USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Ustadz Kembar


__ADS_3

Setelah kesembuhan Gina, Dimas tidak membuang-buang waktunya lagi. Apa pun jawaban yang iya dapat dari Gina maupun keluarga Gina akan iya terima. Tapi harapan besarnya ya dia diterima di rumah Gina.


Sedangkan Gina sudah seminggu ini di rumahnya belum kembali ke pesantren. Sebulan lalu yang dia pingsan, karena tidak tidur selama beberapa hari ternyata ayahnya jatuh sakit dan ibunya memaksa Gina untuk segera menikah. Akan tetapi Gina belum bisa memenuhi keinginan ibunya, karena memang dia tidak punya pasangan. Juga, kan, dia perempuan. Waktu itu ketika dia sudah berjanji dengan ning Nadira untuk bercerita entah mengapa dirinya merasa lemas dan Akhirnya jatuh sakit.


"Bapak makan dulu ya, biar Gina suapin."


Gina sangat menyayangi kedua orang tuanya. Dia akan melakukan apa saja untuk mereka. Bahkan Gina pernah disuruh ibunya untuk keluar dari pesantren Darussalam akan tetapi bapaknya tidak mengizinkan.


"Assalamualaikum."


Tok...


Tok...


Suara seorang dari pintu luar berucap salam sambil mengetuk pintu.


"Bapak, Gina kelaur dulu ya, liat siapa tamunya."


"Iya, Gin."


Gina menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang. Saat pertama kali iya membuka pintu  disana sudah ada Dimas yang menunjukan senyum manisnya. Dan dia datang dengan seorang perempuan paruh baya juga laki-laki paruh baya. Kira-kira umur mereka sama dengan umur kedua orang tua Gina.


"Waalaikumsalam Kang, Bapak, Ibu."


Gina tidak tau siapa kedua orang yang bersama Dimas itu. Tapi keduanya senyum manis dengan Gina. Keluarga Gina tidak hidup mewah Akan tetapi Alhamdulillah mereka selalu berkecukupan.


"Silahkan masuk Bapak, Ibu, Kang."


Setelah mempersilahkan tamunya masuk Gina segera membuatkan minuman untuk mereka.


"Siapa tamunya, Ndok?"


Ibu Gina yang baru pulang dari warung tapi lewat pintu belakang segera menghampiri tamu mereka. Ibu Gina dan keluarga Dimas berbicara ringan. Setelah itu Gina masuk ke ruang tamu membawa minum dan beberapa cemilan untuk mereka. Sambil mengobrol.


"Bapaknya, mana Bu?" ibu Dimas bertanya dengan heran karena bapak Gina tidak menemui mereka.


"Bapaknya, Gina lagi sakit, Bu."

__ADS_1


Saat sedang Asik ngobrol Akhirnya masuk pada tujuan utama keluarga Dimas datang ke rumah Gina. Bapak Gina juga ikut bergabung karena mendengar suara berisik. Walaupun lemas dia tetapi menemui tamunya.


"Jadi kedatangan kami disini untuk melamar anak Ibu, Gina." Diamas berbicara dengan sangat jelas.


"Saya terserah anaknya aja, Nak Dimas."


"Gimana nak Gina Mau?"


Sedangkan Gina hanya mengangguk toh dia juga yakin kang Diams orang baik. Walaupun sekarang dia belum mencintai Dimas tapi pasti rasa itu akan tumbuh saat mereka hidup bersama nanti. Gina yakin dengan itu.


Dimas yang lamaranya diterima Gina dan keluarganya sangat bahagia. Bahkan dia tidak menyangka jika Gina akan menerimanya. Tapi jangan salah jika niat kita baik pasti kebaikan tersebut akan kembali pada kita juga.


Karena tidak mau menunda lagi Dimas saat itu juga memutuskan untuk menentukan Kapan pelaksanaan Akadnya dan Gina Kedua orang tua Gina dan Dimas sangat antusias dengan usulan Dimas sedangkan Gina hanya bisa mengikutinya saja.


***


"Umi, emang Dimas jadi ke rumah Gina?"


"Iya Ar."


"Asik nih, Ada yang mau lepas lajangm"


"Iya lah Ga.."


"Tau Mas, memangnya Mas mau Dimas jomblo seumur hidup." Ketus ning Aqila pada gus Arga.


"Dek, kamu ya."


"Abisnya Mas dari tadi nanya terus sih berisik tau."


"Lah kok Mas aja yang disalahin, tadi aja Arka nanya terus kamu gak protes loh dek."


"Iya itu namanya Kakak sayang adik, Mas." Celetuk gus Arka begitu saja.


Umi Rika, abi Misbah dan Nadira hanya bisa menahan senyumnya. Begitu juga dengan Gus Dika dan Mbak Tia yang kebetulan barus kembali berkeliling  mengajak baby Nisa mengenalkan dia pada para santri.


Memang sudah beberapa hari ini mbak Tia dan Gus Dika menginap di kediaman abi Misbah. Saat mereka ingin pergi ke Bandung Thohir ingin sekali ikut tapi dia harus menyelesaikan ujiannya dikelas dua belas. Karena dia Sebentar lagi akan melanjutkan pendidikannya.

__ADS_1


"Udah-Udah kasian Muka kedua ustadz kembar ini." Nadira menengahi mereka.


"Allahu Akbar, Allahu Akbar"


Suara adzan berkumandang dengan merdu memenuhi area pesantren.


"Udah adzan tu yuk siap-siap ke Masjid." Ajak umi Rika.


Mereka semua segera bergegas untuk bersiap-siap berangkat ke masjid untuk melakukan sholat jamaah bersama. Sedangkan Nadira dan Aqila kebetulan sekali sedang berhalangan untuk sholat jadi mbak Tia menitipkan Baby Annisa kepada keduanya.


"Titip ya ning."


"Ya, Mbak kita sengen malah bisa main sama baby Anisa."


Yang lain pergi sholat berjamaah ke masjid sedangkan Nadira dan ning Aqila bermain dengan Anisa. Tampaknya Anisa menyukai keduanya sedari tadi dia selalu tertawa jika Nadira maupun Aqila sedang memainkannya. Tak terasa begitu lama mereka bermain dengan Baby Anisa sampai Mereka bertiga tidur bersama di kamar Baby Anisa. Yang memang sudah disiapkan oleh umi Rika di rumah itu.


Melihat Anisa yang begitu lincah Nadira berharap anaknya nanti lahir dengan sehat. Tinggal menunggu dua bulan lagi, Nadira akan melahirkan. Sedangkan Aqila berharap didalam perutnya sudah tumbuh malaikat kecil yang ia dan Gus Arga harapkan.


Saat pulang dari masjid gus Arga dan gus Arka melihat istri mereka sudah tertidur lelap bersama Anisa ditengah-tengah mereka berdua. Keduanya menggendong istri mereka masing-masing ke kamar milik gus Arka dan gus Arga yang memang bersebelahan.


"Masyaallah, liat bi anak kita romantis banget sih."


"Masyaallah iya, Mi."


Mbak Tia dan gus Dika hanya bisa tersenyum kecil melihat pemandangan yang begitu romantis di depan mata mereka.


"Yok ke kamar dek takut Nisa bangun." Ajak gus Dika.


Mbak tia dan gus Dika juga menuju kamar mereka juga.


***


Sebenarnya Nadira ingin sekali mengajak semua keluarga abi Misbah kerumahnya, tapi keadaan yang tidak memungkinkan. Dia juga sudah bertanya pada mama dan papanya saat dia dan gus Arka menginap di rumah milik papanya beberapa minggu yang lalu. Mama Lina begitu senang mendengar keinginan Nadira apa lagi Pak Jaya sangat setuju tapi bagaimana keadaan tidak mendukung.


Abi Misbah selalu berpesan pada pak Jaya, walaupun kita jarang berkumpul bersama tapi ingat jangan pernah memutuskan doa untuk saudara-saudara kita, apa lagi dengan orang tua dan anak sendiri. Karena doa merupakan salah satu jalan Agar kita tidak memutus silaturahmi kepada sanak saudara kita yang berada jauh. Mau itu sudah beda alam. beda negara beda kota atau pun beda desa. Tetaplah berdoa yang baik-baik untuk semuanya.


Dan jangan pernah lupa untuk selalu bersyukur. Karena jika kita bersyukur pasti kita akan menikmati hidup dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2