USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Ustadz Kembar


__ADS_3

"Mbak Gina."


Kedua santri itu tidak percaya jika yang pingsan Gina. Keduanya mematung di tempat tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata apapun. Sedangkan santri yang diperintahkan oleh mbak Lilis tadi segera menuju rumah abi Misbah dengan langkah yang terburu-buru.


"Assalamualaikum, Ning."


"Waalaikumsalam, Mbak."


"Kamu kenapa? kok kayak abis di kejar-kejar apa aja."


Kebetulan sekali saat santri tersebut datang Nadira sedang Asik menyiram tanaman Milik umi Rika.


"Anu, Ning."


"Anu apa mbak? ngomong yang jelas, coba tarik nafas pelan-pelan dulu abis itu keluarin biar enak dengernya."


Santri tersebut mengikuti instruksi yang diberikan Nadira padanya. Setelah merasa cukup reda satri tersebut menceritakan prihal Mbak Gina yang entah kenapa tiba-tiba pingsan begitu saja saat melangkah masuk kedalam kamarnya. Mendengar cerita dari santri tersebut Nadira langsung memberi tahu suami dan abinya juga umi Rika dengan raut cemas Nadira menyampaikan kabar tersebut.


"Kamu kenapa ndok?"


"Anu umi, Gina pingsan"


"Astagfirullah." Ketiganya kaget dengan kabar tersebut. Mereka segera menuju Uks milik pesantren.


**


"Mbak, ada apa ini?"


Sapa Dimas yang kebetulan berpapasan dengan para santri putri yang sedang sibuk membopong Gina.


"Itu kang, mbak Gina pingsan, kalau begitu saya permisi kang."


Tanpa menunggu Jawaban dari Dimas santri itu meninggalkan Dimas yang tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


"Pasti salah dengar Dim. tunggu jugaan kenapa lo mikirin dia sih." Dalam hati Dimas.


Sesampainya di klinik pesantren, Gina langsung ditangani oleh dokter penjaga klinik tersebut. Dengan telaten dan penuh kehati-hatian dia memeriksa keadaan Gina.


"Gimana keadaan Gina, mbak?"


Saat tiba di klinikx Nadira langsung bertanya kepada salah satu santri dengan kondisi Gina. Karena ada keluarga ndalem jadinya para santi pada bubar hanya tersisa mbak Lilis dengan satu temannya.


Ceklek!


Suara pintu terbuka dan disaat itu juga seorang dokter wanita menghampiri keluarga Abi Misbah.


"Dok gimana keadaan, Gina?"


Ning Nadira bertanya dengan wajah cemas sedangkan umi, Abi dan gus Arka menenangkan  Nadira agar tidak terlalu stres.


"Dia tidak papa ning, hanya saja perlu istirahat yang cukup dan juga dia banyak pikiran yang membuatnya sedikit terganggu. Yang saya lihat sepertinya mbak Gina tidak tidur beberapa malam ini." Jelas dokter tersebut panjang lebar.


***

__ADS_1


Kini gus Arga dan Ning Aqila sudah berada di kediaman kyai Mansur. Mereka berdua langsung beristirahat karena perjalanan yang mereka tempuh lumayan sedikit jauh. Juga mau menghampiri baby Anisa. Dia sedang terlelap tidur pulas. Ning Aqila tidak mau mengganggu tidur baby Nisa yang begitu pulas.


"Mas, capek ya sini aku pijitin." Tawar ning Aqila.


Keduanya tidak tidur melainkan hanya istirahat di kamar milik Ning Aqila. Karena mereka sudah tertidur di pesawat tadi. Itu saja sudah membuat keduanya beristirahat cukup namun Umi Nita menyuruh keduanya agar beristirahat dulu dikamar.


Bukannya menjawab pertanyaaan Aqila gus Arga malah menarik ning Aqila agar duduk dipangkuannya. Saat Ning Aqila sudah duduk kedua paha gus Arga. Gus Arga mendekati tubuhnya di tembok sambil memijat kepala sekaligus pundak ning Aqila dengan lembut.


"Mas, kok Aku yang dipijat sih. kanx aku yang nawarin mas buat dipijet."


"Set, diem aja sayang." Ucapnya sambil dia meletakkan jarinya di kedua sisi bibir milik ning Aqila.


Sebenarnya ning Aqila sudah malu setengah mati dengan posisi begitu tapi untungnya gus Arga tidak bisa melihat mukanya yang sudah memerah karena malu.


"Mas, udah ya Qila udah enakan kok sekarang gantian mas yang Qila pijetin."


Saat ning Aqila ingin turun dari pangkuan Gus Arga. Gus Arga malah memeluknya dengan sangat erat seakan tidak memperbolehkan ning Aqila beranjak dari pangkuannya.


"Mau kemana, sayang?"


"Kan, Qila mu mijeti mas juga." Cicitnya


"Udah gak Usah gini aja, ok!"


Ning Aqila hanya mengangguk pasrah. Toh dia juga nyaman banget duduk dipangkuan suaminya. saat keadaan hening tiba-tiba ning Aqila teringat sesuatu.


"Mas, boleh gak aku tanya sesuatu?"


Ning Aqila mengumpulkan seribu keberanian untuk bertanya prihal hal ini. Sebenarnya dia tidak mau bertanya akan tetapi hal ini selalu membuatnya risih dan tidak nyaman.


"Hemm."


"Bener emang dulu mas suka sama mbak Dina, ya?" ucapnya pelan.


Sedangkan gus Arga sedikit tidak percaya dengan  pertanyaan yang ning Aqila tanyakan. Tapi setelahnya dia tertawa geli.


"Mas, kok ketawa bukanya jawab?"


"Abisnya kamu gemesin sih."


"Iss, mas jawab dulu."


"Iya." Jawab gus Arga sengaja tidak meneruskan kata-katanya.


"Tu, kan, iya terus kenapa mas malah nikahnya sama Qila buka mbak Dina aja."


"Hey jangan marah dulu, Mas memang dulu menyukai mbak Dina tapi percaya kalau dulu mas hanya mengaguminya tidak lebih. Kamu percaya kan sama suami, kamu?"


Ning Aqila tidak menjawab ucapan gus Arga. Merasa Aqila kurang puas dengan jawabannya dia kembali melanjutkan ucapannya tadi yang tidak direspon istrinya.


"Percaya mas hanya mencintai kamu seluruhnya. Juga mas gak pernah ngerasain cinta sedalam ini sama seseorang kecuali kamu, sayang."


Tapi Ning Aqila masih tidak merespon apa yang Gus Arga  katakan. Merasa diabaikan gus Arga menggigit pundak istrinya dengan pelan dan lembut.

__ADS_1


"Mas."


"Abisnya dari tadi diem aja marah ya?"


Ning Aqila hanya menggelengkan kepalanya. Karena merasa gemas dengan istrinya gus Arga merubah posisi tubuh istrinya yang berada di pangkuannya itu menjadi berbalik menghadap dirinya.


"Cup."


Satu kecupan lembut mendarat di bibir ning Aqila. Merasakan ada sesuatu yang menempel di bibirnya dia hanya menunduk malu.


"Udah jangan marah lagi ya." Bujuk Gus Arga


"Qila, gak marah kok."


"Terus kenapa dari tadi ditanya diem aja?"


"Qila juga gak tau males aja gitu."


"Gak boleh kayak gitu lagi ya."


"Siapa, pak suami."


Keduanya terus bercerita sampai larut. Mereka bercerita tanpa ada yang bosan berbicara atau mendengarkan sesekali keduanya tertawa bersama. Saat sedang Asik ngobrol ponsel milik ning Aqila berbunyi.


"Siapa?"


"Nadira, Mas."


"Ya udah angkat siapa tau penting."


"Assalamualaikum, Ning." Sapa Nadira dari seberang sana.


"Waalaikumsalam, Nad kenapa?"


"Cuman mau tanya apa sebelum Ning ke Malang Gina ada cerita-cerita gitu sama ning. Biasanya Kan dia kalau ada masalah selalu cerita ke aku atau gak sama ning. Tapi sekarang dia gak cerita apa-apa sama aku."


"Gak tu Nad, memangnya ada apa?"


"Gitu ya. Gina sakti ning Kata dokter dia udah berapa hari gak tidur sama pikirannya sedikit  stres katanya gitu, Ning." Jelas Nadira.


"Ya Allah, kok bisa gitu sih. Ya udah titip salam buat Gina ya Nad, maaf gak bisa nemenin."


"Iya ning, gak papa."


Tak berapa lama sambungannya pun terputus.


"Kenapa, dek?"


"Gina sakit, Mas."


"Ya Allah, sakit apa emang, dek?"


"Kecapean katanya sih, Mas."

__ADS_1


Ning Aqila menjawab dengan lesu. Karena dia juga dekat dengan Gina bahkan sudah menganggap Gina seperti adiknya sendiri


"Udah ya jangan dipikirin kita doain aja biar cepet sembuhnya." Hibur gus Arga. Pada istrinya yang saat ini tengah mengkhawatirkan Gina.


__ADS_2