USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Ustadz Kembar


__ADS_3

Akhirnya hari yang dinanti-nantikan tiba sudah. Hari ini gus Arga akan mengucapkan ijab qobulnya untuk ning Aqila.


Saat ini ning Aqila sedang berada didalam kamar miliknya. Untuk dirias. Dibantu oleh Ning Dina dan Mbak Tia. Karena memang ning Aqila tidak mau dirias oleh perias. Dia hanya mau diras biasa saja maka dari itu dia tidak menggunakan jasa perias. Biasanya walaupun pengantinnya meminta dirias biasa saja pasti akan sedikit dilebih-lebihkan. Maka dari itu membuat ning Aqila jadi malas menggunakan jasa perias lebih baik dia merias dirinya sendiri.


"Selesai" ucap ning Dina dan Mbak Tia kompak


Ning Dina dan mbak Tia sangat puas dengan hasil karya mereka sendiri saat melihat wajah ning Aqila yang begitu cantik walaupun dengan make up tipis.


"Kamu cantik banget dek" ning Dina memuji adiknya itu Sambil menatap ning Aqila dari cermin.


"Iya bener ning Aqila cantik banget. Padahal riasnya cuman sederhana loh" Mbak Tia juga ikut gembira dengan hasilnya.


"Makasih mbak Dina sama mbak Tia. Ini juga akan hasil kalian berdua coba aja kalau gak ada kalian pasti gak akan sebagus ini hasilnya" ucapanya dia juga tidak menyangka jika kedua mbaknya bisa merisa dengan sangat rapi.


"Ya sudah kita dengerin gus Arga bentar lagi mau ngucapin ijab qobul buat kamu ya dek" ucap ning Dina dengan semangat yang menggebu dia sudah tidak sabar melihat adiknya bersanding dengan laki-laki pilihan adiknya sendiri.


.


.


.


Saat ini gus Arga sendiri sedang melawan rasa gugupnya. Ternyata tidak bisa gus Arga pungkiri padahal hanya akan mengucapkan ijab qobul rasanya seperti akan melakukan lomba panjat tebing sedunia. Pantas saja waktu gus Arka dulu akan mengucapkan ijab kabul gugup sekali. Dan sekarang gus Arga yang merasakannya sendiri seperti apa gugupnya.

__ADS_1


Kalau saja disamping gus Arga saat ini ada gus Arka pasti dia akan diledek sama saudara kembarnya itu sampai entah kapan selesainya.


"Gus Arga apa kamu siap?" kyai Mansur melemparkan pertanyaan kepada gus Arga yang sebentar lagi akan menjadi menantunya itu.


"Insya Allah Yai"


Kyai Mansur sendiri yang akan menikahkan putri bungsunya dan gus Arga.


"Gak usah gugup lek rileks"


Bisik abi misbah pada gus Arga. Disamping gus Arga juga sudah ada umi Rika juga umi Nita disana. Mereka tidak menjemput mempelai wanitanya. Karena sudah diambil alih oleh ning Dina dan Mbak Tia.


"Baik kalau begitu kita mulai, Silakan jabat tangan saya gus."


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Muhammad Arga Anggara dengan putri saya Aqila Anastasya dengan mas kawin satu rumah, 50 gm emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Aqila Natasya binti Mansur dengan maskawin tersebut tunai"


Hanya dengan satu kali tarikan nafas gus Arga bisa mengucapkan kalimat sakral itu dengan sangat lancar. Kini dia sudah sah menjadi suami ning Aqila.


"Bagaimana para saksi"


"Sah"

__ADS_1


"Sah"


Setelah para saksi mengucapkan Sah diikuti oleh semua orang yang berada disana yang  menyaksikan ijab qabul tersebut.


.


.


Sedangkan dikamar ning Aqila mereka tidak mendengar jika gus Arga sudah selesai mengucapkan ijab qobul. Karena ulah Mila yang tiba-tiba datang dan membuat keributan. yang tadinya ning Aqila ingin fokus pada ucapan ayahnya dengan gus Arga saat-saat ijab qobul. Malah terganggu oleh kedatangan Mila yang membuat mereka berempat di dalam sana menjadi heboh sendiri.


"Kok gak denger gus Arga ngucapin ijab sih" Mila bingung sendiri padahal itu gara-gara dirinya maka mereka semua tidak bisa mendengar suara gus Arga ketika mengucapkan ijab barusan.


"Kamu sih Mil ribut aja dateng-dateng, kayaknya gus Arga udah selesai ngucapin ijabnya deh" Ning Dina bersuara.


"Iya maaf mbak" sok memelas agar tidak menjadi semprotan kedua mbaknya, karena Mbak Tia tidak terlalu dekat dengan Mila hanya sekedar tahu saja.


"Udah ayok kebawah keburu gus Arga nunggu" ajak mbak Tia.


Mereka berempat pun berjalan ke ruang ijab. Mbak Tia dan ning Dina berada disamping kiri kanan ning Aqila sedangkan Mila berada di belakang ketiganya.


Gus Arga yang melihat ning Aqila turun. melewati satu persatu tangga bersama ning Dina dan mbak Tia, Tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya. Dia sangat bahagia apalagi ketika ning Aqila sudah berjalan mendekat ke arahnya.


Sedangkan gus Arka dan Nadira juga pak Jaya dan istrinya yang berada di Bandung menonton lewat laptop yang berhubungan langsung dengan laptop milik gus Dika di Malang. bahkan para santri Darussalam ikut menyaksikan acara tersebut walaupun hanya lewat laptop. Tidak membuat kebahagiaan mereka luntur malah semakin bersemangat

__ADS_1


__ADS_2