
"Dimana ini?" tanya gus Arga saat sudah mulai sadar. Pada saat adzan subuh berkumandang gus Arga telah siuman. ternyata dugaan dokter yang memeriksa gus Arga kemarena meleset.
Pintu kamar ruang rawat terbuka gus Arga terbuka memperlihatkan seorang laki-laki paruh baya seusia abi nya. Gus Arga dapat melihat seorang laki-laki paruh baya itu berjalan mendekati brankar pasien yang saat ini gus Arga tempati.
"Alhamdulillah nak kamu sudah bangun" ucapnya Sambil mendekat kearah gus Arga yang sudah siuman.
"Bapak siapa?" tanya gus Arga dengan rasa penasarannya.
"Saya yang semalam membantu kamu dan supir taksi, yang kamu tumpangi. Sebenarnya ini juga salah saya karena saya mengemudikan truk terlalu kencang, Maaf kan saya nak" ucap laki-laki paruh baya tersebut merasa sangat bersalah. Dia sambil mencium punggung tangan gus Arga.
"Ini sudah jalannya pak, alhamdulillah sekarang saya sudah sadar. Lalu dimana supir taksi itu apa dia tidak kenapa-napa?" Gus Arga bertanya khawatir pada supir truk itu mengenai supir taksi yang iya tumpangi semalam.
"Alhamdulillah dia tidak papa nak, dia sudah saya suruh pulang, setelah menjenguk kamu semalam. Karena dia takut keluarganya khawatir" jelas sang supir truk.
"Astagfirullah hal-adzim" Gus Arga sambil mencari hape nya.
"Kenapa nak? ohh iya siapa nama kamu?" tanya supir truk itu sopan pada gus Arga.
"Saya Arga pak, terus saya lupa ngabarin keluarga saya di Bandung. kalau saya udah sampai Malang, saya takut umi saya khawatir pak" jelas gus Arga sambil dia masih berusaha mencari ponselnya tapi nihil ponsel milik gus Arga tidak bisa ditemukan di dalam kantung celananya yang iya kenakan saat ini.
__ADS_1
"Kalau saya boleh bertanya bapak siapa namanya? Dan apa yang menjaga saya dari tadi malam disini bapak?"
"Saya pak Wira nak, Iya saya yang menjaga kamu. saya harus bertanggung jawab" Jelas lelaki paruh baya itu yang bernama pak Wira.
Sedangkan ditempat lain tepatnya di kota bandung di kediaman abi Misbah, umi Rika sedang menunggu kabar dari putra sulungnya itu yang pergi kemalang.
"Ya Allah Arga kemana sih masa sudah hampir pagi lagi belum ngasih kabar" ucap umi Rika sangat khawatir dari semalam terus saja gelisa memikirkan putra pertamanya yang tidak kunjung memberikan kabar sampai sekarang.
"Umi sabar ya kita berdoa aja sama Allah kalau Arga gak papa. Mungkin dia terlalu lelah di perjalanan, makanya belum sempat kasih kabar" Abi Misbah terus menenangkan umi Rika agar pikirannya bisa lebih tenang.
Sedangkan Nadira dan gus Arka bermalam dirumah abi Misbah. Karena mereka semua mengkhawatirkan keadaan umi Rika.
Gus Arga sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, Akhirnya pak Wira yang mengantar gus Arga ke pesantren al-hidayah tempat tujuan gus Arga yang sebenarnya.
"Pak saya telpon keluarga saya dulu" Sambil mengambil ponsel di saku celananya yang tadi iya temukan di meja ditempat dia dirawat mungkin pak Wira yang meletakkannya di sana. Hanya ponsel dan dompet milik gus Arga yang tersisa.
"Assalamualaikum umi" ucap gus Arga dari ponsel miliknya saat sambungan sudah terhubung.
"Waalaikumsalam lek, kamu kemana aja kok jam segini barus kasih kabar, umi khawatir sama kamu lek" Oceh umi Rika diseberang sana.
__ADS_1
Karena memang dari semalam umi Rika terus saja memikirkan gus Arga. Sampai tidak bisa tidur. Ikatan antara ibu dan anak memang lah sangat kuat.
"Maaf umi Arga barus sempet soalnya pas sampai langsung tidur" Gus Arga terpaksa berbohong pada umi Rika kalau tidak pasti uminya akan terus kepikiran. Karena tidak mungkin gus Arga berbicara sejujurnya dengan umi Rika apa yang telah menimpanya.
"Syukurlah lek kalau kamu gak papa" Akhirnya umi Rika bisa bernapas lega setelah mendengar suara putranya dari seberang telpon.
"Assalamualaikum umi" ucap gus Arga mengakhiri panggilannya pada umi Rika.
"Waalaikumsalam lek"
Saat ini mobil truk yang ditumpangi gus Arga masih melaju dengan pelan, sampai akhirnya. gus Arga ingat jika dia tidak punya pakaian satu pun selain yang menempel pada badannya saat ini.
"Pak apa boleh saya beli baju sebentar" gus Arga berbicara dengan hati-hati. Dia takut merepotkan bapak Wira. Dari semalam dia yang mengurus gus Arga.
"ya nak kita kesitu aja ada butik kecil" ucap pak Wira. Kebetulan bapak Wira tidak sengaja melihat butik kecil yang ia bicarakan tadi.
Gus Arga hanya membeli tiga setel baju, Satu sarung, Dan satu peci. Sesudah gus Arga membeli semua kebutuhannya. kini mobil truk milik pak Wira kembali melaju kearah pesantren Al-hidayah.
Untung saja jalan akan ke pesantren al-hidayah bisa dilewati oleh kendaraan besar seperti truk milik pak Wira ini, coba saja jika di pesantren Darussalam milik abi Misbah sudah bisa dipastikan mobil terus tidak akan bisa masuk, Karena jalan yang hanya bisa untuk kendaraan mobil biasa saja...
__ADS_1
Setelah sampai keduanya pun turun dari mobil, pak wira ingin meminta maaf pada keluarga gus Arga.
Akan tetapi gus Arga tidak tau sebenarnya apa yang akan pak Wira lakukan. Karena pak Wira bicara hanya ingin mengantar gus Arga, sampai kedalam sebenarnya gus Arga sudah tidak enek sama pak Wira, karena dari kemaren dia merasa sudah banyak menyusahkan pak Wira.