
Kini semua orang yang berada dirumah itu terlihat sangat bahagia. Karena orang mereka sayang telah kembali. Apa lagi Nadira dekat dengan semua orang di rumahnya, Bahkan Bi Ina yang mengurus dia waktu mamanya tidak peduli dengan anaknya sendiri.
Nadira sudah menceritakan semuanya dari awal dia kabur sampai bisa tinggal dipesantren darussalam.
"Jadi hp kamu ilang sayang?"
"Iya Ma."
"Terus selam kamu gak di rumah kuliah kamu gimana?"
"Nadira tetap kuliah kok pa semenjak di pesantren." Ujarnya.
Karena memang semenjak dia tinggal di pesantren Darussalam. Nadira sudah mulai kuliah lagi, juga disana ada bebrapa santriwati kuliah di Bandung Raya, Bahkan gus kembar mereka juga kuliah disana yang sebentar lagi akan wisuda.
"Bodoh." Ucap Pak Jaya meruntuti dirinya sendiri.
"Bodoh kenapa pa?"
"Papa bodoh Ma karena mencari Nadira dimana-mana tapi tidak dipesanteren milik keluarga Anggara dan juga di kampus anak kita sendiri."
"Nasi sudah menjadi bubur." Tutur Abi Misbah mencairkan suasana.
"Jadi Pak Jaya kedatangan kami kesini ada hal penting yang ingin kami sampaikan." Ujar Abi Misbah setelah suasana cukup tenang.
"Ada apa gerangan abi, bahkan Abi sendiri yang menemui saya itu sebagai kehormatan untuk saya. Apakah Abi Misbah sudah setuju akan menyerahkan tanah itu kepada saya."
"Papa!!!" ucap Nadira dan mamanya bersamaan.
"Iya deh papa cuman becanda kok. Gak beneran lagian papa udah iklas untuk semuanya." Tutur pak jaya penuh keseriusan.
__ADS_1
"Jadi begini Pak Jaya saya dan keluarga saya datang kesini karena niat baik kami."
"Saya ingin meminang Putri Bapak untuk menjadi pendamping hidup saya samapi akhir hayat." Kali ini semua mata tertuju pada gus Arka yang begitu lancaranya berbicara tanpa beban. Bahkan umi Rika sendiri samapi kagum dengan keberanian anak nya itu.
"Adu kenapa sih Ar ngomong tanpa beban kalau ditolak sama ayahnya Nadira malunya setengah hidup." Dalam hati gus Arka.
"Alhamdulillah." Ucap Pak jaya dan mama Lina bersamaan. Mereka sangat senang ada yang melamar putri tunggal mereka, apa lagi mereka tidak menyangka yang melamar anak dari kiyai. Sebelumnya hal ini tidak pernah terlintas dari pikiran kedua orang tua Nadira jika nanti anaknya akan dilamar oleh, seorang laki-laki yang paham agama.
"Mama kok Alhamdulillah." Bisik Nadira pada mamanya.
"Ya Alhamdulillah sayang kamu udah ketemu jodohnya." Jawab mama Lina begitu bahagia.
"Saya sendiri sangat menerima niat baik Abi Misbah dan keluarga. Tapi sepenuhnya saya serahkan pada Putri saya, karena dia yang akan menjalanin hidup ini bukan saya." Pak jaya menjawab dengan begitu senang, karena dia yakin putrinya akan menerima Gus Arka.
"Jadi bagaimana Ndok Nadira apa kamu mau?" kali ini umi Rika yang bertanya.
Entah kenapa setiap apa yang terlontar dari mulut umi Rika seakan seperti sihir tersendiri bagi Nadira. Dia tidak bisa menolak. Apa saja yang kata-kata yang terlontar dari bibir umi Rika.
"Mama bilang apa sama Nadira?" pak Jaya bertanya dengan penuh sekidik pada istrinya itu.
"Gak kok."
"Papa awas kalau macem-macem Ma!" ancam pak Jaya pada istrinya.
"Gak pa. Soudzon aja deh sama istri sendiri."
Karena Nadira tidak berani menjawab dia hanya mengangukan kepalanya.
"Jika wanitanya diam maka tandanya setuju betul begitu ndok?"
__ADS_1
Tanya Abi dan sekali lagi Nadira hanya mengangukan kepalanya tanda dia setuju.
"Alhamdulillah." Ucap semuanya.
"Sepertinya saya tidak asing dengan Nak Arka tapi pernah ketemu dimana ya." Ucap mama Lina sambil mengingat pertama kali dia bertemu dengan Arka.
"Mungkin saudara kembar saya tante." Jawab Arka ramah.
Karena dia merasa tidak pernah bertemu dengan mamanya Nadira sebelumnya.
"Kamu punya saudara kembar memang?"
" Iya tante." Jawab gus Arka sopan.
"Tapi apa saudara kembar kamu jika senyum tipis menampakan lesung pipit seperti kamu?"
"Tidak tante Mas Arga tidak punya lesung pipit seperti saya." Jelasnya.
"Saya ingat sekarang kamu waktu itu yang meriksa saya di rumah sakit kan? Kamu inget tidak yang katanya pasen itu sedang syok kamu dokter muda itu kan?" tanya mama Lina lagi memastikan dia yakin pasti tidak salah orang.
Gus Arka juga sedang mengingat-ingat kapan terakhir kalinya dia ada tugas di rumah sakit milik sepupunya. Sedangkan Pak Jaya waktu itu sangat hawatir tidak terlalu meperhatiak dokter tersebut tapi yang dia ingat dokter itu masih muda.
"Hemm." Ucap gus Arka mengantung kalimatnya.
"Tante yang bernama pasen ibu Lina Jaya bukan?"
"Tepat sekali." Jawab Lina senang.
"Jadi kamu seorang Dokter?" tanya Mama Lina
__ADS_1
"Mama habis sakit apa Ma memangnya?" potong Nadira, karena kahwatir mendegar kabar bahwa mamanya barus sembuh dari sakit.