
Kini ning Aqila sudah duduk bersebelahan dengan gus Arga. setelah berjalan beberapa langkah dari kamarnya menuju tempat ijab. Dia duduk disebelah laki-laki yang telah Sah menjadi suaminya beberapa menit barusan dia sendiri tidak menyangka jika sudah menjadi seorang istri.
"Nak silahkan salim dengan suami mu. Mulai sekarang kalian berdua sudah sah menjadi pasangan halal" Kyai Mansur memberi arahan kepada putri bungsunya. Agar bersalaman dengan suaminya.
Ning Aqila menyalami tangan gus Arga. Akan tetapi sepertinya Ning Aqila masih ragu. Karena ini pertama kalinya dia bersentuhan tangan dengan laki-laki lain. Dia biasanya hanya bersentuhan tangan langsung dengan abahnya dan gus Dika. Kakak laki-laki ning Aqila. atau pada Tohir yang merupakan sepupu dekatnya itu tapi dia sudah menganggap Tohir dan adiknya seperti adik kandungnya sendiri.
"Gak papa ndok gus Arga sudah jadi suami kamu. Jadi jangan ragu ya, Ayok salim" ucap umi Rika meyakinkan ning Aqila yang sekarang sudah menjadi menantunya itu.
Karena sedari tadi umi Rika melihat ning Aqila masih terlihat sangat ragu akhirnya umi Rika yang menuntun ning Aqila agar bersalaman dengan gus Arga.
Kemudian setelah ning Aqila mencium punggung tangan gus Arga. Gus Arga mencium kening ning Aqila cukup lama dan mencium ubun-ubun ning Aqila yang masih tertutup hijab. Gus Arga juga membacakan doa di sana.
"Alhamdulillah"
Mereka semua yang hadir turut bahagia. Karena akhirnya ning Aqila dan gus Arga bisa menyesuaikan satu sama lain. Sedari tadi mereka yang ada disitu ingin sekali menarik tangan ning Aqila karena tidak kunjung menyalami punggung tangan suaminya. Mereka semua gemas sendiri. Begitu juga gus Arka dan yang lainnya. Mereka masih menyaksikan acara pernikahan gua Arga lewat laptop hingga sekarang.
Sekarang kedua mempelai memakaikan cincin pada pasangan mereka masing-masing.
__ADS_1
.
.
Acara ijab kabul sudah selesai. Sekarang kedua mempelai menyambut tamu yang sudah berdatangan. Gus Arga dan ning Aqila juga sudah sungkem dengan kedua orang tua mereka masing-masing.
"Maaf telat tadi dijalan sedikit ada kendala"
Seorang laki-laki paruh baya menghampiri Kyai Mansur juga abi Misbah yang sedang berbincang-bincang. Keduanya menoleh ke sumber suara.
Ucap kyai mansur senang sedangkan Abi Misbah sedang mengingat-ingat siapa orang yang ada di depannya ini karena dia seperti mengenali orang tersebut.
"Ahh Misbah apa kabar?, Lama kita tidak bertemu" Sapa Pak Wira. Pada abi Misbah dia masih sangat paham dengan jelas wajah sahabatnya yang satu ini apa lagi sebelumnya telah bertemu dengan putra abi Misbah yang saat ini sedang menjadi mempelai pria.
"Ya Allah ini benar kamu Wir?" Abi Misbah tak menyangka akan bertemu teman lama.
"Rupanya kamu belum berubah ternyata. Masih sama seperti dulu."
__ADS_1
mereka bertiga berbincang-bincang, Melepas rindu pada teman lama. Yang sangat dekat dengan mereka dan sangat mereka rindukan. Sepertinya ketiganya sangat akrab bisa dilihat dari cara mereka melepas rindu satu sama lain.
"Iya kamu bisa ketemu sama Wira dimana?" Pertanyaan itu abi Misbah lontarakan untuk Kyai Mansur.
Kyai Mansur menceritakan semuanya dari pertama kali dia bisa berjumpa dengan Wira dan Wira bisa sampai ke pesantrennya.
Abi Misbah yang mendengar cerita dari Kiyai Mansur sedikit kagat. Karena dia tidak tahu perihal kecelakaan yang menimpa gus Arga. Tapi tidak bisa di pungkiri karena kejadian tersebut mereka bisa bertemu kembali. Mungkin jika hal tersebut tidak terjadi pada gus Arga mereka tidak bisa bertemu lagi. Semuanya sudah ada yang mengatur suatu jalan hidup orang masing-masing.
"Kalau begitu saya menemui kedua mempelai dulu" Pamit pak Wira pada keduanya. Pak Wira berjalan kearah gus Arga dan ning Aqila yang sedang sibuk disapa oleh para tamu undangan. Pak Wira bisa melihat raut wajah bahagia dari kedua pasangan pengantin itu yang tengah menyambut tamu mereka, pak Wira menyungingkan senyum ketika bisa kembali bertemu dengan gus Arga.
"Akhirnya berhasil juga ya" ucap pak Wira saat sudah berada didekat ning Aqila dan gus Arga. sesampainya di pelaminan pak Wira menyapa keduanya mempelai tersebut.
"Pak Wira datang juga. Terima Kasih pak sudah jauh-jauh mau datang kesini" Keduanya berpelukan seperti layaknya seorang bapak dan anak.
"Sama-sama, saya seharusnya yang berterimakasih, dan Aqila selamat untuk kalian berdua. bahagia selalu"
Setelah mengucapkan hal tersebut pak Wira berlalu pergi meninggalkan kedua pasangan halal itu. Karena masih banyak tamu yang mengantri di belakang. Dia tidak mau menghambat mereka semua.
__ADS_1