USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Ustadz Kembar


__ADS_3

"Akhirnya adik gue lu lamar juga kan, kagak nyangka gue" saat ini kedua orang itu tengah mengobrol bersama jarang sekali mereka bisa meluangkan waktu untuk hanya sekedar bercanda sambil ngopi karena keadaan yang memang tidak memungkinkan.


"Pasti lah, gue kagak rela kalau dia diambil orang" Jawab gus Arga percaya diri pada gus Dika.


"Set dah, belum jadi suami aja lu udah posesif aja apalagi udah jadi suami ngeri, Kok gue nyesel ya izinin ada gue sama lu" dia bicara sambil menampakan raut wajah yang dibuat semenyesal mungkin agar terkesan benar-benar menyesal padahal hanya aktingnya saja.


"Seet"


Belum selesai gus Dika berbicara ternyata gus Arga sudah memberikan satu tabokan keras pada lengan gus Dika.


"Wahh lu kurang aja sama calon kakak ipar ya" canda gus Dika, dia mengelus lengan kanannya yang menjadi sasaran empuk gus Arga.


"Mohon maaf gus Dika yang terhormat,  lu lupa kalau istri lu itu mbak Gue?" ucapnya sambil memicingkan sebelah mata  "Jadi gue bukan calon adik 'Ipar' tapi emang udah jadi adik ipar inget itu" ucap gus Arga lagi dengan banga.


"Tapi kan beda konsepnya"


Ditengah pembicaraan seru mereka seorang laki-laki yang seumuran dengan gus Dika menghampiri keduanya yang sedang bersantai.


"Assalamualaikum" sapa laki-laki yang baru saja datang pada kedua orang itu.


"Waalaikumsalam" jawab kedua nya


"Lo mas Gibran kapan sampai?"


Lelaki itu ternyata kakak ipar gus dika sumi dari ning Dina.

__ADS_1


"Sekitar 1 jam yang lalu" Jawabnya sopan sambil berjabat tangan pada gus Dika dan gus Arga.


"Lah kok gak tau maaf ya mas dari tadi asik ngobrol sih sampek belum masuk" Jelas gus Dika tidak enak pada kakak iparnya itu.


"Iya gak papa dik santai aja lah"


Ketiganya pun larut dalam obrolan masing-masing banyak sekali yang mereka ceritakan sampai pernikahan gus Arga dan kehamilan istri gus Arka juga.


"Ponakan gue udah berapa bulan diperut?" pertanyaan itu dilemparkan gus Arga untuk gus Dika.


"Sekitar tiga bulan"


Tapi ternyata percakapan mereka yang ringan itu mampu membuat wajah Gibran berubah drastis yang tadinya penuh semangat saat mendengar kata hamil wajah yang tadinya ceria tiba-tiba saja menjadi sangat lesu.


Pertanyaan gus Arga hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Gibran yang masih lesu itu. Berapa saat mereka semua terdiam karena larut dalam pikiran masing-masing, entah apa yang ada didalam pikiran mereka semua sehingga bisa terdiam satu sama lain.


"Mas" ucap gus Dika memecahkan keheningan tersebut yang dibuat oleh mereka bertiga sendiri.


"Iya"


"Mas kalau mau cerita, cerita aja siapa tau kita bisa ngasih saran buat mas" ucap gus Dika dia seperti mengerti dengan perubahan wajah kakak iparnya itu.


Gibran menarik napas dalam-dalam sebelum bercerita pada gus Arga dan gus Dika.


"Dina belum ngisi juga" ucap Gibran pada akhirnya dengan dengan sangat tidak bersemangat sama sekali.

__ADS_1


Padahal Gibran sudah lama sekali semenjak dia dan Dina menikah. mengharapkan anak, akan tetapi Allah mungkin belum memberi anugerah tersebut, untuk pasangan suami istri itu.


"Mas kalau boleh kasih saran, jangan putus asa bahkan ada yang sudah menikah sepuluh tahun belum juga dikaruniai seorang bayi. Jadi mas dan mbak Dina jangan putus asa terus berusaha dan terus berdoa" Nasehat gus Dika panjang lebar pada kakak iparnya agar tidak gampang menyerah begitu saja.


"Ia Dik terimakasih akhirnya bisa lega juga setelah bercerita seperti beban ini sedikit berkurang" setelah bercerita dengan gus Dika dan gus Arga, Gibran benar-benar merasakan sebuah kelegaan dalam dirinya apalagi mendengar nasihat dari gus Dika.


"Sama-sama mas. Yang penting dalam keadaan apapun kita jangan pernah berpaling pada sang maha pencipta dan maha segalanya. Karena dia lah yang tau takdir kita berikutnya."nasehat gus Dika lagi.


Sedangkan gus Arga hanya jadi pendengar setia. Karena dia bingung mau bicara apa toh juga ada gus Dika. Bukan tidak tau masalah rumah tanggan tapi ada yang lebih berpengalaman kenapa harus gus Arga.


Gus Arga barus belajar tentang rumah tangga sedangkan gus Dika sudah mempraktek kannya seperti apa berumah tangga itu.


"Mas Dika, Mas Gibran gus Arga  di suruh umi makan dulu" panggil seorang wanita pada ketiga laki-laki itu yang sedang duduk di halaman belakang


"Adek gue salam dulu napa ada calon suami nih" goda gus  Dika pada ning Aqila dan gus Arga mendengar penuturan gus Dika keduanya hanya bisa tertunduk malu.


"Nyusul pamit dulu" Ucap ning Aqila meninggalkan ketiganya.


"Cie, Ciee" goda gus Dika pada gus Arga saat adiknya sudah kemabil masuk kedalam


"Apa!?" gus Arga menjawab dengan suara menyelidik pada gus Dika.


"Buset dah belum jadi adik ipar gue udah kayak gini nggak  jadi ini mah" Jawab gus Dika


Sedangkan Gibran hanya bisa tertawa melihat tingkah kedua orang yang berada didekatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2