
Satu hari setelah acara pernikahan ning Aqila dan gus Arga, Kini semua santri pesantren al-hidayah sedang bergotong royong untuk membersihkan peralatan yang dipakai saat acara kemarin. Mereka semua bergotong royong dengan bahu membahu tanpa ada yang leha-leha.
Semua santri Al-hidayah sudah terdisiplin dalam segalahan. Dalam kegiatan ini gus Arga dan ning Aqila juga turut membantu.
Santri wati memasak dan santri putra membersihkan semua area asrama. Mereka bekerja sama dengan sangat kompak.
Mila dan yang lain sedang mengambil sayuran di kebun yang mereka tanam sediri. Mereka di pesantren bukan hanya belajar ilmu agama saja, Tapi juga belajar berkebun dan banyak lainnya.
"Tari awas ada ulat!."
"Mana uluet."
Tari sudah merinding sendiri mendengar kata ulat. Dia berlari sampai jatuh. Tari salah satu santriwati Al-hidayah yang memang takut dengan ulat. Dan dia juga sering dikerjai oleh Mila.
Sedangkan Mila yang mengerjai tari sudah tertawa terbahak-bahak sampai dia sakit perut, Santi yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Mila. Sebenarnya Mila tidak jahil, tapi itu semua ajaran dari abangnya Tohir.
Padahal dia dan kakaknya Tohir, sering sekali ditegur oleh ning Aqila tapi tetap saja begitu, bahkan mereka berdua juga sudah sering dihukum, Seakan-akan mereka berdua kebal oleh semuanya.
Karena mendengar ribut-ribut gus Arga menghampiri para santri yang sedang memetik tanaman di kebun.
"Ada apa ini ribut-ribut!" Tegas gus Arga.
"Itu gus Mila ngerjain Tari lagi." ucap salah satu santri yang lumayan sudah senior.
Para santri memang memanggil gus Arga dan gus Arka jika bermain ke Malang, mereka memanggil keduanya dengan sebutan Gus. Karena setiap gus Arka dan gus Arga kesana mereka bukan hanya bertamu tapi juga, menjadi ustadz untuk tenaga pengajar.
"Mila!"
"Iya gus kenapa?"
Mila malah bertanya dengan gus Arga santai seakan dia tidak melakukan kesalahan apapun barusan.
"Mila kenapa kamu ketawa sampai seperti itu?, kamu tau kan kalau suara wanita itu aurat, apalagi disana banyak sekali santri putra yang sedang bergotong royong. kamu ketawanya sampai kayak gitu lagi."
Jelas gus Arga, Dia tidak marah hanya mengingatkan bahwa disana banyak santri putra, gus Arga sambil menunjukan arah santri putra yang sedang bergotong royong.
"Kamu taukan hadist yang melarang tertawa berlebihan?"
"Iya gus"
"Coba saya mau denger haditsnya."
Gus Arga sedang mengetes Mila seberapa pengetahuannya. Padahal gus Arga sudah tau bahwa Mila memang salah satu santri yang pintar dan hafalannya kuat.
Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian banyak tertawa karena banyak tertawa akan mematikan hati” (HR At-Tirmidzi). ...
Tertawa yang tidak terkendali bisa berdampak buruk bagi diri dan orang lain. Orang-orang yang sering tertawa berlebih-lebihan dan terbahak-bahak, Akan menerima dampak; hati akan sulit mengingat Allah.
Ja'far bin Auf dari Mas'ud dari Auf bin Abdullah mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW biasanya tidak tertawa melainkan senyum simpul dan tidak menoleh kecuali dengan wajahnya. Hadits ini menunjukkan bahwa senyum itu sunnah dan tertawa terbahak-bahak itu makruh.
dan masih banyak lagi hadist-hadist lainnya.
"bagus itu kamu tau kenapa masih dilakukan?, apalagi dalam penjelasannya ada kata 'akan sulit mengingat allah.' kamu mau kayak gitu."
"Afwan gus" Mila hanya menjawab afwan karena dia tau memang dia salah.
"Jangan diulangi lagi inget!"
" Iya gus."
Setelah itu semuanya kembali pada pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Mila masih tetap mengerjai Tari. Akan tetapi dia tidak tertawa seperti tadi lagi.
"Pasti Si Mila begitu gara-gara kamu kan Hir, dulu si Mila kagak senakal itu dah" tuduh salah satu santri putra sahabat Tohir.
"Tau aja kamu"
Nyengir kuda sambil terus mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai.
__ADS_1
Ruang keluarga milik kyai Mansur sedang berkumpul semua orang rumah kecuali gus Arga. karena dia masih gotong royong dengan para santri.
"Jadi begini Yai saya dan istri saya akan kembali ke Bandung besok. Biar Arga dan ning Aqila nanti nyusul, Karena saya kasihan dengan Arka yang mengurus semua di pesantren apa lagi sekarang istrinya sedang hamil." Abi Misbah membuka pembicaraan.
Kyai Mansur paham betul apa yang dirasakan oleh abi Misbah karena dia juga sering merasakan hal tersebut.
"Iya abi saya juga tidak papa, Tapi apa boleh Tia lahiran disini?"
Kyai mansur meminta izin pada Abi misbah. karena usai kandungan mbak tia sudah memasuki 5 bulan tidak mungkin dia dalam keadaan hamil besar bolak-balik Bandung Malang.
"Saya gimana baiknya aja yai dan semua."
Ning Dina dan suaminya sudah pulang terlebih dahulu mereka tidak menginap, Karena keluarga Gibran juga ada acara nikahan.
"Bagaimana Mbak Tia?"
Kali ini umi Nita meminta persetujuan dari mbak Tia.
"Kalau begitu lahirannya disini aja mbak Tia, Kan nanti kalau mau ke bandung bisa kapan-kapan aja."
Umi Rika angkat bicara. Setelah obrolan tersebut mereka larut dalam obrolan ringan, sampai jam makan siang tiba.
"Ndok sana aja suamimu makan sama-sama sudah waktunya makan siang ini."
"Iya Umi"
Ning Aqila berdiri dari kursinya untuk mengajak makan siang. Gus Arga yang sedang bergotong royong dengan para santri.
"Sekalian aja Tohir sama Mila juga" Kiyai Mansur menambahi.
"Iya abah"
__ADS_1
Ninga Aqila sudah berjalan keluar jadi dia menjawab sedikit keras.
.
.
"Mah udah biar Dira aja yang beresin" Sedari tadi mama Lina sibuk membereskan semua ruangan yang ada dirumah gus Arka dan Nadira.
Padahal sebelumnya mama Lina belum pernah melakukan hal tersebut. Tapi kali ini demi anak dan cucunya dia rela melakukan apa saja. Bahkan bersih-bersih rumah yang belum pernah iya lakukan selama hidup. Karena mama Lina terlahir sudah menjadi orang kaya. Segala sesuatunya pembantu yang mengerjakan.
Sedangkan putrinya Nadira pernah belajar mandiri karena kabur waktu itu, Ternyata bermanfaat juga.
"Udah gak papa kok mama bisa sayang, Kamu duduk aja ya" Nadira hanya pasrah.
Sedangkan pak Jaya sudah mulai aktif ke kantornya kembali setelah. 1 Minggu tidak berangkat kerja. Boss mah bebas ya bisa kerja gak kerja seenaknya.
"Assalamualaikum"
Gus Arga yang baru saja pulang mengajar menghampiri istrinya. Dan mama mertuanya.
"Waalaikumsalam hubab."
"Hubab pasti capek banget ya tadi abi pulang dari rumah sakit langsung ngisi ngaji" Nadira sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Gak papa kok udah biasa" Tersenyum kearah Nadira.
"Papa belum pulang Ma?"
"Belum Ar" Masih fokus bersih-bersih.
"Oh iya ma, Sayang besok Abi sama Umi udah pulang tapi mas Arga sama ning Aqila nyusul."
"Berarti sebentar lagi ada acara resepsi donk" mama Lina berbinar senang. Karena dia bisa merasakan acara pernikahan selain putrinya. mama Lina juga sudah menganggap Ning Aqila seperti putrinya sendiri.
__ADS_1
"Iya Ma" Jawab gus Arka dan ning Aqila kompak. Mereka Bertiga tertawa bersama.