
Sekarang keadaan pesantren Darussalam begitu ramai. Banyak sekali tamu. Undangan yang berdatangan di acara resepsi pernikahan gus Arga dan ning Aqila. Semua orang terlihat bahagia, Mereka sangat menikmati acara tersebut.
Di tempat kedua mempelai duduk sambil, menyalami tamu yang datang. Keduanya terlihat sangat bahagia apalagi senyum di wajah kedua mempelai tidak pernah sirna. Sepanjang acara, begitu juga dengan abi Misbah dan umi Rika mereka terlihat sangat-sangat bahagia.
"Duduk aja ya. Kamu kelihatan capek banget." gus Arga sangat begitu perhatian terhadap ning Aqila. Sekarang keduanya sudah berada di Bandung dua hari yang lalu dan langsung melakukan resepsi pernikahan.
Ning Aqila sendiri merasakan perhatian tersebut sejak mereka sah menjadi pasangan halal.
"Iya Mas, tapi emang gak papa ya?" cicit Ning Aqila. Karena dia tidak enak pada para tamu.
"Udah gak papa ya, duduk aja." ucapnya sambil mengelus kepala Ning Aqila lembut.
Ning Aqila tersipu malu saat. Diperhatikan dengan lembut oleh gus Arga. Dari kejauhan terlihat Gus Arka bersama Dimas menghampiri kedua mempelai yang sedang bahagia itu.
"Wihh selamat ya Mas, akhirnya nikah juga."
"Kamu kapan Dim?." Entah secara kebetulan atau direncanakan atau tidak, gus Arga dan gus Arka. Melemparkan kata-kata yang sama pada Dimas.
Ning Aqila yang menyaksikan perubahan wajah dari Dimas hanya bisa menahan tawa.
"Iiihh, Mas berdua kenapa bareng gitu sih tanyanya" Kesel Dimas.
"Namanya juga kembar Dim, Pasti punya pemikiran yang sama. Saling merasakan satu sama lain."
Mereka bertiga heboh sendiri tidak sadar, Jika disebelah mereka sudah berdiri Nadira dan Gina. Yang menyaksikan perdebatan kecil antara mereka bertiga.
"Kocak juga gus kembar sama kang Dimas." tanpa Gina sadari dia berkata demikian dengan lumayan keras sehingga mereka yang ada disana bisa mendengar ucapan Gina barusan.
"Upss, malu banget dah gue." umpat Gina.
Karena sekarang ketiga orang tersebut sudah menghadap Gina. Entah kenapa Gina yang dipandang begitu mengerikan oleh Gus Arka tidak takut sama sekali. Tapi saat dia melihat Dimas tidak berani mengangkat kepalanya lagi.
Menurut Gina tatapan Dimas seperti seorang pembunuh, yang ingin membunuh mangsanya dengan cara begitu kejam.
__ADS_1
"Hubab, jangan liatin Gina kayak gitu kasian dia ketakutan." Nadira berusaha membuat suaminya agar bisa menatap Gina dengan biasa saja. Sedangkan Gus Arga tadi hanya sekilas menatap Gina. Lalu dia menatap perut Nadira, karena sudah kelihatan sedikit buncit. setelahnya dia menatap Ning Aqila.
"Tapi Gina bukan takut sama hubab deh kayaknya." gus Arka berkata dengan enteng, sambil melirik Dimas yang masih menatap Gina dengan tajam. Semua mata mengikuti Arah mata Gus Arka sedangkan Gina tetap menunduk takut.
"Dimas menormalkan mata kamu itu, bisa bikin orang langsung masuk rumah sakit kalau liat mata kamu yang kayak begitu." bisik gus Arga.
"Astaghfirullah hal-adzim"
Ternyata Dimas tidak sadar, jika dia sudah mengeluarkan tatapan yang paling mengerikan. Entah kenapa kemampuannya yang satu ini tiba-tiba muncul dengan begitu saja tanpa ia sadari.
Gus Arka dan gus Arga tau, jika Dimas memiliki tatapan seperti itu. Karena kejadian yang menimpanya. Akan tetapi tatapan itu tidak pernah muncul lagi sejak lama. Tapi hari ini, bagaimana bisa tatapan yang begitu menyeramkan itu muncul kembali.
"Maaf"
Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut Dimas. Setelahnya dia menjadi seperti orang. yang baru saja tidak ada kejadian apa papa.
"Haha" Cengo Gina.
"Awas lo Dim jodoh" entah kenapa Nadira merasa. Gina dan Dimas seperti jodoh yang sengaja dipertemukan dengan cara yang mengesankan menurutnya.
"What, gue ngomong ape barusan" Dimas bertanya pada dirinya sendiri.
"Asik, gas lah kalau gitu mah" Nadira jadi kembali menggoda Gina. Akan tetapi dia tidak niat untuk membuat Gina malau. Entah kenapa dia merasa Gina dan Dimas sangat lah cocok.
Sedangkan Gina hanya menunduk malu.
"Boleh juga sih kan gue sama Arka udah nikah. Tinggal lo aja nyusul Dim, sama Gina cocok banget kayaknya. Bener dah apa yang dibilang Nadira." ucap gus Arga mendukung ucapan Nadira barusan.
"Setuju sih" ucap gus Arka.
"Udah-udah kasian Gina nya malu tau dianya." ning Aqila sambil memegang tangan Gina.
"Malau tandanya mau."
__ADS_1
"Mas" kesel ning Aqila pada suaminya.
"Apa Sayang" Kini jadi Ning Aqila yang malu karena gus Arga memanggilnya sebutan sayang di depan banyak orang.
Suasana di tempat itu menjadi sedikit canggung. Entah kenapa tidak ada yang kembali bersuara.
"Gina" Sampai seorang lelaki paruh baya menghancurkan keheningan tersebut dengan memanggil nama Gina. Semua orang yang sedang berada disana menoleh pada sumber suara.
"Loh, bapak yang waktu itu kan?" Karena Gina belum sempat melihat siapa yang memanggilnya. Tapi Ning Aqila sudah lebih dahulu menyapa bapak tersebut.
"Iya Ning" jawabnya ramah.
"Bapak" Gina begitu senang bisa bertemu dengan bapaknya. Setelah satu tahun dia langsung mencium punggung tangan bapaknya dan memeluk begitu erat.
"Bapak gimana kabarnya"
"Alhamdulillah sehat nak, bukitnya bapak udah disini"
"Oh iya, selamat ya buat Ning Aqila dan Gus Arga. Juga buat Gus Arka dan Ning Nadira, Maaf karena waktu itu gak bisa dateng." Bapak Gina memberi selamat kepada mereka.
"Iya pak terima kasih"
"Jadi selama ini Bapak Tono. Bapaknya Gina, tapi kenapa saya baru tau?" cengo Nadira
"Jadi kalian semua kenal sama bapak?." Semua mengangguk dengan pertanyaan Gina kecuali Dimas. Karena memang dia benar-benar tidak mengenal laki-laki paru baya tersebut.
"Kok dia gak kenal bapak sih, Sedangkan Gus Arka dan Gus Arga aja kenal"
"Aduh Gina lu mikir apa sih"
"Kenapa, Nak?"
"Gak papa bapak, Ya udah ayok kita ketemu Umi sama Abi dulu."
__ADS_1
Gina dan pak Tono pun pergi menghampiri abi Misabha dan umi Rika. Sedangkan ditempat Gus Arga dan yang lain Dimas terus-terus digoda oleh kedua ustadz kembar sekali guss sahabatnya itu tanpa henti.