USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Menyiapkan konsep pernikahan


__ADS_3

Sedangkan di kota Malang gus Arga masih sibuk dengan pekerjaanya mencari konsep untuk dua pasang pengantin sekaligus tidak begitu mudah. Apa lagi ini kali pertamanya untuk gus Arga mendapatkan job dua pasang mempelai dalam satu acara.


Untung saja sekarang kuliahnya hanya tinggal menyusun skripsi. skripsi gus Arga juga hamapir selesai. Jadi dia tidak harus izin tidak masuk. Apa lagi tempatnya yang membutuhkan tenagannya sekarang di Malang. bayangkan saja jika dia masih masuk kuliah harus bolak balik dari malang ke Bandung setiap hari apa tidak gempor....


"Gus Arga disuruh sarapan dulu sama Abah."


Ujar ning Aqila pada gus Arga yang sedang sibuk.


Karena gus Arga pagi-pagi sekali sudah mulai bekerja untuk menyesuaikan konsep yang pas pada tema yang dia sudah ada.


Walaupun rasanya sakit untuk menyiapkan konsep-konsep ini. karena ada orang yang iya cintai dalam diam akan bersanding dengan lelaki lain. Tapi gus Arga tidak mau egois dia juga mau pernikahan mbaknya meriah. Walaupun Mbak Tia bukan Mbak kandung kedua ustadz kembar itu. Tapi Mbak Tia sudah seperti sosok kakak perempuan untuk keduanya. Sejak umur 8 tahun keduanya sudah hidup bersama Mbak Tia, bahkan jika keduanya bertengkar Mbak Tia lah yang akan menengahi masalah mereka.


"Iya ning sebentar lagi saya selesai, ning Aqila duluan saja menuju ruang makan." jawab gus Arga, karena Aqila masih bediri disebelahnya dengan jarak yang tidak terlalu dekat.

__ADS_1


"Baik Gus segera menyusul karena semuanya sudah menunggu." ucap ning Aqila lagi sambil berlalu masuk.


Setelah tiga menit kepergian ning Aqila, gus Arga menyusul ning Aqila untuk menuju ke ruang makan disana sudah berkumpul semua keluarga kiayi Mamsur dan Mbak Tia termasuk ning Dina.


Setelah Arga datang kini semuanya mulai menyantap makanan yang ada didepan mereka. Gus Arga tidak sadar jika dia duduk berhadapan dengan Dina sedangkan disamping ning Dina, ning Aqila.


"Gibran akan datang tepat di hari H atau sebelum hari H?" tanya kiayi Mansur pada Gina.


"Tepat saat hari H Abah. Katanya dia tidak enak jika harus menginap disini." Tutur Dina yang duduk didepan Arga.


"Gus." Ucap umi Nita


"Iya umi." Jawab gus Arga.

__ADS_1


"Gus Ini, gus Muhammad Arga Anggara apa Muhammad Arka Anggara?" tanya Umi Nita pada Arga, karena umi Nita belum paham dengan keduanya.


"Saya Arga umi buka Arka." Jawabnya sopan.


"Owalah Arga yang pernah kesini satu tahun lalau ya? Yang waktu itu Dina masih tinggal disini belum tinggal diasrama pesantren tempatnya kuliah?" tanya umi Nita sambil mengingat satu tahun lalu abi Misbah dan gus Arga berkunjung.


"Iya umi." Jawab gus Arga singkat, karena dia tidak tauu harus menangapi apa atas pertanyaan umi Nita.


"Terus kalau yang dateng kesini 2 bulan lalu itu namanya Arka?" tanya umi Nita lagi.


"Iya Umi." Jawab Arga lagi dengan sopan.


"Sebenarnya 2 bulan lalu saya yang harusnya memenuhi undangan tapi saya tidak bisa karena urusan mendesak umi. Jadi digantikan dengan adik saya Arka." Jelas gus Arga kemudia umi Nita hanya mengangguk paham.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan gus Arga kembali menyelesaikan pekerjaanya dibantu oleh gus Dika. Sedangkan Gibran calon suami Dina biasanya akan datang untuk membantu keduanya. Karena sudah 2 hari ini Gibran datang walaupun siang. Gus Arga hanya mempunyai waktu dua hari lagi untuk mempersiapkan semuanya dengan matang. Karena dia ingin mendapatkan hasil yang memuaskan untuk acara mbaknya, teman dan orang yang dicintai dalam diam Agar mereka tidak kecewa dengan hasilnya jadi dia berkerja dengan exstra.


Setiap orang yang mencintai seseorang tidak harus memiliki bukan. Asal orang yang kita cintai bahagia pasti kita ikut bahagia jika disandarkan dengan keiklasan. Maka seharusnya kita juga ikut bahagia.


__ADS_2