
"Mas sini geh duduk sebentar ada hal penting yang mau saya bicarakan." Ajak gus Arka
"Kenapa adek ku tersayang?" canda gus Arga
"Tar dulu becandanya ini serius Mas."
"Iya serius kenapa ngomong nya bertele-tele dari tadi"
"Makanya Mas diem dulu janggan potong terus kalau Arka lagi ngomong ini."
" Iya, iya deh."
"Noh kan mulai lagi." Kesel gus Arka pada kembarannya ini.
"Ups, ya deh sekarang diem dan cepet ngomong." Tegas gus Arga.
"Ini masalah Nadira Mas"
"Kamu suka kan sama dia?" Potong gus Arga lagi tanpa mendengarkan ucapan gus Arka sampai tuntas.
"Mas Argaaaaa!! Dengar dulu perasaan dari tadi di potong trus!!" terika gus Arka emosi.
Arga yang mendengar teriakan kembaranya itu langsung bungkam.
"Nah gitu kan enak liatnya kalem." Sindir gus Arka saat gus Arga benar-benar diam.
Tag..
Arga menepuk jidat kembaranya dengan keras "Astagfirullah Mas!!" keselnya
"Udah cepet ngomong."
"Jadi gini mas pas pertama kali lihat Nadira kayak ada yang mirip siapa gitu mas." Ucapnya sambil otaknya berpikir keras Nadira itu mirip siapa.
"Pak Jaya!" ucap Arka sedikit kencang. Karena sekarang dia ingat Nadira sangat mirip dengan Pak Jaya.
"Pak Jaya? kenapa lek?" ujar abi Misbah yang baru saja masuk.
"Itu Bi, Nadira kayaknya anaknya Pak Jaya. Kata Arka mirip banget soalnya." Arga yang menjawab pertanyaan Abinya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu nanti kita tanyakan sama orangnya langsung."
"Baik Bi." Jawab mereka kompak.
"Ar, kakak kamu yang ganteng ini mau ngalah sama kamu kita tukeran waktu wisudanya kamu kan udah mau nikah. Kasian kalau wisudanya lama."
"Terserah deh Mas." Jawab Arka malas.
"Lek, abi mau ngomong sama kamu ikut Abi keruangan Abi." Tutur Abi Misbah pada Arga sambil menepuk pundaknya dan berlalu diikuti Arga.
"Arka gak Bi?." teriaknya
"Bocil diem aja ini masalah orang dewasa," ucap Arga setengah berteriak.
"Lah, dibilang bocil bentar lagi mau nikah padahal duluan Arka dari pada tu orang." Ujarnya pada diri sendiri.
"Ngomong apa sih Ar?" bertanya pada diri sendiri sambil geleng-geleng kepala untuk menghilangkan apa yang ada di dalam otaknya itu.
Sesampainya di ruang kerja abi Misbah ternyata disana sudah ada Abi Misbah, Umi Rika, Kyai Mansur dan gus Dika.
"Assalamualaikum A.." Ucap gus Arga terpotong karena melihat disana sudah banyak orang yang dikenalnya.
"Kapan datang yai kok saya tidak tahu?" tanya gus Arga basabasi.
"Tadi sekitar satu jam lalu Gus." Jawab keduanya.
"hah satu jam kok saya gak liat?" heran gus Arga.
"Tadi cuman ada Arka, Ga. kata Arka lu lagi ngajar anak-anak makanya nggak tau gue sama abah datang." Kali ini gus Dika yang angkat bicara. dan gus Arga mengangguk paham atas penjelasan gus Dika.
"Duduk Ar." Suruh abi Misbah.
"Iya Bi." Menjawab sambil duduk.
"Jadi begini gus Arga saya dan putra saya datang kesini ingin mengundang Gus Arga. menemanin putra saya karena dia mau menikah." Jelas yayi Mansur.
"Alhamdulillah nikah juga Kamu Ka." Ucap gus Arga gembira pada gus Dika.
"Yoi lah, kamu kapan?"
__ADS_1
" Tinggal tunggu jodoh aja." Candanya.
"Lek jodoh kalau tidak dijemput keburu diambil orang apalagi kamu laki-laki." Sela umi Rika yang duduk disebelah abi Misbah.
"Heh iya umi, Arga tau tapi ngomong-ngomong mau nikah sama siapa ni si Dika?" tanyanya penasaran.
Tepat saat gus Arga bertanya begitu, suara deru langkah seorang terdengar dari arah pintu masuk ruang abi Misbah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab mereka yang ada di dalam dengan kompak.
"Ee Mbak Tia ada apa Mbak?" tanya gus Arga yang tidak tau apa-apa.
"Ini dia calon istrinya." Ucap gus Dika senang tanpa malu.
Mbak Tia yang mendengar ucapan Dika hanya tersenyum malu-malu.
"Lu becanda mau nikahin Mbak Tia yang bener aja?"
"Betul Ar." Sela abi Misbah membenarkan.
"Kamu dipanggil kesini karena mau membahas semuanya pelaksanaan pernikahan Gus Dika dan Mbak Tia akan diselenggarakan kan dengan pernikahan ning Dina." Jelas Sang Abi.
deg...
"Dina akan menikah dengan siapa? Benar kata umi jodoh kalau gak diperjuangin bakal diambil orang." batin gus Arga pada diri sendiri, karena Dian anak kiyai Mansur adalah cinta pertamanya, satu tahun yang lalu saat abi Misbah dan dirinya pergi ke Malang entah bagaimana caranya dia bisa langsung jatuh cinta pada pandangan pertama yaitu ning Dina.
Setelah mendengar penjelasan Abinya bahwa Dina akan menikah raut wajah gus Arga berubah drastis. Tapi dia berusaha Agar tetap biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa.
"Jadi Gus Arga saya meminta bantuan gus. Untuk bisa ikut andil dalam hal ini, Karen kata putra saya Gus Arga ahli dalam hal masalah mengrias penganti, Mendekor dengan bagus." Tambah Kyai Mansur.
"Gimana bisa kagak keberatan kan Ga?. maaf merepotkan." Ujar Dika tidak enak hati.
"Santai aja pasti aku mau apa lagi ini pernikahan Mbak Tia juga."
Tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Sedang hancur mengetahui kenyataan begitu perih orang yang iya cintai dalam diam sejak pertama kali berjumpa akan bersanding dipelaminan dengan laki-laki lain.
"Alhamdulillah." Mereka semua di dalam ruang itu mengucapkan syukur.
__ADS_1