USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Gadis yang tersesat


__ADS_3

Seorang gadis cantik berjalan sendiri melewati hutan yang sangat dalam, dia tidak tau lagi akan melangkah pergi kemana, gadis itu baru saja berhasil kabur dari rumahnya sendiri.


Hari ini untuk pertama kalinya dia pergi ketempat yang sepi biasanya dia hanya akan pergi ke tempat-tempat ramai dan mewah.


Saat gadis itu berjalan sudah cukup jauh  tanpa dia sadari hutan yang dia lewati itu menghubungkan dengan suatu desa yang  sangat Asri. Entah kenapa langkah kakinya bisa sampai di depan gerbang pesantren Darussalam.


"Assalamualaikum, mbak ada yang bisa saya bantu?" sapa mbak Tia pada gadis yang berdiri di depan gerbang pesantren, kebetulan sekali mbak Tia mau ke pasar.


Tapi di depan gerbang malah bertemu dengan gadis yang ada di depanya ini, entah datang dari mana asalnya.


"Waalaikumsalam." Jawab gadis itu sambil celingak-celinguk.


"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya mbak Tia ramah.


"Saya tersesat sampai kesini." Ujarnya.


"Apa Mbak bukan orang sini? Mbak dari mana memangnya?"


"Saya memang bukan orang sini, saya kabur dari rumah." Ucapnya pelan.


"Astagfirullah." Gumun mbak Tia.


"Tapi saya juga tidak tahu kenapa saya bisa sampai disini. Bahkan ini barus pertama kalinya saya ke tempat asing, saya asalnya dari Kota." Ucapnya panjang lebar.


"Ya sudah kalau begitu mbak ikut saya dulu kita ke rumah umi." Ajak mbak Tia pada gadis itu.


Mbak Tia yang tadinya akan pergi ke pasar harus tertunda, dia harus melaporkan hal ini pada umi Rika terlebih dahulu. Saat ini mbak Tia dan gadis yang iya temui tadi di depan gerbang sudah berdiri di depan rumah abi Misbah.


"Assalamualaikum, Umi." Salam mbak Tia.


"Waalaikumsalam mbak Tia, loh Mbak Tia gak jadi ke pasar emang?"


"Jadi Umi, tapi ini tadi ketemu Mbak ini di depan gerbang masuk, makanya Tia balik lagi kesini." Jelas mbak Tia.

__ADS_1


"Ya sudah ayo masuk dulu, duduk dulu umi mau denger penjelasan kamu mbak Tia."


Mereka bertiga pun berlalu masuk ke ruang tamu ndalem.


Di ruang tamu...


"Jadi begini Umi, tadi waktu Tia mau ke pasar, Tia gak sengaja ketemu dia di depan gerbang kayak orang bingung gitu, katanya dia bilang tersesat umi." Mbak Tia menjelaskan pada umi Rika apa yang dia lihat tadi.


"Kamu sudah tau namanya, mbak Tia?"


"Punten umi belum Tia lupa menanyakan namanya."


"Sudah tidak apa-apa, ndok ayu siapa namanya?" tanya umi kepada gadis itu.


"Saya Nadira umi,"


"Ndok Nadira kenapa bisa sampai sini?"  tanya umi ramah pada Nadira.


Belum sempat Nadira menjawab mbak Tia pamit dengan umi Rika, karena dia harus ke pasar.Untuk membeli kebutuhan dapur ndalem.


"Astaghfirullah, kok bisa kabur dari rumah ndok? memangnya orang tua kamu gak nyariin kamu apa?"


Nadira yang ditanya perihal kedua orang tuanya sontak hanya dia saja sambil menunduk. Umi Rika paham dengan perubahan wajah Nadira jika dia masih ada masalah dengan kedua orangtuanya.


"Ya sudah kalau kamu belum mau cerita. Tapi kalau kamu udah siap umi senang sekali jika mau cerita sama umi."


"Iya umi makasih banyak." Imbuhnya.


"Apa kamu mau tinggal di pesantren ndok?" tawar umi Rika.


"Memangnya boleh umi?"


"Boleh-boleh aja, wong ini tempat buat siapa aja yang ingin menuntut ilmu. Tapi syaratnya kalau kamu mau tinggal disini harus patuh terhadap peraturan ndok. Juga harus pake kerudung, gimana ndok Nadira apa mau?"

__ADS_1


"Mau umi tapi saya gak bawa apa-apa dari rumah."


"Ya sudah nanti kita beli di pasar, kamu sudah makan apa belum ndok?" tanya umi Rika lembut.


"Belum umi."


"Ya sudah ayo kita makan dulu ndok."


"Terima Kasih umi, tapi."


Nadira tidak enak dengan umi Rika sudah ditawarkan tempat tinggal sekarang diajak makan. Umi Rika begitu baik dengannya padahal Nadira merupakan orang asing yang baru saja umi Rika kenal.


"Udah gak papa ayok ndok anggap ini rumah kamu sendiri. Nanti kalau mbak Tia sudah pulang dari pasar dia yang akan nemenin  kamu ke pesantren."


"Baik umi, terima kasih banyak."


Saat keduanya akan beranjak, tiba-tiba ada orang yang mengucapkan salam, dari pintu luar, Umi Rika paham siapa yang datang.


"Assalamualaikum, umi Arga pulang." Teriak gus Arga yang baru saja pulang dari kuliahnya, sambil dia masuk menemui uminya, gus Arga langsung mencium pundak tangan umi Rika dan bermanja disana. Arga tidak sadar kalau  ada Nadira disitu.


"Waalaikumsalam Mas, kamu ya kebiasaan gimana kuliahnya lancar Mas?"


"Alhamdulillah umi, Oh iya mas kita ada tamu." Ucap umi Rika.


"Siapa tamunya umi?"  tanya Arga penasaran.


"Itu." Umi Rika menunjuk kearah Nadira yang duduk berhadapan dengan umi Rika.


"Astagfirullah." Ucap gus Arga reflek saat dia mengikuti arah jari telunjuk uminya.


"Kenapa santriwati gak pake hijab umi?, kok umi gak marahin?" oceh gus Arga saat dia melihat penampilan Nadira tanpa hijab.


"Sudah Mas nanti aja umi ceritain. Sekarang kamu ambilkan hijab umi di kamar buat Nadira sana abis itu kita makan."

__ADS_1


"Iya umi." Jawab gus Arga malas. Tapi dia tetap melaksanakan perintah uminya.


Gus Arga berlalu meninggalkan umi Rika dan Nadira. Gadia itu semakin merasa tidak enak pada umi Rika sudah merepotkan beliau.


__ADS_2