalam. begitu juga dengan Nadira. Karena dia orang yang sangat cepat tanggap. Ning Aqila mengajar santri senior putra maupun putri. Akan tetapi hanya di pelajaran qoriah saja yang putra juga ikut. Selain itu hanya putri.


Sedangkan Ning Nadira mengajar santri junior. Dia selalu bisa membuat para santri junior betah diajar dengannya. Karena cara penjelasannya sangat mudah dipaham dan dimengerti.


"Abi kenapa manggil kita semua kesini mendadak. padahal kan masih jamnya para santri ngaji?."


Gus Arka bertanya terlebih dahulu. Karena dia tadi datang tergesa-gesa. Setelah seorang santri menyampaikan bawah Abi Misbah menunggunya. Sampai disana sudah ada gus Arga dan ning Aqila juga istri dan uminya. Dia orang terakhir yang datang. Setelah ning Aqila dan gus Arga.


"Abi mau kasih tau. Kita dapet kabar dari Malang kalau Mbak Tia mau lahiran. Sekarang lagi di rumah sakit. Lagi nunggu pembukaannya. Jadi abi ngumpulin kalian mau mengajak untuk mendoakan mbak Tia dan bayinya semoga selamat. Tadi Abi juga udah nyuruh Dimas buat bilang ke para santri untuk berkumpul di masjid utama." jelas Abi Misbah panjang lebar.


Mereka paham apa yang disampaikan Abi Misbah. Setelah Abi Misbah mengatakan hal tersebut mereka bergegas menuju Masjid utama. Sedangkan Nadira memesan makanan. Lewat hpnya sambil berjalan disebelah suaminya dengan pelan. Karena biasanya Umi Rika akan menyiapkan makanan untuk para santri jika sedang berkumpul bersama seperti sekarang.

__ADS_1


Sesampainya di masjid utama semau santri telah berkumpul baik santri putra maupun santri putri. Ada beberapa santri yang bertanya-tanya kenapa abi Misbah mengumpulkan mereka secara mendadak.


Saat di atas mimbar abi Misbah mengatakan perihal mereka semua dikumpulkan di masjid utama. Setelah mengucapkan beberapa kalimat abi Misbah mulai memimpin doa. Kali ini abi Misbah yang memimpin sendiri karena biasanya Gus Arga atau Gus Arka yang memimpin doa.


Malang....


"Wek owek"


Suara tangisan Bayi dari dalam ruangan tersebut membuat mereka semua menangis haru.


"Selamat ya bapak. Ibu bayinya cantik sekali"


"Boleh silahkan di adzanin bapak"


"Setelah saya bersihkan"


Setelah selesai dimandikan mbak Tia menggendong bayinya dia juga terlihat sangat bahagia seperti gus dika.


"Terimakasih sayang" sambil mencium pucuk kepala istrinya yang tertutup hijab.


"Mas anak kita mau dikasih nama siapa?" mbak Tia bertanya penasaran. Karena dia belum mempunyai ide untuk itu.


"Nur Anisa? gimana setuju gak." gus Dika meminta pendapat Mbak Tia. Mbak Tia mengangguk tanda setuju.


Sekarang orang yang tadi menunggu diluar sudah masuk kedalam. Saat Kyai Mansur melihat malaikat kecil itu juga meneteskan air mata bahagia. Tidak terasa sekarang dia sudah mempunyai cucu.


"Boleh Abah gendong?" Pinta Kyai Mansur. dengan senang hati mbak Tia memberikan bayi Anniesa pada kakeknya.

__ADS_1


"Siapa namanya Lek" tanya umi Nita setelah baby Anisa berada dalam gendongan Kyai Mansur.


"Nur Anisa Umi"


"Bagus namanya Lek"


"Boleh Dina gendong Mbak" pinta Dina dengan begitu penuh harapan dia ingin sekali menggendong bayi Annisa.


"Boleh Ning, Anisa juga kan ponakan Ning Dina." sambil tersenyum dengan Ning Dina.


Ning Dina terlihat begitu bahagia bisa menggendong Bayi Anisa.


"Sabar gusti Allah punya rencana lain." Gibran terus menguat kan istrinya. sambil tersenyum menguatkan. Bahwa mereka bisa melewati ini semua.


"Yang sabar ndok Gusti Allah punya rencana yang lebih bagus." Umi Nita tau apa yang dipikirkan Ning Dina.


"Kamu bisa anggep bayi Anisa anak kamu juga dek." Gus Dika mencoba memberi semangat pada adik pertamanya.


"Bener Mas. Tapi emang gak papa Mbak Tia"


"Bener Ning." Ning Dina terlihat begitu bahagia setelah mendengar kata-kata dari gus dika dan Mbak Tia.


Di Bandung


Tepat saat Abi Misbah menyelesaikan doanya. saat itu pula bayi Annisa melihat dunia.


Selesai berdoa abi Misbah mendapat telpon dari Kyai Mansur jika Mbak Tia sudah melahirkan Bayi perempuan.

__ADS_1


Mendengar kabar bahagia tersebut mereka semua mengucapkan syukur, Pada Sang Maha Kuasa. Semua orang turut bahagia atas lahirnya bayi Nur Anisa.


__ADS_2